
Kedua makhluk raksasa itupun terlihat panik karena siluet pedang raksasa yang diciptakan oleh Liu Ryu memiliki aura Intimidasi yang sangat kuat.
" Tidak ada cara lain. Kita harus melawannya." Ucap dewa hewan buas, lalu menceritakan pelindung sihir mengelilingi tubuhnya.
Begitupun dengan dewi hewan buas, juga langsung mengeluarkan pelindung sihir, lalu menatap ke arah siluet pedang raksasa yang mengarah kepada mereka.
" Pelindung Sihir."
Kedua makhluk raksasa menciptakan pelindung di depan mereka, hingga berbentuk perisai energi hingga empat lapisan pertahanan.
Bboooom!
Bboooom!
Bboooom!
Tebasan dari Pedang Naga Petir, membuat keempat perisai energi yang berada di depan dewa dan dewi hewan buas hancur berkeping-keping.
Wuush! Wuush!
Kedua makhluk raksasa itupun melompat untuk menjauhi serangan dari Liu Ryu, saat perisai energi yang keempat mengalami retakan.
Di sisi lain, Dewi Arinia dan Elena yang sudah menyelesaikan pertarungannya, kini langsung menciptakan pelindung sihir ke arah pertarungan, agar kota kecil itu tidak terkena imbas serangan.
Meskipun pelindung yang diciptakan oleh kedua wanita itu tidak terlalu kuat, namun masih mampu meminimalisir dampak kerusakan di kota.
" Tuan putri, apa yang terjadi?" Tanya pemimpin penjaga gerbang, karena mereka tidak bisa melihat pertarungan antara Liu Ryu dan kedua makhluk raksasa.
Meskipun demikian, semua warga yang berada di kota itu merasakan getaran gempa sampai di tempat itu, sehingga membuat mereka sangat panik.
" Kalian tidak perlu khawatir. Suami kami masih mampu mengalahkan kedua makhluk raksasa itu." Ucap Dewi Arinia, untuk meyakinkan para warga.
" Makhluk raksasa?" Semua yang mendengarnya langsung berkeringat dingin, membayangkan jika mereka berhadapan dengan sosok yang dikatakan Dewi Arinia.
Sesaat walikota berjalan mendekati Dewi Arinia dan Elena yang sedang berada di atas pintu gerbang.
" Tuan putri." Walikota menundukkan kepala, lalu meminta izin kepada Dewi Arinia dan Elena, agar para warga bisa mengambil mayat hewan buas sebagai makanan mereka.
Hal itu disebabkan karena walikota tidak mampu memenuhi kebutuhan para warga yang selama ini tidak berani keluar dari tembok pertahanan, karena takut diserang oleh hewan buas.
" Kalian boleh ambil semua hewan buas itu. Kami tidak memerlukan hewan buas itu." Dewi Arinia mengangguk pelan.
Mendapatkan persetujuan dari kedua wanita itu, walikota terlihat senang, lalu meminta kepada penjaga gerbang untuk membuka pintu.
" Kalian semua, ambil semua hewan buas untuk kebutuhan kita selama beberapa bulan." Pemimpin penjaga gerbang juga memberi perintah kepada bawahannya untuk mambantu para warga.
" Baik pemimpin." Jawab mereka serempak, lalu berjalan keluar dari pintu gerbang.
Meskipun terlihat takut bisa terkena imbas pertarungan antara Liu Ryu dan kedua makhluk raksasa, namun para penjaga gerbang dan para warga tidak punya pilihan lain, untuk menyambung hidup mereka.
Namun Dewi Arinia dan Elena masih tetap waspada, agar tidak ada imbas serangan menyasar ke arah para warga.
Di sisi lain Liu Ryu yang sedang bertarung melawan dua makhluk raksasa, kini berusaha membawa kedua lawannya untuk menjauhi kota.
Liu Ryu mengeluarkan bola Kehampaan di kedua telapak tangannya, lalu melemparnya ke arah kedua makhluk raksasa, agar mereka bisa melompat ke arah yang lebih jauh lagi dari pemukiman warga.
Wuush! Wuush!
Kedua bola Kehampaan melesat cepat ke arah kedua makhluk raksasa yang berada di depan Liu Ryu.
" Siala... Ternyata dia hanya memancing kita agar menjauhi pemukiman warga." Dewi hewan buas menggerutu dalam hati, karena Liu Ryu tidak memberi celah agar mereka bisa menyerang para warga biasa.
Wuush! Wuush!
Dengan terpaksa kedua makhluk raksasa kembali menjauh dari arah serangan.
Bboooom! Bboooom!
Kedua bola Kehampaan bersarang di tanah kosong, dimana kedua makhluk raksasa semakin menjauhi wilayah kota.
Merasa kedua makhluk raksasa itu sudah berada di tempat yang sangat jauh dari kota, Liu Ryu kembali menyalurkan Qi lebih banyak lagi dari sebelumnya pada Pedang Naga Petir.
Wuush! Wuush!
Liu Ryu mengayunkan pedangnya, hingga mengeluarkan siluet pedang raksasa ke arah kedua makhluk raksasa.
" Gunakan sihir pelindung."
Buussshh!
Buussshh!
Buussshh!
Dewa dan dewi hewan buas langsung menggabungkan kekuatan untuk menciptakan perisai sihir di depan mereka hingga tiga lapis.
Traaang! Traaang! Traaang!
Ketiga perisai sihir langsung pecah, dimana siluet pedang raksasa terus melesat ke arah kedua makhluk raksasa.
" Gawat! Kita tidak bisa menghindar lagi." Dewa dan dewi hewan buas yang merasa sudah kelelahan, kini tidak bisa berbuat apa-apa, sambil menatap ke arah serangan dari Liu Ryu.
Slaaash! Slaaash!
Kedua makhluk raksasa terpotong dengan sempurna, saat mereka mencoba untuk membalikkan tubuh besarnya, sehingga saat tubuh dan kedua kepala itu jatuh ke tanah, menimbulkan getaran gempa.
Meskipun perisai sihir yang kedua makhluk raksasa itu ciptaan bisa dihancurkan, namun efek benturan hampir mencapai kota.
" Beruntung Istriku sudah menyiapkannya." Gumam Liu Ryu dimana benturan energi tersebut bisa dihalangi oleh perisai sihir yang diciptakan oleh Dewi Arinia dan Elena.
Wuush!
Shen Long melesat cepat arah kedua mayat raksasa itu, lalu menyimpannya di Dunia Quzhu.
" Sepertinya mayat kedua makhluk raksasa itu sangat cocok digunakan untuk hidangan." Gumam Liu Ryu, lalu kembali ke kota sebelumnya.
Di dalam kota kecil itu, terlihat para penjaga gerbang dan para warga sedang sibuk mengumpulkan mayat hewan buas yang berada di sekitar tembok pertahanan.
Tentu jumlah mayat hewan buas itu tidak sebanding dengan jumlah hewan buas yang Liu Ryu tarik ke Dunia Quzhu.
" Master." Pemimpin penjaga gerbang menyambut kedatangan Liu Ryu yang sedang berjalan mendekati pintu gerbang.
Begitupun Dewi Arinia dan Elena, juga langsung melesat ke arah Liu Ryu.
" Mmmm... Penjaga, apa kami sudah bisa menggunakan goa bawah tanah itu?" Tanya Liu Ryu, karena dia tidak ingin terlalu lama.
Pemimpin penjaga gerbang itupun terdiam sejenak, lalu berjalan menuju ke arah walikota.
Walikota itu menoleh ke arah Liu Ryu, lalu berjalan mendekati Liu Ryu dan kedua Istrinya.
" Salam Master." Walikota itupun memberi hormat kepada Liu Ryu.
" Tuan walikota, apa kami bisa menggunakan goa bawah tanah itu?" Tanya Liu Ryu.
Walikota itupun menghela nafas berat, lalu memberikan sebuah bola kristal yang merupakan kunci dari goa bawah tanah.
" Master... Apa kalian yakin menggunakan goa bawah tanah?" Walikota kembali bertanya, karena tempat itu terlalu berbahaya.
" Apa ini belum cukup untuk mewakili kemampuan kami?" Tanya Liu Ryu, sambil mengeluarkan kedua kepala makhluk raksasa yang dia bunuh sebelumnya.
Melihat ukuran besar dari kedua kepala makhluk raksasa yang melebihi ukuran rumah, semua yang menyaksikan langsung menelan ludah kasar.
Keringat dingin juga bercucuran di wajah mereka, karena pemandangan di depan mereka sudah diluar nalar.
Pada akhirnya walikota itupun mengangguk setuju, lalu meminta kepada salah satu pengawal untuk mengantar mereka ke goa bawah tanah.