
Liu Ryu berjalan mendekati tanah yang tidak terkena imbas pertarungan, hingga tatapannya tertuju pada sebuah dinding batu besar.
" Sepertinya ini adalah ruang bawah tanah yang dilindungi sebuah sihir." Ucap Liu Ryu, sambil menoleh ke arah ketiga Istrinya.
Ketiga wanita itupun mengangguk pelan, berjalan mendekati dinding batu.
Buussshh!
Ketiga wanita itu menggabungkan kemampuan sihir mereka, lalu mengarahkan kepada dinding batu.
Seketika dinding batu mulai bergeser, hingga terlihat sebuah ruangan yang cukup luas, dengan dihiasi bola kristal yang menerangi ruangan tersebut.
Tanpa membuang waktu, Liu Ryu dan ketiga Istrinya masuk ke dalam ruangan yang memanjang, hingga tatapan mereka tertuju pada lima bua benda yang ukurannya sama.
Dari kelima benda tersebut di bagian tengahnya berwarna hitam, sisi kiri berwarna hijau, sisi kanan berwarna biru, bagian depan berwarna kuning dan bagian belakang berwarna merah coklat.
Dari keempat Inti Sel lainnya, seakan mengapit Inti Sel yang berwarna hitam, seakan berjejer rapi.
Tanpa membuang waktu, Liu Ryu mengambil kelima Inti Sel tersebut, lalu menyimpannya di Cincin pemulihan.
" Suamiku, apa kita berhenti sejenak untuk meningkatkan Kultivasi?" Tanya Liu Yunxia, karena dia merasa kemampuannya masih belum cukup.
" Baiklah. Kalau begitu kita kembali ke Dunia Quzhu." Jawab Liu Ryu, lalu membawa ketiga Istrinya menuju ke sebuah tanah lapang di Dunia Quzhu.
Satu-persatu Istri Liu Ryu mengeluarkan Inti Roh yang mereka dapatkan sebelumnya, lalu duduk bersila untuk menyerap energi dari Inti Roh yang mereka dapatkan.
" Setelah menyerap Inti Roh yang kalian dapatkan, kalian bisa menyerap Inti Roh dari raja siluman kera ini." Ucap Liu Ryu, sambil mengeluarkan Inti Roh seukuran bukit kecil.
Ketiga wanita itupun mengangguk kecil, lalu memejamkan mata untuk Berkultivasi. Sementara Liu Ryu sendiri harus melanjutkan perjalanan, karena dia ingin mengumpulkan Inti Sel sebanyak 12 buah.
Selama dalam perjalanan, Liu Ryu mulai merasakan bahwa aura kematian yang berwarna merah keunguan semakin kuat.
Bahkan beberapa hewan buas yang Liu Ryu temui juga semakin liar dan agresif, sehingga Liu Ryu harus membunuh mereka agar tidak menggangu manusia.
" Hewan buas ini semakin kuat." Gumam Liu Ryu, sambil menatap ke arah seekor kucing hutan yang memiliki ukuran besar.
Kucing hutan yang berukuran dua meter, kini matanya juga sudah berwarna merah darah, sambil memakan hewan buas yang lain.
" Ini benar-benar sebuah bencana bagi para manusia." Gumam Liu Ryu.
Menyadari kehadiran Liu Ryu, kucing hutan itupun menghentikan aksinya, lalu menoleh ke arah Liu Ryu.
Gggrrrrrrr!
Kucing hutan itupun meningkatkan kewaspadaan, karena instingnya mengatakan bahwa sosok tersebut sangat kuat.
Rrraawr!
Meskipun mengetahui bahwa Liu Ryu sangat kuat, kucing hutan langsung melompat dan menerkam ke arah Liu Ryu, karena efek negatif aura kematian membuatnya kehilangan akal.
Wuush!
Liu Ryu mengibaskan tangannya membuat kucing hutan langsung berpindah tempat ke Dunia Quzhu.
" Aku harus membersihkan hutan ini secepat mungkin." Gumam Liu Ryu, lalu melesat ke berbagai arah untuk menarik semua hewan buas yang dia lewati agar tinggal di Dunia Quzhu.
Selama dalam perjalanan, Liu Ryu terus membawa semua hewan buas ke Dunia Quzhu, agar tidak menggangu permukiman warga.
Selama berhari-hari Liu Ryu terus memburu semua hewan buas, dari berbagai tempat yang dia lewati.
Setelah melakukan perjalanan sangat jauh, kini Liu Ryu mendengar sebuah teriakan dari arah pemukiman warga yang berada di depannya.
" Panah." Sosok itupun kembali memberi perintah kepada para petarung dan penyihir yang menjaga pemukiman warga itu.
Liu Ryu yang baru saja muncul, kini menatap ke arah makhluk yang sedang menghancurkan tembok pertahanan pemukiman warga.
" Makhluk apa ini?" Gumam Liu Ryu, sambil menatap ke arah hewan air yang seperti belut.
Namun belut tersebut sudah bermutasi, sehingga memiliki kaki belakang seperti katak dan kedua tangannya membentuk tangan manusia, namun memiliki sirip memanjang di kedua tangannya sambil memegang sebuah tombak yang dia ambil dari para petarung yang dia bunuh.
" Apa-apaan ini?" Liu Ryu memasang wajah serius, saat melihat belut itu merentangkan kedua tangannya ke atas langit.
Duaarr! Duaarr! Duaarr!
Seketika awan gelap berkumpul di atas pemukiman warga, diikuti sambaran petir yang bersarang pada beberapa warga biasa.
Aarrgggh!
Aarrgggh!
Aarrgggh!
Beberapa warga yang terkena sambaran petir, kini berteriak keras, hingga dalam beberapa detik langsung kehilangan nyawa dengan kondisi tubuh mengering.
Melihat kejadian tersebut, Liu Ryu langsung melesat ke arah belut tersebut, lalu mengeluarkan Pedang Naga Petir miliknya.
Craaakk!
Sebuah tebasan bersarang pada tubuh belut tersebut hingga terpotong menjadi dua bagian.
Melihat aksi dari Liu Ryu, seketika para petarung membuka matanya lebar-lebar, seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, hingga suasana menjadi hening.
Liu Ryu sedikit menaikkan alisnya saat melihat sebuah batu kristal berbentuk persegi lima berwarna merah darah keluar dari tubuh belut tersebut.
" Permata darah?" Gumam Liu Ryu, sambil menatap ke arah benda seukuran kelereng yang melayang di udara.
Permata darah itu sendiri tercipta dari aura kematian yang diserap oleh hewan buas atau hewan air yang membuatnya bisa memiliki kekuatan besar.
Ketika makhluk hidup yang memiliki permata darah membunuh makhluk hidup yang juga memiliki permata darah, maka permata darah dari makhluk yang dia bunuh akan diserap ke dalam permata darah miliknya.
Karena itulah hewan buas atau hewan air saling membunuh satu sama lain untuk menambah kekuatanya.
Melihat para petarung yang lain masih terlihat ketakutan, pemimpin penjaga berinisiatif untuk mendatangi Liu Ryu, meskipun dia juga sedikit ketakutan.
" Terimakasih atas bantuan master, karena telah membantu kami." Ucap pemimpin penjaga, sambil menundukkan kepala.
" Mmmmm... Berapa lama kota ini diserang oleh hewan buas?" Tanya Liu Ryu, sambil menoleh ke arah Pemimpin penjaga.
" Master... Ini adalah serangan ketiga kalinya oleh hewan buas. Mereka keluar dari dalam sungai disana." Pemimpin penjaga menunjuk ke arah bantaran sungai yang tidak jauh dari kota.
Sungai itu terlihat cukup besar, sehingga pemimpin penjaga menjelaskan bahwa mereka bergantung pada sungai tersebut sebagai tempat pemandian umum bahkan sebagai air minum.
Namun selama satu minggu, mereka tidak berani turun ke sungai, karena sudah banyak warga yang menghilang tanpa jejak saat pergi ke sungai.
" Apa belut itu tadi keluar dari sungai itu?" Tanya Liu Ryu.
" Benar master." Jawab pemimpin penjaga.
Mendengar ucapan tersebut, Liu Ryu mengangkat mayat belut raksasa sebelumnya, lalu menaruhnya di pinggir sungai, sehingga darahnya mengalir ke air sungai.
Melihat apa yang dilakukan oleh Liu Ryu, semua para petarung terlihat ketakutan karena sosok itu sedang memancing hewan laut keluar dari sungai.