
Saat berada di sudut lorong, Ryu dan Istrinya disambut dengan Bejana Emas dan Kuali Emas yang setingkat Pusaka tingkat Surgawi.
" Dengan kedua Pusaka tingkat Surgawi ini, She Ling, She Bing dan She Zhilin bisa membuat Pil lebih murni dan lebih cepat lagi." Xie Xian langsung menarik kedua Pusaka tingkat Surgawi tersebut ke ruang Sumberdaya di Dunia Quzhu.
Di sisi lain Ryu hanya menatap kedua Istrinya yang seakan ingin berlomba dengannya.
" Suamiku, aku rasa tidak ada lagi yang tersisa di tempat ini." Ucap Jiu Wei Hu sambil berjalan mendekati Ryu.
" Ya... Lebih baik kita kembali untuk menemui yang lain." Jawab Ryu sambil memeriksa keadaan sekitar.
Saat merasa yakin tidak ada lagi yang bisa diambil, Ryu membawa Istrinya kembali ke tempat rombongan.
Setelah beberapa saat, Ryu dan Istrinya telah disambut rombongan yang juga sudah mengambil bagian harta sebelumnya.
" Tuan Pendekar, aku tidak menyangka bisa menemukan harta sebanyak Ini." ucap Pemuda tersebut dengan wajah senyum puas.
" Ya, kalau begitu, berarti kalian bisa memberikan kontribusi yang baik pada Sekte Kalian." Ryu tidak keberatan jika mereka mengambil bagian dari harta benda tersebut.
" Tuan Pendekar, mengapa kamu dan kelompokmu tidak ikut serta mengambil harta tadi." Tanya pemuda yang lain.
" Itu karena kalian lebih membutuhkan dari pada kami. Sedangkan kami hanya bertiga, jadi kami merasa sudah cukup dengan harta sebelumnya." Ucap Ryu dengan santai.
Jika saja mereka mengetahui bahwa Ryu dan Istrinya mendapatkan harta benda yang paling langka, mungkin mereka akan melempar semua harta yang telah mereka ambil sebelumnya.
" Terimakasih Tuan Pendekar, budi baikmu akan kami ingat." Ucap pemuda tersebut dengan penuh hormat.
" Aku rasa tidak ada lagi yang bisa kita ambil disini. Lebih baik kita Kembali." Ryu melanjutkan langkahnya yang diikuti Xie Xian dan Jiu Wei Hu.
" Baik Tuan Pendekar." Ucap mereka serempak.
Mereka pun kini berjalan keluar bangunan tersebut. Terlihat rombongan memasang wajah senang atas apa yang mereka dapatkan.
Di sisi lain Ryu dan Istrinya berusaha untuk menahan diri agar tidak tertawa, saat melihat ekspresi dari Kultivator muda tersebut.
Seandainya mereka tau apa yang telah didapatkan Ryu dan Istrinya, mungkin Mereka bisa pingsan saat melihatnya. karena sebelumnya mereka telah mengumpulkan harta dan Sumberdaya di Menara raksasa.
Ditambah lagi dengan rampasan di Istana Kerajaan Tanlan Hitam, tentu sudah tidak terhitung jumlahnya.
Jika dibandingkan rampasan dari Istana Kerajaan Tanlan Hitam saja jumlah dari keseluruhan yang mereka kumpulkan hanya seperempat saja.
Setelah berjalan beberapa Saat, Ryu dan Istrinya beserta rombongan telah kembali ke tempat dimana yang lain sedang menunggu terbukanya kembali Portal dimensi.
" Pendekar apa, kalian menemukan sesuatu disana?" Tanya Sun Kim Ai dengan tatapan penuh makna.
" Seperti yang kamu lihat dari wajah mereka." Jawab Ryu dengan santai sambil melirik ke arah Xie Xian dan Jiu Wei Hu yang langsung mengeluarkan Aura Intimidasi Pendekar Semesta kepada Sun Kim Ai.
" Aura ini." Sun Kim Ai berkeringat dingin sambil menatap ke arah dua wanita bercadar yang ada di samping Ryu.
" Ada apa Tuan Putri?" Tanya Jenderal Gong yang melihat Sun Kim Ai sedang ketakutan.
" Ah... Tidak ada. Aku hanya kelelahan." Sun Kim Ai langsung membuang muka karena kedua wanita itu seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Tentu hanya Sun Kim Ai saja yang terkena imbas Aura tersebut, karena Xie Xian dan Jiu Wei Hu hanya mengarahkan kepadanya seorang diri.
" Baik Suamiku." Jawab Xie Xian dan Jiu Wei Hu dengan nada tinggi, agar semua bisa mendengar.
Mendengar ucapan tersebut, Sun Kim Ai memasang wajah gelap, namun dia masih menganggap bahwa kedua wanita bercadar bukan kekasih dari Ryu.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Ryu dan Istrinya langsung membuat kemah sebagai tempat mereka beristirahat.
Melihat tingkah dari Ryu dan Istrinya, mereka hanya menggelengkan kepala melihat bagaimana mereka bisa sesantai itu saat berada dimana sewaktu-waktu gerombolan Tanlan memburu mereka.
Tentu saja mereka tidak tau bahwa Tanlan Hitam sudah lenyap dan Tanlan Merah juga sudah banyak kehilangan para prajurit.
Mungkin kini Tanlan Merah hanya tersisa sedikit, bahkan mereka tidak berani lagi keluar dari wilayah mereka.
" Ternyata mereka adalah pasangan kekasih." Gumam beberapa sosok yang melihat Ryu bersama dua wanita yang satu kemah.
" Cciiih... Kedua wanita itu hanya mencari kesempatan pada Pendekar Ryu." Sun Kim Ai masih tidak percaya bahwa Ryu sudah memiliki Istri.
Hari sudah mulai gelap, kelompok yang lain juga memberanikan diri untuk membuat kemah dan beberapa Tenda sebagai tempat mereka Istirahat dan sebagian secara bergantian untuk berjaga.
Di sisi lain Sun Kim Ai juga membuat sebuah kemah sambil memasang wajah masam karena dirinya telah ditindas oleh Xie Xian dan Jiu Wei Hu, sehingga dia tidak berani untuk mendekati Ryu.
Namun para pengawal Putri Sun Kim Ai tetap masih dalam Posisi berjaga di sekitar kemah milik Sun Kim Ai.
Malam pun kini berganti pagi, dimana tiap kelompok mulai mengemaskan barang mereka sambil menunggu portal dimensi terbuka.
Saat portal dimensi terbuka, semua rombongan dengan cepat memasuki portal dimensi.
Di sisi lain Ryu dan Istrinya juga memasuki portal dimensi saat semua sudah masuk.
Di depan batu besar, kini Ryu dan Istrinya yang sudah keluar dari Dunia Tanlan sedang berbaris mengumpulkan setengah Sumberdaya milik mereka.
Namun Harta dan Sumberdaya yang langka sudah berada di tempat yang aman, sehingga tidak diketahui oleh siapapun.
" Selanjutnya!" Ucap petugas sambil menatap ke arah Ryu dan Istrinya.
Ryu dan Istrinya yang mendapat giliran, kini dengan santai mendekati Meja tempat membagi sumber daya tersebut.
" Kami hanya bisa mendapatkan ini saja." Ryu memberikan tiga Cincin Ruang biasa kepada petugas yang sedang mendata.
Sontak petugas tersebut membulatkan mata lalu menatap Ryu dan Istrinya dengan seksama kemudian menuju seorang Jenderal lalu memperlihatkan isi dari Cincin tersebut.
Jenderal itupun terlihat kaget memandang ke arah dimana Ryu dan Istrinya sedang berdiri lalu menghampirinya.
" Tuan Pendekar, Sumberdaya milikmu tidak terbilang dari Perintah yang Mulia Kaisar meskipun nilainya sangat berharga dari Tanaman Sumberdaya" Ucap Sang Jenderal.
" Jenderal Aku memberikan semua itu secara Cuma-cuma. Aku yakin Kekaisaran membutuhkan benda itu." Ucap Ryu dengan ramah.
" Terimakasih atas kebaikan Tuan Pendekar. Sebuah kehormatan bagi kami jika Tuan Pendekar bisa bersama kami menghadap Yang Mulia Kaisar." Ucap Jenderal Besar.
Mendengar penawaran tersebut, Ryu tidak berani menjawab secara langsung, namun meminta pendapat dari kedua istrinya.