
Tentu pria paruh baya itu sudah mengetahui bagaimana kuatnya pemuda itu, sehingga dia berpikir jika Elena bersamanya, maka kehidupan putrinya akan terjamin.
Jika saja pria paruh baya mengetahui usia Liu Ryu sebenarnya, maka dia tidak akan bersikap seperti itu.
Meskipun Liu Ryu tetap menolak, namun Elena tetap bersikeras, sehingga pada akhirnya Liu Ryu mulai menyerah dan mengikuti keinginan wanita itu.
" Baiklah, aku tidak bisa menolaknya lagi." Liu Ryu hanya bersikap pasrah, karena bagaimanapun wanita itulah yang menolongnya ketika dia sedang tidak sadarkan diri.
Pria paruh baya itupun membawa Liu Ryu dan Elena ke sebuah bangunan yang merupakan tempat melangsungkan pernikahan mereka.
Dengan adanya beberapa saksi, pernikahan itupun berjalan dengan lancar, meskipun sangat sederhana dan mendesak.
Setelah melakukan ikrar sumpah setia, Liu Ryu dan Elena berpamitan kepada Pria paruh baya untuk melanjutkan perjalanan.
*******
Di depan pintu gerbang Serikat Petarung, kini terlihat beberapa sosok yang menggunakan pakaian perang lengkap dengan senjata.
Beberapa sosok itu adalah Petarung kelas D yang bekerja untuk keluarga Lockhart sebagai pengawal atau bodyguard keluarga Lockhart.
Jumlah mereka terbilang cukup banyak karena jumlahnya mencapai 50 orang bersenjata lengkap dengan menggunakan kuda masing-masing.
Di barisan belakang pasukan berkuda juga terdapat sebuah kereta yang dihiasi berbagai ukiran yang menandakan bahwa sosok di dalamnya adalah salah satu keluarga Lockhart.
Gadis yang berada di dalam kereta kuda terlihat kesal karena Petarung yang mereka sewa belum juga muncul.
" Celine, kapan kita berangkat?" Tanya Nina Lockhart kepada pemimpin pasukan yang mengawal perjalanannya.
" Tunggu sebentar tuan putri! Mungkin saja pemuda itu sedang dalam perjalanan kesini." Jawab Celine yang merupakan pengawal kepercayaan Nina Lockhart.
Setelah beberapa lama, kini Liu Ryu dan Elena datang ke tempat itu dengan menggunakan seekor kuda.
Melihat kedatangan Liu Ryu dan Elena, semua mata tertuju kepada mereka, karena terlihat keduanya seperti sepasang kekasih.
Terlebih di lengan kiri Elena terlihat sebuah gelang yang menandakan bahwa dia sudah menikah, sehingga cukup mewakili bahwa keduanya adalah sepasang suami istri.
" Jadi kamu Petarung kelas B itu?" Nina Lockhart yang tiba-tiba keluar dari kereta kuda, menunjuk ke arah Liu Ryu yang berada di atas kuda.
Sedangkan 50 Petarung kelas D yang lain tidak berani menatap wajah Liu Ryu, karena tatapan sosok tersebut sangat mengintimidasi.
Bahkan Celine sendiri tidak berani bertatap muka dengan Liu Ryu, karena dia sudah mendengar kabar bahwa sosok tersebut dengan mudah mengalahkan gerombolan hewan buas yang tidak terhitung jumlahnya.
" Maaf, kami sedikit ada kendala." Elena yang duduk di belakang Liu Ryu memberi hormat, karena keluarga Lockhart tidak bisa dianggap enteng.
" Ciiih..." Nina Lockhart membuang muka, lalu kembali ke dalam kereta kuda.
" Maafkan sifat kekanakan tuan putri ini, master." Celine menundukkan kepala, karena dia tidak ingin berurusan dengan Liu Ryu, meskipun dia adalah pemimpin pasukan tersebut.
" Tidak masalah, lebih baik kita lanjutkan perjalanan." Liu Ryu tidak ingin mengambil hati, karena gadis itu dan bawahannya hanya seperti kelompok semut baginya.
Terlebih Liu Ryu hanya membutuhkan petunjuk jalan saja, sehingga dia masih membutuhkan rombongan tersebut.
Tanpa membuang waktu, Celine langsung memimpin rombongan menuju ke kota Ludya, dimana harus menempuh jarak yang cukup lama.
Bahkan tidak jarang rombongan itu bisa bertemu dengan sekelompok hewan buas atau sekelompok bandit.
Selama dalam perjalanan, Elena selalu menempel pada Liu Ryu, karena sosok itu sudah resmi menjadi suaminya.
" Suami, jadi di dunia tempatmu tidak ada yang namanya sihir atau petarung?" Saat mendengar keterangan dari Liu Ryu, Elena terlihat antusias untuk mempelajari cara Berkultivasi.
" Mungkin namanya saja yang berbeda, tapi tujuannya sama." Jawab Liu Ryu, karena dia juga sedikit memahami apa yang dimaksud dengan sihir atau petarung.
Untuk meningkatkan kualitas fisik Elena, Liu Ryu meminta kepada wanita itu agar menyerap Pil Pelangi terlebih dulu sambil mencari Sumberdaya yang cocok untuk perkembangannya.
Saat berada di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah angin kencang memporak porandakan barisan pasukan, yang membuat Celine yang memimpin rombongan terlihat panik.
" Berlindung!" Celine memberi perintah kepada bawahannya.
Di sisi lain Liu Ryu dan Elena tidak terjadi apapun, karena Liu Ryu melindungi diri mereka dengan sedikit Qi miliknya.
" Gawat, Ini sangat gawat." Celine berkeringat dingin, karena wilayah yang mereka lalui adalah tempat kekuasaan Dewa Gunung.
" Komandan Celine, apa yang terjadi?" Tanya Liu Ryu, saat melihat semua pasukan terlihat pucat.
" Master, sepertinya Dewa Gunung sangat marah. Jadi dialah yang menciptakan angin kencang ini." Jawab Celine yang terlihat panik karena kuda mereka tidak mau melangkah, seakan memiliki ketakutan tersendiri.
" Dewa Gunung?" Liu Ryu sedikit menaikkan alisnya.
" Komandan Celine, tunjukkan dimana tempat tinggal Dewa Gunung itu!" Liu Ryu sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Celine.
" Master, ini sudah diluar kemampuan kita. Lebih baik kita menunggu sampai angin ini mereda." Celine tidak ingin mengambil resiko, karena Dewa Gunung memiliki kekuatan sangat besar.
Namun Liu Ryu masih bersikeras untuk melihat bagaimana bentuk Dewa Gunung yang mereka maksud, sehingga dia meminta kepada Celine untuk menunjukkan arahnya.
Melihat Liu Ryu yang begitu penasaran, pada akhirnya komandan Celine menunjuk ke sebuah arah dimana terlihat sebuah gunung yang menjulang tinggi.
" Suami, apa kamu akan kesana?" Tanya Elena yang begitu khawatir dengan keselamatan Liu Ryu.
" Kalian tunggu disini saja! Sepertinya aku harus bicara dengan Dewa Gunung itu." Jawab Liu Ryu, lalu turun dari kudanya menuju ke arah yang ditunjukkan.
Semua hanya menatap kepergian Liu Ryu, karena untuk melawan angin kencang saja mereka tidak mampu.
Di sisi lain Liu Ryu yang sudah berada di bawah kaki gunung, kini merasakan ada getaran gempa yang menyambut kedatangannya.
" Manusia... Kemarilah!" Terdengar suara dari arah puncak gunung.
Dengan kemampuannya yang sekarang, Liu Ryu langsung melesat ke arah puncak gunung, hingga tatapannya tertuju pada bongkahan batu besar yang memiliki wujud seperti manusia raksasa.
" Manusia, apakah kamu adalah tumbal yang dikirim oleh mereka?" Tanya makhluk raksasa itu, sambil menatap ke arah Liu Ryu.
" Oh... Jadi kamu yang dikatakan Dewa Gunung itu?" Tanya Liu Ryu, sambil mengeluarkan Pedang Naga Petir miliknya.
" Apa kamu ingin melawan Dewa? Bagiku, kalian para manusia hanyalah seekor semut." Dewa Gunung menatap ke arah Liu Ryu yang berani menantangnya.
" Kamu sungguh tidak layak menjadi seorang Dewa."
Wuush!
Bersamaan dengan ucapannya, Liu Ryu melesat ke arah Dewa Gunung dengan kecepatan tinggi, sambil mengayunkan pedangnya.
Traaang! Traaang! Traaang!
Benturan keras dari Pedang Naga Petir bersarang pada tubuh Dewa Gunung yang tercipta dari bongkahan batu, menciptakan percikan api kecil.