SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 404. Latihan Memanah


Saat berada di depan papan misi, wanita berambut cokelat menunjukkan berbagai misi yang terpampang di tempat itu.


" Karena anda adalah Petarung kelas D, maka anda harus menjalankan misi kelas D terlebih dulu."


" Kami tidak ingin anggota Serikat Petarung harus mati ketika menjalankan misi. Karena itulah anda harus menjalankan misi secara bertahap." Wanita berambut cokelat menjelaskan tentang tahapan dalam mengambil misi agar anggota Serikat Petarung tidak mengalami kerugian.


Sesaat Liu Ryu membaca semua lembaran kertas misi di papan misi, dimana menurutnya cukup bagus untuk memulihkan Qi miliknya.


Terlebih Liu Ryu ingin membantu para warga yang tidak bisa beraktivitas seperti biasa jika di wilayah itu masih banyak tempat yang berbahaya.


" Baiklah, bisa anda tunjukkan dimana letaknya?" Tanya Liu Ryu.


Tanpa membuang waktu wanita berambut cokelat mengambil sebuah peta seluruh wilayah Negara Westland yang mencakup berbagai kota lainnya.


' Sepertinya masih jauh dari lautan.' Liu Ryu membatin sambil menatap ke peta yang ditunjukkan.


Liu Ryu berfikir bahwa Serikat Petarung juga tidak memiliki peta lengkap daratan Efhoria, karena hanya dimiliki oleh keluarga besar di Ibukota Negara Westland.


Dengan kata lain Liu Ryu harus memiliki akses untuk bertemu dengan keluarga besar yang memiliki gulungan peta daratan Efhoria agar bisa melanjutkan perjalanan.


Liu Ryu berfikir bahwa sebuah peta begitu berharga bagi keluarga bangsawan bahkan anggota Serikat Petarung agar tidak tersesat di perjalanan.


Dengan kekuatan spiritual miliknya, Liu Ryu dapat merekam semua seluruh wilayah Negara Westland, sehingga dia tidak perlu lagi meminta bantuan kepada penunjuk jalan.


" Lalu di Negara mana yang memiliki kota pelabuhan?" Gumam Liu Ryu karena peta itu masih tidak lengkap.


Wanita berambut cokelat yang mendengar ucapan Liu Ryu, kini menatapnya dengan penuh selidik, karena untuk pergi ke Negara yang lain tentu tidak semudah membalik telapak tangan.


Disamping melewati tempat yang berbahaya, tentu juga harus berhadapan dengan hewan buas.


Meskipun Liu Ryu bisa terbang dengan kecepatan tinggi, namun jika tanpa petunjuk arah, maka dia sendiri bisa tersesat di hutan ataupun padang gurun karena daratan Efhoria sangatlah luas.


" Maafkan aku suamiku. Aku tidak bisa membantumu." Menyadari bahwa Liu Ryu sedang mencari kota pelabuhan, Dewi Arinia tidak bisa membantunya meskipun dia memiliki sihir teleportasi.


Itupun hanya bekerja di wilayah kekuasaannya, sedangkan di tempat yang lain, Dewi Arinia hanya bisa menggunakan sihir teleportasi dalam jarak mata memandang.


" Tidak masalah. Lagi pula selama dalam perjalanan, kita bisa bertanya kepada para warga." Liu Ryu sama sekali tidak keberatan, karena di dunia itu dia juga mendapatkan pengalaman baru.


Setelah melihat peta wilayah Negara Westland, Liu Ryu dan Dewi Arinia meninggalkan tempat itu untuk menjalankan misi secepat mungkin.


Di sisi lain beberapa anggota Serikat Petarung yang begitu tertarik dengan paras cantik Dewi Arinia, kini saling berpandangan sambil memberi isyarat kepada satu sama lain.


Puluhan sosok itu pun keluar dari Serikat Petarung untuk menyusul Liu Ryu dan Dewi Arinia.


" Teman... Apa kamu melihat wanita itu? Sepertinya wanita itu memiliki harga yang sangat tinggi jika kita menjualnya kepada Keluarga Istana." Ucap salah satu sosok kepada rekannya.


" Benar teman... Bahkan jika dijual di Istana Bordil, kita bisa hidup bersenang-senang selama lima tahun." Yang lain ikut menimpal.


" Menurutku lebih baik kita menjualnya kepada Istana Bordil. Dengan begitu kita bisa mencicipi tubuh wanita itu sebelum dijual." Sosok yang lain juga memberi usul.


" Namun jika kita menjualnya kepada Keluarga Istana, maka harganya jauh lebih mahal."


Beberapa anggota Serikat Petarung sedang berdiskusi mengenai rencana untuk mengambil Dewi Arinia dari tangan Liu Ryu.


Apalagi setelah melihat Plakat yang dimiliki Liu Ryu hanya bergelar Petarung kelas D, tentu mereka berpikir dengan mudah mengalahkan pemuda itu.


Di sisi lain Liu Ryu yang menyadari niat terselubung dari beberapa sosok ketika berada di Serikat Petarung, kini menjalankan kudanya dengan santai.


" Suamiku, apa kamu sedang menunggu kedatangan mereka?" Tanya Dewi Arinia yang juga menyadari bahwa beberapa sosok itu akan mengejar mereka.


" Ya... Aku harap agar kamu bisa membiasakan diri menggunakan panah itu." Ucap Liu Ryu, karena dia ingin meminta kepada Dewi Arinia untuk mengembangkan kemampuan memanahnya.


Dengan sebuah anggukan, Dewi Arinia mengeluarkan busur panah miliknya, lalu menoleh ke arah belakang.


Tidak lama kemudian terlihat puluhan sosok yang berkuda bermunculan dari arah belakang.


Dewi Arinia langsung membalikkan badannya, lalu mengarahkan busur panahnya kepada sosok yang mengejar mereka.


Wuush! Wuush! Wuush!


Puluhan anak panah yang tercipta dari Qi, melesat ke arah puluhan sosok berkuda.


Jleeep! Jleeep! Jleeep!


Puluhan anak kecil bersarang pada tubuh beberapa sosok berkuda, membuat mereka terjatuh dari atas kudanya hingga mati seketika.


" Sepertinya masih kurang maksimal." Ucap Dewi Arinia, karena beberapa serangan anak panahnya meleset dari target.


" Lakukan lagi, sampai benar-benar sudah mahir." Ucap Liu Ryu, lalu membelokkan arah kudanya agar Dewi Arinia lebih leluasa menggunakan panahnya.


Di sisi lain beberapa sosok yang tersisa, kini terlihat pucat karena serangan anak panah dari sosok yang mereka kejar masih memiliki jarak yang jauh.


" Panah apa itu tadi? Kenapa jangkauan serangannya sangat jauh?" Salah satu sosok memasang wajah serius. Tidak menyangka bahwa sosok yang mereka kejar memiliki senjata yang sangat mematikan.


Jleeep! Jleeep! Jleeep!


Aarrgggh! Aarrgggh! Aarrgggh!


Beberapa sosok kembali terkena serangan anak panah, dimana bagian dada mereka langsung bolong.


" Lari!" Teriak salah satu sosok, lalu membalikkan arah kudanya, karena situasi mereka tidak menguntungkan.


Terlebih serangan anak panah dari Dewi Arinia sangat jauh, sehingga dapat dipastikan mereka akan mati sebelum berdekatan dengan Liu Ryu dan Istrinya.


Namun dari kejauhan, Liu Ryu berbalik untuk mengejar mereka, dimana Dewi Arinia berdiri di atas kuda sambil melancarkan serangan anak panahnya.


" Alirkan Qi milikmu di telapak kaki agar bisa menyeimbangkan diri." Sambil memacu kudanya, Liu Ryu memberi Instruksi kepada Dewi Arinia.


" Baik." Jawab Dewi Arinia, lalu mengikuti arahan dari suaminya.


Tentu Dewi Arinia tidak mudah mengarahkan busur panahnya, karena dia juga harus menyeimbangkan diri di atas kuda.


Agar serangan anak panahnya tepat sasaran, Dewi Arinia harus menggunakan konsentrasi yang tinggi.


Secara perlahan, Dewi Arinia mulai terbiasa melepaskan anak panahnya, meskipun dalam posisi berdiri di atas kuda yang bergerak dengan cepat.


" Sepertinya berlatih dengan menggunakan makhluk hidup jauh lebih menyenangkan." Gumam Dewi Arinia, sambil melancarkan serangan anak panahnya.


Tidak lama kemudian satu-persatu sosok yang mengejar mereka mati di tangan Dewi Arinia dimana mereka langsung mengambil salah satu kuda yang memiliki fisik yang sangat kuat.