
( Kekaisaran Langit )
Dalam sebuah ruangan dimana terlihat beberapa sosok yang sedang melakukan perbincangan tertutup, diantaranya adalah Ma Gui Lie dan para petinggi Klan Ma.
Disamping kehilangan banyak Sumberdaya dan jutaan Batu Roh untuk membantu prajurit Kaisar Langit, Klan Ma yang merupakan bangsawan terbesar di Dunia Tiantang juga banyak kehilangan anggota.
Dengan wajah tertunduk lesu, Patriak Klan Ma mengutuk dalam hati karena cucunya Ma Gui Lie terlalu berambisi untuk mendapatkan pemilik Tubuh Abadi.
Begitupun dengan Ma Gui Lie, yang rencananya untuk menggeser posisi Kaisar Langit telah gagal, dia juga tidak bisa mendapatkan pemilik Tubuh Abadi.
Mereka semua menyadari sebuah konsekuensi jika turun ke Dunia Abadi, para Pasukan yang seharusnya sudah mencapai Pendekar Semesta kini harus menerima hukum alam dan hanya bisa mencapai Pendekar Surgawi.
Bahkan dengan bantuan Artefak yang bisa membuat seseorang Kultivator langsung menerobos dua tingkat sekalipun, nyatanya Artefak itu sama sekali tidak berfungsi.
" Sialan.... Kita sudah banyak kehilangan Sumberdaya yang sangat langka." Patriak Klan Ma menggerutu karena telah membantu Kaisar Langit.
" Kakek... Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Ma Gui Lie.
" Kita harus memulainya dari awal. Kumpulkan semua ahli Formasi, ahli Alkemis dan Ahli Penempa! Kita harus meningkatkan kekuatan semua anggota Klan Ma untuk menghadapi segala kemungkinan." Patriak Klan Ma memberi perintah.
" Baik Patriak." Jawab beberapa petinggi Klan, lalu meninggalkan tempat tersebut.
******
( Dunia Dongwu )
Setelah melakukan perjalanan selama lebih dari sebulan, Ryu dan Istrinya tidak mengalami kendala apapun meski ada beberapa Suku yang menghalangi mereka.
Tentu Ryu dan Istrinya banyak bertemu dengan anggota Suku yang lain saat melakukan perjalanan, namun tidak separah saat berhadapan dengan Suku Rubah Langit.
" Haaahh... Akhirnya kita keluar dari wilayah suku liar itu." Ryu menghela nafas lega karena sebelumnya dia dan Istrinya selalu saja melakukan pertarungan saat menginjakkan kakinya di wilayah yang baru.
" Benar... Aku rasa suku liar itu tidak ada yang tersisa. Itu salah mereka sendiri, karena telah berani mengusik ketenangan kita." Ucap Jiu Wei Hu sambil menatap ke arah depan.
" Meskipun demikian, Dunia Quzhu sekarang jauh lebih luas dan memiliki energi alam yang berlimpah berkat dari 15 Suku yang berhasil kita bunuh." Xie Xian terlihat senang karena mereka benar-benar melakukan petualangan yang menurutnya sangat menegangkan.
" Yang jelas berkat mereka, kelompok Hudie juga mengalami peningkatan yang signifikan karena banyak mendapatkan asupan darah dari mereka." Ryu terlihat senang karena peliharaannya tersebut bisa digunakan sewaktu-waktu ketika berada di Dunia Tiantang.
" Suamiku, kami juga ingin menikmati keindahan kota disana. Jadi biarkan kami ikut bersamamu." Ucap Xie Xian sambil menunjuk ke sebuah arah dimana mereka dapat merasakan bahwa ada sebuah kota.
Mendengar ucapan tersebut, Ryu hanya menghela nafas berat. Meskipun dia tidak ingin ada orang lain yang melihat keindahan dari Istrinya, namun Ryu sadar bahwa dia telah membuat Istrinya terkekang.
" Baiklah, kalian boleh ikut." Ryu mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Kota yang diikuti Xie Xian dan Istrinya yang lain.
Tidak lama kemudian, Ryu dan Istrinya yang sudah masuk ke dalam Kota, kini langsung menuju ke sebuah penginapan dimana terdapat sebuah kedai untuk mengganjal perut sekaligus mencari berbagai informasi.
" Silahkan masuk Tuan, Nona..." Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan Ryu dan Istrinya.
" Baik Tuan." Pelayan tersebut kembali ke sebuah ruangan tempat menyimpan makanan.
Ryu dan 24 Istrinya pun menuju ke meja tersebut tanpa memperdulikan beberapa sosok yang menatap ke arah mereka.
Kini banyak pasang mata tertuju pada Ryu yang membawa 24 wanita yang terlihat sangat cantik, karena mereka tidak menggunakan penutup wajah.
" Jika mereka berani macam-macam, kita bunuh saja!" Jiu Wei Hu berbisik kepada Istri Ryu yang lain karena mereka dapat merasakan bahwa ada beberapa sosok yang memperhatikan mereka.
" Biarkan saja! Tujuan kita kesini untuk mencari informasi tentang Dunia Dongwu." Ryu sambil berjalan dengan santai lalu duduk di sebuah kursi.
Tentu saja beberapa pengunjung yang berada di tempat itu begitu tertarik kepada 24 wanita tersebut karena kemolekan tubuh mereka tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
" Siapa mereka? Sepertinya mereka bukan dari Kota ini." Bisik beberapa sosok kepada rekan mereka.
" Entahlah Saudara... Lebih baik kita jangan bertindak gegabah, karena disini ada Putra dari Walikota Hunnam." Bisik rekannya sambil melirik ke arah seorang Pemuda yang tidak jauh dari mereka.
" Tuan Muda... Sepertinya para Wanita itu sangat cantik, aku yakin mereka bukan dari Kota Hunnam." Salah satu Pengawal berbisik kepada Tuannya yaitu Putra dari Walikota Loyang.
" Jangan sebut namaku Hun Son jika tidak bisa menikmati keindahan tubuh mereka." Ucap sosok pemuda yang bernama Hun Son sambil menatap ke arah 24 wanita yang sedang bersama satu sosok pemuda.
" Tuan Muda... Biar aku yang menghampiri mereka agar bisa makan bersama Tuan Muda." Pengawal yang lain mengusulkan diri untuk mendekati Ryu dan 24 Istrinya.
" Tidak perlu... Biar aku sendiri yang mendekati mereka." Hun Son beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri meja yang ditempati Ryu bersama 24 istrinya.
Tentu Hun Son tidak tahan dengan keindahan dari 24 wanita tersebut dimana air liurnya sampai menetes.
Tidak hanya Hun Son, hampir semua pengunjung yang berada di tempat itu sampai-sampai meneteskan air liur, karena tidak pernah bertemu dengan 24 wanita yang kecantikannya tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata.
Namun mereka hanya mengurungkan niat, karena di tempat itu juga ada putra Walikota.
" Nona manis.... Bolehkah aku duduk bersama kalian? " Hun Son yang tanpa mendapat persetujuan langsung duduk di samping Xie Xian dan Jiu Wei Hu.
Melihat kejadian itu, Ryu mengisyaratkan kepada Istrinya agar tidak bertindak, karena wilayah tersebut merupakan wilayah Kekaisaran Harimau Awan.
Dengan kata lain Kekaisaran Harimau Awan adalah milik Chaizu yang merupakan Hewan Kontrak milik Ryu sebelumnya.
Meskipun sebagai Hewan Kontrak, Ryu selalu menganggap Chaizu sebagai rekannya.
" Saudara... Bisakah kamu pergi dari sini? Kami sedang makan, jadi jangan diganggu." Ryu memasang wajah datar sambil menikmati hidangan yang disajikan.
" Siapa kamu? Aku tidak bicara denganmu." Hun Son menatap tajam ke arah Ryu.
" Waaahhh... Malang sekali nasib Pemuda itu begitu berani menyinggung Putra Walikota." Beberapa sosok sangat menyayangkan sikap Ryu yang berani menyinggung Putra Walikota.
" Benar Saudara... Sepertinya Pemuda itu orang baru disini, jadi dia tidak tau bagaimana sikap arogan tuan muda Hun Son." Yang lain ikut menimpal.