
Kebetulan Liu Ryu dan Sun Kim Ai mengambil jalur daratan tinggi, sehingga mereka bisa melihat jelas apa yang ada di sekitar mereka.
" Sepertinya mereka masih jauh dari tempat ini." Ucap Liu Ryu yang belum merasakan kehadiran yang lain, kecuali makhluk buas yang berada di sekeliling mereka.
Liu Ryu meminta kepada mereka untuk berpisah agar bisa mencari keberadaan yang lainnya.
Liu Ryu merasa yakin dengan kemampuan Sun Kim Ai yang sekarang, dia sudah mampu melewati segala rintangan.
" Suamiku, tapi aku tidak ingin berpisah denganmu." Sun Kim Ai terlihat murung, karena Liu Ryu justru meminta kepada mereka untuk memisahkan diri.
" Istriku, jika kita tidak bisa menemukan keberadaan mereka, maka selamanya kita akan terkurung disini." Liu Ryu menjelaskan bahwa hanya Ling Huoliang dan 69 saudarinya saja yang bisa membawa mereka kembali ke Dunia Tiantang.
Mendengar ucapan tersebut, Sun Kim Ai tertunduk lesu mencoba menerima situasi tersebut.
Pada akhirnya Sun Kim Ai mengikuti keinginan Liu Ryu, karena bagaimanapun mereka harus berkumpul kembali.
" Kebetulan tempat ini adalah daratan tertinggi, jika bertemu dengan mereka, tuntun mereka untuk kembali kesini." Liu Ryu merasa tempat itu sangat cocok untuk mereka berkumpul kembali.
Dengan segenap kemampuannya, Liu Ryu menyusun bebatuan di daratan tinggi itu, agar mereka tidak terkecoh.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini bebatuan sudah tersusun rapi hingga membentuk sebuah menara.
" Teteskan darahmu ke batu besar ini! Dengan demikian kita tidak kehilangan arah." Ucap Liu Ryu, sambil meneteskan darahnya pada batu yang tersusun membentuk menara.
" Mmmm." Sun Kim Ai mengangguk, lalu meneteskan darahnya pada batu besar tersebut.
Tanpa membuang waktu Liu Ryu dan Sun Kim Ai harus berpencar untuk mencari keberadaan Istrinya yang lain.
Selama dalam perjalanan, Liu Ryu tidak hentinya melakukan pertarungan melawan makhluk buas yang seakan tidak ada habisnya.
Namun dengan kemampuan Liu Ryu yang sekarang, dia dengan mudah mengalahkan makhluk buas meskipun tidak mengalami peningkatan Kultivasi.
Satu minggu telah berlalu, kini Liu Ryu telah sampai di sebuah pegunungan yang berjejer secara acak.
Sesaat Liu Ryu mendengar suara dari balik sebuah gunung, dimana suara itu sangat tidak enak didengar.
" Apa yang terjadi?" Gumam Liu Ryu lalu melesat ke arah sumber suara.
" Deeeg!
Jantung Liu Ryu berdetak cepat saat menyaksikan pemandangan yang berada di depannya.
Kini Liu Ryu terlihat kebingungan karena pemandangan tersebut sungguh diluar dugaannya.
Di depan matanya terlihat ribuan sosok wanita yang saling bergesekan satu sama lain karena efek energi dari makhluk buas yang mereka bunuh.
" Aaahhhkk.. Panas sekali."
" Aawww... Tubuhku terasa tidak bisa digerakkan."
" Owh...."
Terdengar suara dari ribuan wanita yang menjadi pelayan di Istana Kekaisaran Atas Awan yang berasal dari ras Demi-Human.
" Jika seperti ini kita akan mati kehausan."
Terdengar suara pelan dari ribuan wanita itu yang membuat siapapun yang melihatnya pasti akan tergoda dengan gerakan yang mereka lakukan.
" Apa yang terjadi pada mereka? Kenapa mereka bisa seperti itu?" Liu Ryu merasa ragu untuk mendatangi para pelayan itu.
Namun jika mereka tidak bisa ditolong dengan segera, maka efek energi dari makhluk buas akan mengganggu pikiran mereka.
" Jika aku mencari keberadaan Ling Huoliang dan 69 saudarinya, maka mereka tidak bisa tertolong lagi." Gumam Liu Ryu sambil memikirkan cara untuk menghadapi situasi tersebut.
Setelah cukup lama berpikir, kini situasi para pelayan itupun saling menyerang satu sama lain karena hasrat mereka tidak terpenuhi.
Tanpa pikir panjang, Liu Ryu melesat ke arah mereka berusaha untuk melerai pertikaian antara beberapa pelayan yang sudah kehilangan akal sehat.
" Apa yang terjadi pada kalian?" Tanya Liu Ryu sambil menatap ke arah mereka.
Mendengar ucapan tersebut, semua pelayan menoleh ke arah sumber suara, dimana beberapa pelayan yang sedang saling mencakar satu sama lain juga menghentikan aksi mereka.
" Ya... Yang Mulia Kaisar, tolong bantu kami." Ucap salah satu pelayan yang masih mampu mengendalikan diri.
Sedangkan beberapa pelayan yang lain langsung berlari ke arah Liu Ryu seperti sedang mendapatkan mangsa.
Sambil menghindari setiap para pelayan yang ingin menangkapnya, beberapa pelayan yang masih bisa bertahan menjelaskan kepada Liu Ryu tentang situasi yang mereka alami.
" Jadi darah ras Demi-Human kalian tidak bisa dikontrol?" Tanya Liu Ryu sambil menatap ke arah para pelayan yang ingin menangkapnya.
Meskipun semua pelayan yang berasal dari ras Demi-Human semuanya sudah mencapai Bintang Kaisar, namun karena pikiran mereka terganggu, sehingga mereka tidak bisa menggunakan kekuatannya.
Jika saja para pelayan itu dalam keadaan normal, maka dapat dipastikan bahwa Liu Ryu akan mati di tangan para pelayannya sendiri.
" Benar Yang Mulia Kaisar. Kami sudah tidak kuat lagi." Ucap salah satu pelayan dengan wajah memelas karena ada hal yang lain membuat mereka semakin agresif.
Sesaat Liu Ryu berpikir sejenak sambil menatap ke ribuan wanita yang semuanya tanpa menggunakan busana, karena sebelumnya mereka hanya saling menggesekkan tubuhnya dengan rekannya yang lain.
" Jika aku biarkan, maka mereka akan mati." Liu Ryu berkeringat dingin karena tidak menyangka harus menghadapi situasi seperti itu.
Sesaat Liu Ryu berpikir sejenak, namun akibat kecerobohannya, beberapa pelayan yang sudah tidak bisa menahan diri kini menyambar tubuh Liu Ryu dan merobek seluruh pakaiannya.
" Sialan... Kenapa bisa seperti ini?" Liu Ryu menggerutu dalam hati karena dia tidak mampu melepaskan diri dari terkaman para pelayannya sendiri, karena tingkat Kultivasi mereka sudah sama.
Para pelayan itupun dengan beringas menggunakan beberapa bagian tubuh Liu Ryu untuk memenuhi hasrat mereka.
Bahkan beberapa pelayan langsung memasukkan senjata kebanggaan Liu Ryu pada bagian intim miliknya lalu menggoyangkan pinggulnya dengan cepat.
Sedangkan yang lain harus mengarahkan jari tangan Liu Ryu pada bagian bawah perutnya, hingga kaki Liu Ryu juga tidak lepas dari serangan dari para pelayan.
" Jika seperti ini, aku tidak sungkan lagi." Gumam Liu Ryu lalu memejamkan mata sambil menikmati apa yang dilakukan oleh para pelayan.
Satu-persatu para pelayan bergantian menindih tubuh Liu Ryu hingga terdengar suara khas dari mereka yang kini menikmatinya karena hasrat mereka bisa disalurkan.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini satu-persatu para pelayan jatuh terkapar di atas tubuh Liu Ryu yang langsung diseret oleh para pelayan lainnya agar bisa berganti posisi.
Liu Ryu yang merasakan sensasi dari para pelayan itupun tidak bisa menahan diri hingga satu-persatu kegadisan para pelayan dibobol oleh Liu Ryu.
Kali ini Liu Ryu baru pertama kali merasakan tubuhnya seakan remuk, karena serangan dari ribuan para pelayan.