SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Posesif


Kini Patriak dan para Tetua Sekte Gerbang Hitam bertanya-tanya siapa sosok tersebut yang memiliki elemen lain yang tidak berasal dari Dunia Yuzhou.


Sesaat salah satu Tetua teringat ada sepuluh sosok yang sedang mereka tawan di penjara bawah tanah Sekte Gerbang Hitam.


" Patriak, ternyata sepuluh orang itu adalah bawahan dari Pemuda itu." Tetua tersebut tidak menyangka bahwa mereka telah menyinggung orang yang tidak boleh disinggung.


" Sialan... Kita tidak mungkin meninggalkan tempat ini, salah sedikit Sekte kita akan rata dengan tanah." Patriak Sekte Gerbang Hitam terlihat frustasi karena semua bawahannya sudah banyak mengeluarkan tenaga.


Di sisi lain Ryu tersenyum lebar karena sepuluh bawahannya sudah meloloskan diri dan masih berlindung di penjara bawah tanah sambil menunggu instruksi selanjutnya.


Wuush!


Bola raksasa melesat cepat ke arah pedang raksasa, lalu menyelimuti pedang raksasa tersebut dengan lembut, namun memiliki kekuatan besar.


Kraaack!


Pelindung tersebut mulai banyak mengalami retakan, membuat Patriak dan para Tetua Sekte Gerbang Hitam memasang wajah memerah padam.


" Gunakan kekuatan penuh." Teriak Patriak Sekte Gerbang Hitam, karena dia yakin tidak lama lagi pelindung tersebut akan hancur.


" Baik." Jawab semua anggota Sekte Gerbang Hitam yang kini berjumlah ribuan.


Kini Ryu dan Istrinya 70 Peri cahaya juga menggunakan kekuatan spiritual untuk mengendalikan pedang raksasa tersebut yang diselimuti enam elemen sekaligus.


' Getaran Cinta Pertama.'


Xie Xian dan Istri Ryu yang lain juga melepaskan kelopak bunga teratai hingga menempel pada pedang raksasa.


Kraaack! Kraaack! Kraaack!


Pelindung tersebut seakan tidak mampu lagi menahan tekanan dari pedang raksasa.


Tentu untuk menggabungkan ketiga teknik tersebut harus memiliki kontrol yang tinggi. Jika tidak, maka gabungan teknik Pedang Cahaya, Malapetaka dan Getaran Cinta Pertama akan berbenturan.


Juga harus memiliki emosi yang saling berhubungan agar tidak menyerang balik kepada pemilik teknik.


" Gawat." Gumam Patriak Sekte Gerbang Hitam yang kini terlihat memasang wajah gelap.


Kraaack!


Pedang raksasa menembus pelindung Sekte Gerbang Hitam, lalu melesat ke arah bawah.


" Lari!"


" Gunakan Gerbang pelindung!"


Teriak Patriak dan para Tetua Sekte Gerbang Hitam yang kini langsung menggunakan pelindung terkuat mereka.


Namun beberapa anggota Sekte Gerbang Hitam yang tidak sempat lari ataupun menggunakan pelindung, hanya bersikap pasrah menanti ajal mereka.


Jleeep!


Pedang raksasa menancap ke dalam tanah dengan sempurna.


Bboooom!


Ledakan yang sangat kuat meratakan semua bangunan yang berada di tempat itu hingga membentuk kawah besar.


Kini tumpukan mayat menyebar ke berbagai tempat, bahkan beberapa anggota Sekte Gerbang Hitam yang tubuh mereka hancur berkeping-keping.


" Serang!" Teriak Tou Shuijing dan Jiu Tou She yang memimpin pasukan Semesta.


Tentu mereka lebih mudah untuk mengalahkan anggota Sekte Gerbang Hitam yang masih selamat dari ledakan, karena sudah banyak mengeluarkan tenaga.


Itupun hanya bagi Patriak dan para Tetua Sekte Gerbang Hitam saja yang selamat, sedangkan anggota yang lain tidak ada satupun yang selamat.


Kini Patriak dan para Tetua Sekte Gerbang Hitam yang baru keluar dari bola hitam yang melindungi tubuh mereka langsung diserang oleh Tou Shuijing, Jiu Tou She dan Pasukan Semesta.


Bahkan sepuluh anggota Pasukan Semesta juga keluar dari balik reruntuhan, karena hanya mendapatkan sedikit imbas dari serangan gabungan tersebut.


Beruntung sepuluh anggota Pasukan Semesta tersebut berada di penjara bawah tanah, jika berada di luar dapat dipastikan mereka juga akan mati.


Kini Patriak dan para Tetua Sekte Gerbang Hitam hanya bersikap pasrah menanti ajal mereka.


Mereka tidak menyangka bahwa Sekte yang sudah berdiri sejak jutaan tahun lenyap begitu saja.


" Haaahh... Sebaiknya kita kembali ke Istana Kristal untuk memulihkan diri." Ryu dengan nafas memburu sambil menatap ke arah 92 Istrinya.


" Ya... Dengan Pasukan Semesta saja mereka tidak ada yang selamat." Ucap Xie Xian.


" Tidak hanya membunuh mereka, tapi juga menguras Sumberdaya yang mereka miliki. Itupun hanya Sumberdaya yang langka saja yang tidak hancur." Ryu tersenyum pahit karena dengan serangan mereka sebelumnya sudah pasti banyak Sumberdaya yang hancur.


Mereka pun langsung masuk ke Dunia Quzhu tepat di Istana Kristal sambil menunggu Pasukan Semesta menyelesaikan pekerjaan mereka.


Di sisi lain Tou Shuijing, Jiu Tou She dan Pasukan Semesta yang sudah membunuh dan menjarah Sumberdaya yang dimiliki Sekte Gerbang Hitam.


Kini tersenyum puas karena banyak mendapatkan Sumberdaya yang langka di Cincin Ruang milik Patriak dan para Tetua Sekte Gerbang Hitam.


Tentu mereka juga tidak meninggalkan satupun Sumberdaya dari anggota Sekte yang lain dan memeriksa reruntuhan bangunan Sumberdaya.


Setelah itu Tou Shuijing mengirim pesan jiwa kepada Ryu karena sudah menyelesaikan tugas mereka.


Ryu pun langsung mendatangi bawahannya, sambil membuka peta yang diberikan saudagar Ning sebelumya.


" Dewa Agung, apa kita harus berpencar?" Tanya Tou Shuijing.


" Ya... Kalian harus memeriksa wilayah ini, Ini dan ini." Ryu menunjuk beberapa titik yang ada di dalam peta.


" Baik Dewa Agung, kalau begitu kami akan berangkat sekarang." Ucap Tou Shuijing langsung melesat ke sebuah arah diikuti Jiu Tou She.


Begitupun dengan Pasukan Semesta yang lain, mereka juga langsung berpencar ke berbagai arah sesuai yang ditujukkan oleh Ryu di dalam peta.


" Hmmm... Sepertinya tidak lama lagi utusan dari Kekaisaran Sun akan kesini." Ryu bergumam karena dapat merasakan ada dua sosok yang masih jauh sedang menuju ke tempat tersebut.


Karena tidak ingin diketahui, Ryu langsung melesat ke udara dengan kecepatan tinggi menuju arah Ibukota Kekaisaran Sun dengan terbang memutar.


*****


( Ibukota Kekaisaran Sun )


Di depan pintu gerbang kota Drokar, Ryu meminta kepada Xie Xian dan Jiu Wei Hu untuk menemani perjalanannya.


Tentu Xie Xian dan Jiu Wei Hu terlihat senang, karena mereka juga ingin menikmati keindahan kota yang berada di Dunia Yuzhou.


Namun kedua Istrinya harus menggunakan penutup wajah, karena Ryu tidak ingin ada orang lain yang menatap istrinya dengan tatapan nakal.


Tapi Xie Xian dan Jiu Wei Hu hanya menuruti apa yang dikatakan Ryu, demi kelancaran perjalanan mereka juga.


" Suamiku, apa seperti ini?" Xie Xian menunjukkan dirinya yang sudah menggunakan penutup wajah.


" Ya... Hanya saja lekuk tubuh kalian masih kelihatan." Ucap Ryu dengan nada dingin membuat kedua wanita itu membulatkan mata.


" Suamiku... Tapi ini semua sudah ditutup." Jiu Wei Hu tidak menyangka bahwa suami mereka begitu posesif.


" Haaahh... Baiklah! Aku akan mencongkel mata mereka jika berani menatap kalian dengan nakal." Ucap Ryu dengan nada datar.


Saat Xie Xian dan Jiu Wei Hu menggunakan penutup wajah, Ryu langsung membawa mereka masuk ke dalam kota Drokar tanpa mengalami kendala apapun.


Di Pusat Kota, kini Ryu, Xie Xian dan Jiu Wei Hu sedang berjalan santai menikmati Keindahan Kota Lumpur tersebut.


Di Perjalanan mereka melihat Para Kultivator sedang berkumpul di Lapangan Terlihat sosok prajurit sedang berdiri di panggung.