SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 452. Suku Lumut


Pada keesokan pagi, rombongan Liu Ryu keluar dari kota pelabuhan, untuk melanjutkan perjalanan, sesuai petunjuk dari pria lusuh sebelumnya.


Setelah melakukan perjalanan jauh, kini Liu Ryu dan ketiga istrinya langsung meningkatkan kewaspadaan, karena di dalam hutan yang lebat telah ada beberapa sosok yang sedang mengawasi mereka.


" Master, apa yang terjadi?" Staid merasa heran, karena Liu Ryu dan ketiga Istrinya sudah memasang sikap waspada.


Jleeep! Jleeep! Jleeep!


Puluhan anak panah melesat ke arah rombongan Liu Ryu, dari berbagai arah dibalik pepohonan.


Buussshh!


Liu Ryu mengeluarkan Qi dalam jumlah besar, hingga satu-persatu anak panah berjatuhan ke tanah.


Wuush! Tap!


Terlihat sosok setinggi satu meter dengan rambut tebal memanjang berwarna hijau menutupi seluruh tubuhnya.


Sosok itu menatap ke arah rombongan Liu Ryu, dengan tatapan dingin, namun tidak ada niat jahat kepada mereka.


" Urungkan niat kalian untuk pergi ke daratan Muktho. Tempat itu sudah dikuasai oleh para Iblis Merah." Sosok itu mengingatkan kepada rombongan Liu Ryu agar mereka kembali ke tempat asal.


Liu Ryu berjalan mendekati sosok itu, sambil mengeluarkan Aura Dewa Agung, membuat sosok tersebut mundur beberapa langkah ke belakang.


" Si... Siapa kamu sebenarnya?" Tanya sosok itu, sambil menunjuk ke arah Liu Ryu dengan tangan gemetar.


Sosok itu merasa sesak nafas karena efek aura yang dilepaskan oleh Liu Ryu, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.


" Kamu tidak perlu mengetahui siapa aku. Jika berani menghalau perjalanan kami, aku tidak segan untuk membunuh kalian semua." Ucap Liu Ryu sambil melirik ke arah kanan dan kirinya.


Sosok itupun terlihat ketakutan, karena sosok yang berada di depannya juga mengetahui rekannya yang sedang bersembunyi di atas pepohonan.


" Master... Bukan karena kami berniat jahat kepada kalian. Tapi di daratan Muktho sudah mengalami bencana besar." Ucap sosok tersebut yang terus mundur ke belakang untuk menjauhi Liu Ryu.


" Aku tau kalian tidak memiliki niat jahat, namun kalian sudah menghalangi perjalanan kami." Ucap Liu Ryu.


Mendengar ucapan tersebut, sosok itupun tidak berani melawan, karena dapat dipastikan mereka akan mengalami kekalahan.


Wuush! Wuush! Wuush!


Satu-persatu sosok yang bersembunyi di atas pepohonan melompat ke tanah, lalu berlari ke arah sosok yang berada di depan Liu Ryu.


Di sisi lain, Staid dan Priscilla terlihat ketakutan, karena sosok yang berada di depan mereka terlihat sangat mengerikan.


" Maafkan kami master. Kami melakukan ini hanya untuk menyelamatkan semua manusia agar tidak punah."


Semua sosok yang berada di depan Liu Ryu menyampaikan tujuan mereka, agar daratan Kwunko masih tetap aman.


" Aku tau niat baik kalian. Namun percayalah padaku! Karena tujuanku pergi ke daratan Muktho untuk menyelamatkan para manusia yang tinggal disana." Ucap Liu Ryu, sambil melepaskan tembakan cahaya ke kening salah satu sosok yang berdiri di depan mereka.


Sosok yang terkena cahaya dari Liu Ryu, kini menyerap beberapa Informasi dari Liu Ryu, sehingga dia mulai bernafas lega.


" Apakah Dewa Agung datang kesini untuk memenuhi panggilan takdir?" Tanya sosok sebelumnya.


Mendengar perkataan dari Liu Ryu, sosok itupun menundukkan kepala, lalu memperkenalkan diri mereka adalah suku lumut.


Sosok itu juga memperkenalkan dirinya sebagai pemimpin suku lumut yang bernama Yoke yang meminta kepada bawahannya untuk mempertahankan wilayah itu untuk menghalangi perjalanan para petarung atau penyihir yang ingin pergi ke daratan Muktho.


" Kalian semua, siapkan perjamuan untuk menyambut tamu kehormatan kita." Yoke yang sebagai pemimpin suku lumut, langsung memberi perintah kepada bawahannya.


" Baik Ketua." Jawab semua bawahannya, lalu meninggalkan tempat tersebut dengan kecepatan tinggi.


" Master.. Mari ikut denganku!" Meskipun Yoke sudah mengetahui bahwa Liu Ryu adalah Dewa Agung yang dipanggil ke dunia itu, namun dia tidak ingin membocorkan rahasianya, karena Liu Ryu sendiri yang memintanya.


Liu Ryu mengangguk kecil, lalu membawa rombongan untuk mengikuti Yoke menuju ke kediaman mereka.


Di sebuah goa yang cukup besar, rombongan Liu Ryu disambut ramah oleh suku lumut, dengan disajikan dengan berbagai macam buah-buahan segar dan daging hewan buas hasil buruan mereka.


Meskipun penampilan suku lumut terkesan mengerikan, namun kenyataannya mereka sangat peduli terhadap lingkungan dan makhluk hidup, terlebih untuk para manusia yang tinggal di desa atau perkotaan.


" Master... Mohon maaf sebelumnya. Sepertinya kedatangan kalian terlambat dua hari."


" Sekarang air laut sedang pasang, sehingga jalur menuju daratan Muktho sudah tertutup." Yoke menjelaskan bahwa jalan menuju daratan utama untuk beberapa saat tidak bisa dilewati.


Untuk meyakinkan kepada Liu Ryu, Yoke meminta kepada beberapa bawahannya untuk membawa Staid menuju ke jalur tersebut.


" Apa tidak ada jalur lain?" Tanya Liu Ryu.


" Hanya itu saja jalur menuju daratan Muktho. Tapi master tidak perlu khawatir. Kalian bisa tinggal disini sambil menunggu air laut kembali surut." Yoke menawarkan agar rombongan Liu Ryu bisa tinggal di tempat itu, dimana beberapa anggota suku lumut sedang membuat sebuah gubuk untuk mereka.


Selesai menikmati buah-buahan segar, Yoke membawa mereka keluar dari dalam goa, dimana satu gubuk sudah hampir selesai, karena anggota suku lumut membuatnya dengan cara bergotong royong.


Untuk menghormati kebaikan suku lumut, Liu Ryu hanya meminta kepada mereka untuk membuat dua gubuk saja karena dia bisa tinggal bersama ketiga istrinya.


Sedangkan untuk Staid dan Priscilla, mereka juga dibuat satu gubuk yang lain, agar mereka bisa beristirahat.


*******


Tiga hari telah berlalu, kini anggota suku lumut dan Staid sudah kembali ke kediaman suku lumut.


" Staid, bagaimana?" Tanya Liu Ryu hanya sekedar memastikan, meskipun dia sudah mempercayai apa yang dikatakan Yoke sebelumnya.


" Master... Jalan menuju daratan Muktho benar-benar tertutup hingga sedalam 20 meter." Staid menggelengkan kepala, karena itu artinya mereka harus menunggu air surut.


Mendengar ucapan tersebut, Liu Ryu menghela nafas panjang, karena menurut keterangan Yoke sebelumnya bahwa jalur menuju daratan Muktho akan melewati tiga pulau.


Tiga pulau itu sama sekali tidak berpenghuni, meskipun ukurannya sangat luas, karena di bagian kedalam ketiga pulau banyak didiami hewan raksasa.


" Master tidak perlu khawatir. Aku akan meminta kepada anggotaku untuk memantau air laut disana. Jika sudah surut, maka mereka akan segera melaporkan kepada master " Ucap Yoke.


" Baiklah... Untuk sementara waktu, kalian bisa tinggal disini! Sementara itu, aku ada pekerjaan lain." Liu Ryu memanfaatkan waktu yang ada untuk menjelajahi hutan di daratan Kwunko untuk mencari Inti Sel yang tertinggal di beberapa tempat.


Mendengar ucapan tersebut, Staid dan Priscilla mengangguk mengerti, karena mereka juga menyadari bahwa Liu Ryu sedang melakukan perjalanan yang berbahaya.