
Nan Thian mendarat ringan di halaman depan perguruan Xu San.
Sejauh mata memandang hanya tersisa puing puing bangunan yang hampir rata dengan tanah.
Tempat itu terlihat sepi, seperti tanah perkuburan masal.
Tida ada sedikitpun kenangan kediaman lamanya yang besar dan megah, dengan kakak beradik saudara seperguruannya yang sedang sibuk berjaga dan berlatih di sana.
Seluruh bangunan dari pintu gerbang hingga bangunan utama, semuanya telah ambruk rata dengan tanah.
Bahkan undakan tangga juga terlihat terbelah hancur di sana sini tidak utuh lagi.
Dengan perasaan cemas, hati semakin tidak tenang.
Nan Thian yang sangat khawatir dengan keadaan kedua orang tua nya,dan saudara seperguruannya yang lain.
Dia mempercepat langkahnya, menaiki undakan tangga, menuju pusat bangunan induk perguruan Xu San.
Dengan berlompatan ringan di atas puing puing bangunan, Nan Thian terus bergerak menuju halaman belakang bangunan induk, yang merupakan tempat kediaman kedua orang tua nya.
Saat tiba di halaman belakang, Nan Thian kembali menemukan keadaan yang serupa.
Di mana sejauh mata memandang hanya ada reruntuhan puing puing bangunan, tidak ada apa-apa yang tersisa di sana.
Bahkan pepohonan di sekitar taman pun sudah porak poranda, tumbang di mana mana, dengan akar terangkat keatas.
Dengan sepasang tangan terkepal, menahan emosinya yang hampir meledakkan isi dada dan pikirannya.
Nan Thian kembali melanjutkan langkahnya melewati puing puing bangunan kediaman kedua orang tua nya.
Akhirnya Nan Thian tiba di halaman paling belakang yang menjadi tempat terlarang bagi semua murid murid Xu San untuk datang ketempat ini.
Sewaktu kecil dulu, karena penasaran, Nan Thian pernah diajak oleh kakaknya Yue Lin secara diam diam datang ketempat ini.
Mereka akhirnya menemukan kenyataan tempat itu tidak ada apa apa, selain kuburan massal yang sangat banyak, berjejer rapi, mengelilingi sebuah bangunan Ting ( Paviliun peristirahatan ).
Kini Nan Thian berdiri mematung di sana, dengan sepasang mata merah menyala.
Saat dua melihat pemandangan di hadapannya.
Di mana kini jumlah kuburan di sana, telah bercampur dengan kuburan kuburan baru, yang jumlahnya tidak kalah banyak di bandingkan makam makam lama..
"Thian Er kamu sudah tiba kemarilah.."
ucap sebuah suara yang sangat Nan Thian kenal.
Nan Thian segera melayang kearah Ting yang merupakan tempat asal suara itu.
"Thian Er di bawah meja ada tombol rahasia, putar ke arah kanan tiga kali.."
ucap suara itu memberi petunjuk, dari tempat persembunyiannya.
Nan Thian mengikuti petunjuk dari suara itu.
Begitu tombol selesai di putar mengikuti instruksi petunjuk dari suara itu.
Krreekk,..! Krreekk,..! Krreekkk,.!"
Meja batu yang besar dan berat, bergeser kearah kini dan kanan, bagian tengah terbelah dua.
Memunculkan sebuah ruang rahasia, di bawah meja.
Di bawah meja muncul sebuah lubang, dengan undakan anak tangga menurun kebawah.
Nan Thian langsung masuk kedalam lubang itu, menuruni undakan anak tangga.
Sebagai putra pemilik perguruan di tempat ini, ini adalah kali pertama bagi Nan Thian tahu ada tempat rahasia seperti ini.
Setelah melewati beberapa undakan anak tangga, pintu masuk diatas kepala Nan Thian, telah menutup kembali.
Nan Thian melanjutkan langkahnya menuruni undakan tangga hingga tiba disebuah ruangan yang tidak begitu luas.
Di dalam ruangan tersebut, Nan Thian melihat Fei Hsia guru Zi Zi hadir di sana bersama Xue Lian.
Mereka berdua berdiri di samping sana, menatap kearah Fei Yang yang duduk di belakang Yue Feng dengan tatapan mata cemas.
Yue Feng, ayah Nan Thian terlihat duduk bersila dengan kepala tertunduk lemah, sepasang matanya tertutup rapat.
Tidak jauh dari sana, terlihat Ye Hong Yi ikut berdiri di sana, menatap kearah wajah suaminya yang pucat pasi dengan wajah cemas.
Melihat kedatangan Nan Thian, Ye Hong Yi dengan airmata bercucuran langsung berlari menghampiri putranya.
"Ibu tenanglah,..apa yang sebenarnya telah terjadi di sini..?"
tanya Nan Thian sambil membelai rambut di kepala ibunya dengan lembut.
Nan Thian berusaha bersikap setenang mungkin, menahan gejolak emosi nya.
Agar Ibu nya bisa lebih tenang dan tidak ikut terbawa bawa oleh emosinya.
"Thian Er kamu harus balaskan dendam ini.."
"Rebut kembali Zi Zi dari tangan pemuda tidak waras itu.."
ucap Ye Hong Yi sepotong potong, membuat Nan Thian yang mendengarnya, jadi menduga duga dan agak bingung.
"Ibu jangan menangis dulu, tenangkan hati ibu.."
"Cerita lah dengan jelas dan pelan pelan, siapa pemuda yang ibu maksud ? apa yang sebenarnya terjadi..?"
tanya Nan Thian sabar.
Hong Yi mengangguk mencoba menenangkan diri, setelah menghapus sisa airmatanya.
Hong Yi sambil menghela nafas panjang, dia pun memulai ceritanya.
"Semua ini berawal dari, sebulan yang lalu Zi Zi datang kemari mencari mu.."
ucap Hong Yi mulai bercerita.
Xue Lian dan Fei Hsia yang tidak tahu kronologi ceritanya, mereka ikut mendekat, duduk di dekat Nan Thian dan ibunya, agar bisa ikut mendengarkan semua nya dengan jelas.
Pagi itu Ye Hong Yi yang sedang mengawasi murid murid Xu San Pai berlatih ilmu pedang.
Tiba-tiba dia melihat seorang muridnya, berlari dengan langkah buru buru menghampirinya.
Hong Yi menatap dengan alis berkerut dan berkata,
"A Hua hari masih pagi, kenapa kamu terlihat terburu-buru seperti ini..?"
Murid yang bernama A Hua itu buru buru memberi hormat dan berkata,
"Ini Semu, di bawah sana, di pos jaga pertama datang seorang gadis cantik berpakaian pengantin.."
"Katanya ingin mencari Yue Nan Thian.."
"Kami sudah jelaskan Yue Nan Thian tidak ada di sini, tapi dia tidak percaya ngotot ingin ketemu dengan Sefu dan Semu.."
"Sebelum di temui dia tidak mau pergi..'
"Kakak Nan Kakak Sing dan kakak Wu yang hendak mencoba mengusir'nya.."
"Hanya dengan satu gerakan seperti orang menulis diudara, dia telah melumpuhkan Kakak Nan kakak Sing dan kakak Wu.."
ucap A Hua menjelaskan.
A Hua menatap heran kearah Semu nya, yang biasanya selalu bersikap keras galak dingin dan pemarah itu.
Tapi kini saat mendengar penjelasannya malah berbalik tersenyum lebar,
Dia hanya bisa menatap dengan tatapan bodoh sulit mempercayainya.
"A Hua cepat antar aku kesana menemuinya.."
ucap Ye Hong Yi gembira.
"Baik Semu.."
jawab A Hua cepat.
Sebelum pergi, Ye Hong Yi menoleh kearah murid utamanya, yang sedang mengawasi juniornya berlatih.
"A siong, kamu cepat beritahu guru mu,!"
"Suruh dia cepat menyusul ku ke pos pertama..!"
"Katakan padanya, calon menantunya telah datang..!"
ucap Hong Yi sambil tersenyum gembira.
Sesaat kemudian dia sudah berlari secepat terbang, menuju pos jaga pertama.