SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 409. Sihir Ilusi


Liu Ryu langsung melepaskan Aura Dewa Agung agar para wanita itu menjauh darinya, begitupun dengan putri Jackson.


Sesaat Dewi Arinia tersadar sambil melihat sekeliling mereka, dimana terdapat ratusan para wanita tanpa busana seakan ingin menyergap suaminya.


" Aku butuh bantuanmu untuk mematahkan Ilusi pada para wanita ini." Ucap Liu Ryu, lalu mengirimkan Informasi di pikiran Dewi Arinia.


Tanpa berkata apapun, Dewi Arinia menyerap informasi tersebut, dimana Liu Ryu menunggunya di luar goa.


Dari perkiraan Liu Ryu, sudah banyak para wanita yang mati saat bersetubuh dengan Apollo dan 11 saudaranya.


Sedangkan para wanita yang tersisa, mereka culik dari berbagai tempat di seluruh wilayah Negara Westland.


Sambil menunggu Dewi Arinia mempelajari teknik untuk mematahkan Ilusi, Liu Ryu berjalan mendekati mayat Apollo dan saudaranya.


Liu Ryu memeriksa sesuatu yang berharga di tubuh mereka, hingga berhasil menemukan beberapa benda yang berada.


Salah satu yang Liu Ryu temukan di tubuh Apollo, yaitu sebuah gulungan peta daratan Efhoria.


Liu Ryu memasukkan mayat mereka ke Dunia Quzhu, lalu berjalan keluar dari mulut goa, sambil menatap ke arah goa yang lain yang bersebelahan dengan tempat tinggal Apollo dan saudaranya.


" Sepertinya goa ini sudah dipasang sihir ilusi." Liu Ryu merasa ragu untuk memasuki goa itu, karena sihir ilusi tersebut bertitik pusat pada penggunanya.


Dengan kata lain Liu Ryu harus membunuh orang yang menciptakan sihir ilusi, agar bisa hilang.


Sambil menunggu Dewi Arinia membawa para tawanan, Liu Ryu membuka gulungan peta lalu memeriksanya.


" Tidak menyangka daratan ini sangat luas. Pantas saja mereka hanya bisa menggunakan portal teleportasi." Liu Ryu menggelengkan kepala karena untuk menuju kota pelabuhan, membutuhkan waktu yang sangat lama, meskipun harus terbang dengan kecepatan tinggi.


Di samping itu juga banyak tempat yang sangat berbahaya, dimana salah satunya adalah kerajaan-kerajaan Siluman yang lain.


Dari peta yang ditunjukkan, wilayah populasi kediaman manusia, kurang dari 10%, sedangkan sisanya hanyalah hutan belantara yang tidak berani disentuh oleh manusia.


" Mungkin selama dalam perjalanan nantinya, aku harus melewati tempat-tempat ini. Mungkin saja aku bisa menemukan sesuatu yang berharga untuk memulihkan Qi dan perkembangan kedua Istriku." Liu Ryu tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menyusuri berbagai tempat di daratan Efhoria.


Terlebih Liu Ryu harus mencari keberadaan Altar Kuno, agar bisa kembali ke Dunia Tiantang.


Sesaat tatapan mata Liu Ryu tertuju pada sebuah titik yang menunjukkan tempat gunung tertinggi di daratan itu, sehingga terjadi sebuah senyuman mengembang dari wajahnya.


" Sepertinya di gunung ini, aku bisa berkomunikasi dengan Dewa Ashura." Gumam Liu Ryu, lalu menyimpan kembali peta tersebut.


Tidak lama kemudian, Dewi Arinia sudah keluar dari dalam goa sambil membawa para tawanan.


Dari raut wajah para wanita itu, tidak ada kebahagiaan sedikitpun karena hidup mereka sudah kotor seperti wanita penghibur di Istana Bordil.


Bahkan wanita berambut cokelat yang merupakan bagian administrasi Serikat Petarung juga tertunduk lesu karena kesuciannya sudah direnggut oleh Apollo dan saudaranya.


Yang merasa beruntung diantara mereka hanya Dewi Arinia dan putri Jackson, dimana mereka tidak sempat disentuh oleh Apollo dan saudaranya.


" Suamiku." Dewi Arinia langsung berjalan mendekati Liu Ryu.


" Salam Master." Para wanita yang lain memberi hormat kepada Liu Ryu.


Wanita berambut cokelat memperkirakan bahwa banyak sekali para tawanan yang berada di dalam goa, mengingat goa yang mereka masuki sebelumnya sangat luas layaknya sebuah Istana.


Hal itu memang wajar, karena goa tempat tinggal Apollo dan saudaranya bisa menampung ratusan manusia dan terdapat beberapa ruangan.


" Suamiku, tolong bantu mereka. Para wanita Iblis itu tidak bisa dibiarkan untuk hidup." Dewi Arinia juga meminta kepada Liu Ryu agar membunuh Beatrix dan saudarinya juga membebaskan para tawanan.


Jika Beatrix dan saudarinya masih hidup, maka jumlah korban akan terus bertambah, yang bisa membuat kehidupan manusia terancam punah.


Mendengar permintaan dari Istrinya, Liu Ryu menarik napas dalam-dalam, karena dia sendiri merasa ragu untuk masuk ke dalam goa yang dipenuhi sihir ilusi.


Jika saja sebelumnya dia sempat membunuh 24 wanita itu, saat berada di depan mulut goa, maka dia dengan mudah untuk mengalahkan mereka.


" Baiklah, aku akan mencoba menyelamatkan mereka. Tapi sebaiknya kalian kembali ke Ibukota." Liu Ryu meminta kepada Dewi Arinia untuk menjauhi tempat itu, karena bisa saja mereka akan menjadi korban.


Memahami dirinya tidak sekuat suaminya, Dewi Arinia mengangguk pelan meskipun dia sangat menginginkan selalu berada di samping Liu Ryu.


" Baiklah... Aku akan membawa mereka kembali ke Ibukota." Ucap Dewi Arinia, lalu mencium bibir Liu Ryu.


Mereka pun bergegas dari tempat itu, menuju ke Ibukota. Sedangkan Liu Ryu langsung berdiri di depan mulut goa.


" Jika kalian berani melakukan sesuatu kepadaku, maka aku tidak segan menyiksa kalian." Ucap Liu Ryu, lalu masuk ke dalam goa.


Buussshh!


Saat beberapa langkah masuk ke dalam goa, Liu Ryu merasakan gejolak yang sangat kuat di tubuhnya.


" Sihir ilusi itu membangkitkan gairah? Dan..." Liu Ryu memasang wajah jelek karena aroma wangi dari dalam goa mengingatkan dirinya saat masuk ke dalam Istana Bordil.


Meskipun Liu Ryu masih mampu menahan pengaruh sihir ilusi, namun efek dari aroma wangi tersebut bisa merusak meridiannya.


" Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Aku akan membuat kalian mati dalam keadaan tersenyum." Liu Ryu seringai lebar, lalu menarik napas dalam-dalam untuk memasukkan sihir ilusi ke dalam tubuhnya.


Tanpa membuang waktu, Liu Ryu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke bagian terdalam goa.


Di sisi lain Beatrix dan saudarinya tersenyum lebar karena Liu Ryu sudah terkena perangkap mereka.


" Kakak, pemuda itu sudah terkena gabungan sihir ilusi milik kita." Salah satu dari wanita itu melompat kegirangan, karena target mereka kali ini memiliki kekuatan besar.


Jika mereka bersetubuh dengannya, maka kekuatan mereka semakin berlipat ganda.


Karena itulah Beatrix dan saudarinya tidak berani keluar dari dalam goa, karena dapat dipastikan mereka akan dibunuh dengan mudah.


" Singkirkan para pria tidak berguna itu! Aku tidak ingin ada pria lain, selain pemuda itu." Beatrix memberi perintah kepada saudarinya yang lain untuk membawa para tawanan ke ruangan yang lain.


Dengan sebuah anggukan, beberapa dari saudarinya menatap ke arah ratusan pria, hingga para pria itu berjalan menuju ruangan yang lain.


Tidak lama kemudian, Liu Ryu muncul di hadapan mereka, dimana dia berusaha untuk menahan dampak sihir ilusi yang semakin lama semakin kuat.


Beatrix dan saudarinya juga tersenyum lebar, lalu berjalan mendekati Liu Ryu dan membawanya ke sebuah tempat tidur yang cukup besar.