
[ Jika menyukai karya ini sempatkan untuk berikan dukungan dan Rate 🌟 5 ]
*******
Di dalam ruangan Istana Atas Awan yang sangat luas terdapat 203 Kursi kebesaran dimana semua memiliki motif berbeda.
Di kursi bagian tengah terdapat sebuah patung Naga yang merupakan wujud dari Ryu, dimana kedua kakinya bertumpu pada dua kelopak teratai yang merupakan lambang dari kedua Kursi di sisi kanan dan kiri.
" Suamiku, kursi itu adalah kursi kebesaran milikmu, sedangkan kedua kursi di samping kiri dan kanan yang ada kelopak bunga teratai adalah milik Permaisuri Xie Hua dan Permaisuri Nan Sian." She Xia dengan semangat menunjukkan karya mereka.
Meskipun Xie Hua dan Nan Sian menganggap bahwa status mereka sejajar, namun bagi Istri Ryu yang lain tetap menganggap mereka sebagai Permaisuri.
" Selanjutnya kursi yang bermotif Kirrin milik Sheng Zhishu, motif Phoenix Api milik Xin Chie, motif Rubah Langit milik Huli Yue, motif burung Merak milik Tianhe, Bunga Salju milik Yunjiang, Naga Emas milik Yinshi, Phoenix Petir milik Yuwang, Ni Rong milik Ting Ye, motif pedang milik Wang Mingjun, motif Harimau Putih milik Shu Meilu, motif Angsa milik Qin Shuomei, motif Dewi Bumi milik Li Jilan."
Satu-persatu Xie Xian menjelaskan tentang kursi yang berjejer tersebut, dimana mereka bisa menempati kursi masing-masing sesuai dengan kemampuan khusus mereka.
" Lalu bagaimana dengan 84 kursi yang kosong itu?" Tanya Ryu sambil menunjuk ke beberapa kursi yang masih belum memiliki motif.
" Dunia Tiantang ini sangatlah luas. Aku yakin 84 kursi yang kosong itu pasti akan terisi. Kaisar Ryu yang agung pasti akan mencari orang yang tepat untuk mengisinya." Ucap Jiu Wei Hu sambil menggoda suaminya.
" Ya... Dengan demikian semua akan menjadi genap. Tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih." Xie Xian ikut menimpal.
Dari 203 kursi tersebut memiliki tempat yang tinggi, dimana berhadapan langsung dengan ratusan kursi yang lain dimana tempat duduk para petinggi Istana Kekaisaran Atas Awan nantinya.
" Baiklah, aku akan mencari Istri yang lain sesuai dengan keinginan kalian." Ucap Ryu sambil berjalan mendekati kursi miliknya.
Begitupun dengan Xie Xian, dimana dia juga langsung duduk di sebuah kursi yang bermotif setangkai bunga berwarna putih
Jiu Wei Hu duduk di kursi bermotif Rubah ekor sembilan, Qing Yun di kursi bermotif Beruang Putih, She Xia di motif Ular Hijau.
She Ling, She Bing dan She Zhilin duduk di kursi bermotif Ular Api, Feng bersaudara duduk di kursi bermotif bunga Api, Long bersaudara duduk di kursi bermotif Naga Laut, Huang bersaudara duduk di kursi bermotif Phoenix Awan, Tan Shuying duduk di kursi bermotif Tanlan bertanduk putih, dan Gong Ziya duduk di kursi bermotif pepohonan.
Ryu dan Istrinya begitu menikmati kursi kebesaran mereka masing-masing, dimana itu semua hasil kerja keras mereka.
" Mulai besok aku akan pergi ke Dunia Abadi untuk menjemput mereka. Aku harap kalian tinggal disini untuk mengatur Pasukan Semesta." Ryu terlihat serius sambil menatap mereka bergantian.
" Apa kamu merindukan istrimu yang lain?" Tanya Xie Xian sedikit menggoda suaminya.
" Tentu saja. Sebagai seorang suami, aku tidak pernah membedakan kalian." Ucap Ryu dengan santai.
" Lalu bagaimana dengan penguasa elemen racun di Dunia Dongwu? kenapa kita melewatkannya?" Xie Xian sedikit heran karena Ryu tidak mencari keberadaan penguasa elemen racun saat berada di Dunia Dongwu.
" Aku tidak bisa mendapatkan anugerah dari penguasa elemen racun sebelum mendapatkan anugerah dari penguasa elemen cahaya."
" Dari Kitab yang aku dapatkan dari Kaisar Ras Org, bahwa leluhur mereka pernah bertemu dengan penguasa elemen racun. namun untuk mendekatinya saja tubuhnya langsung hancur." Ryu menjelaskan kepada Istrinya tentang penguasa elemen racun.
Jika saja Ryu tidak mendapatkan Kitab peninggalan Ras Org, mungkin dia akan mengalami nasib yang sama.
" Apa kita akan berpetualang lagi?" Tanya Jiu Wei Hu.
" Tapi disini kita banyak pekerjaan. Salah satunya adalah menaklukkan Kerajaan ataupun Kekaisaran yang ada di dunia ini. Dengan demikian jumlah korban dari pihak kita akan berkurang saat berperang melawan Kekaisaran Langit, karena aku tidak ingin Istriku yang sangat cantik tergores sedikitpun." Ryu bicara dengan santai sambil menatap ke arah mereka.
Mendengar perkataan dari suami mereka, Xie Xian dan yang lain saling berpandangan karena Ryu terlalu mengkhawatirkan mereka.
Setelah cukup lama melakukan perbincangan, Kini Ryu dan Istrinya memilih untuk beristirahat di lantai paling atas Istana Kekaisaran Atas Awan.
Meskipun jaraknya sangat jauh dari lantai dasar, namun mereka bisa menggunakan teknik teleportasi agar cepat sampai.
*******
Pada keesokan pagi, Ryu keluar dari Istana Atas Awan, menuju ke arah jembatan pelangi di dekat kediaman Tou Shuijing dan Jiu Tou She.
Di tengah kediaman Tou Shuijing dan Jiu Tou She memiliki lapangan yang sangat luas, dimana Ryu menciptakan sebuah Portal Teleportasi yang sangat besar yang memiliki ukuran 20 meter persegi.
" Dewa Agung, kami sudah selesai membuat 12 Istana Kerajaan di luar tembok di segala penjuru beserta dengan bangunan yang lain." Jiu Tou She melaporkan hasil pekerjaan mereka.
" Mmmm... Sebelum aku kembali, kalian jangan dulu keluar dari kubah pelindung ini karena Kaisar Langit akan mengetahui keberadaan kalian." Ryu memberi pesan kepada Pasukan Semesta.
" Baik Dewa Agung." Jawab Pasukan Semesta serempak.
Tentu Pasukan Semesta akan menyiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan Istri Ryu yang lain juga Mertua Ryu.
Tidak hanya itu saja, Tou Shuijing, Jiu Tou She dan Pasukan Semesta juga ingin memberikan kejutan kepada rekan mereka lainnya dimana sebagai tempat tinggal mereka.
" Mmmm... Kalau begitu, aku pergi dulu." Ryu mengarahkan Artefak teleportasi ke arah tertentu.
Tanpa menunggu lama Ryu langsung masuk ke dalam portal teleportasi menuju ke Dunia Abadi.
*******
( Dunia Abadi )
Di Istana Yexuan, terlihat beberapa sosok wanita yang sedang duduk bersama sambil menatap ke arah halaman Istana tempat anak-anak mereka sedang berlatih.
" Tidak terasa anak-anak kita sudah dewasa, tapi suami kita belum kembali." Ucap Sheng Zhishu sambil menatap ke arah depan.
" Ya... Untung saja mereka memaklumi kondisi ayah mereka, sehingga Liu Guangxi dan yang lain tidak pernah membenci ayahnya." Ucap Xin Chie.
" Kita sudah mendidik mereka dengan baik, justru mereka tidak sabar ingin bertemu dengan ayah mereka." Ucap Nan Sian.
" Tidak lama lagi mereka semua akan menikah, semoga ayahnya bisa menghadiri pernikahan mereka." Huli Yue menggelengkan kepala karena tidak terasa anak-anak mereka sudah memiliki kekasih masing-masing.
Bahkan putra-putri mereka memiliki pasangan hidup dari berbagai wilayah Kekaisaran di Benua Timur, Benua Utara, Benua Barat, Benua Selatan dan Benua Tengah.
Tentu semua mengharapkan seorang menantu dari putra-putri Kaisar Ryu, karena kebesaran nama Kaisar Ryu sangat diagungkan di Dunia Abadi.