PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TAWARAN KERJASAMA


Sebaliknya Xu Da terlihat tenang dan masih berdiri memunggungi Li Mu Bai.


Li Mu Bai sedikit memiringkan tubuhnya Sambil menarik hawa mengisi kekuatan, lalu dia mendorongkan jari telunjuknya kedepan.


Tujuh pedang cahaya keemasan melesat cepat kearah Xu Da.


Tapi sebelum mengenai Xu Da, di belakang Xu Da, muncul seorang kakek tua berjenggot putih, yang berpakaian putih terlihat mengulurkan tangannya kedepan membentuk perisai lingkaran dengan ukiran huruf kuno di dalam lingkaran tersebut.


Perisai itu mengeluarkan cahaya ungu, perisai ini lah yang digunakan untuk menahan serangan tujuh pedang Li Mu Bai.


Li Mu Bai memutar jarinya, lalu menambah dorongan kedepan, tujuh pedang nya berputar-putar seperti mata bor ingin melubangi perisai yang di bentuk oleh kakek itu.


Kakek itu tentu tidak tinggal diam, dia juga mengerahkan kekuatan nya, untuk menambah daya kekuatan dan daya dorongnya, menahan serangan Li Mu Bai.


Terjadi saling dorong dan saling menambah kekuatan, hingga dari ubun ubun kepala mereka masing-masing keluar asap.


Puncaknya baik perisai cahaya ungu, maupun 7 cahaya pedang emas, sama sama mengeluarkan ledakan dahsyat.


Tubuh Li Mu Bai, dan tubuh kakek tua itu sama sama terdorong mundur ke belakang,


Baik kakek tua itu maupun Li Mu Bai.


Mereka sama-sama memegang dada masing-masing.


Terlihat dari bibir mereka menyemburkan sedikit darah segar.


"Mu Tou,.. Sekarang kamu lihat dan buktikan sendiri kan,? kamu baru saja melawan Xuan Ming penasehat kanan ku."


"Kamu sudah terluka, bagaimana mau melawan ku..?"


"Ini baru Xuan Ming, belum termasuk Xuan Hei pasangannya.."


"Xuan Hei keluarlah, tak perlu bersembunyi lagi..!"


ucap Xu Da.


Dari balik rerimbunan pohon yang tinggi, melayang turun sesosok kakek tua lainnya yang berbaju hitam.


Dia berdiri di samping Xuan Ming, sambil tersenyum mengejek menatap Li Mu Bai.


"Tidak perlu sombong.! katakan saja terus terang, apa yang kamu inginkan..?"


"Meski kalian lebih hebat dan berjumlah lebih banyak, aku juga tidak takut dengan kalian."


"Ayo majulah..!"


ucap Li Mu Bai gagah.


Mu Tou tak perlu berpura-pura lagi menjaga wibawa, lihat kaki dan tangan mu yang gemetar itu."


"Anak kecil juga tahu kamu sedang ketakutan.."


ucap si kakek berjubah putih sambil tertawa.


"Mu Bai hari ini aku datang bukan untuk bertarung, ataupun menghabisi nyawa mu."


"Aku datang ingin menawarkan kerjasama dengan mu.."


Li Mu Bai tersenyum mengejek sambil menatap tajam ke lawannya dia berkata,


"Bagaimana kalau aku menolaknya..?"


Xu Da tersenyum, dia membalikkan badannya menghadap kearah Li Mu Bai dan berkata,


"Kalau kamu menolak nya, kamu boleh pergi sekarang,.. tapi ingat 3 hari kemudian bersiaplah untuk menjadi mayat.."


"Kamu akan menjadi saksi perguruan Xu San, yang di dirikan ribuan tahun hancur di tangan mu ."


"Kenapa hancur di tangan ku, apa kamu tidak salah ingat, ketua Xu San bukan aku.."


ucap Li Mu Bai sambil menatap tajam kearah Xu Da menuntut penjelasan.


"Kenapa katamu ? tentu saja karena ketua Xu San berikutnya adalah kamu."


"Tapi karena kamu menolak tawaran ku, apa boleh buat kamu hanya bisa menjadi saksi runtuhnya perguruan Xu San, sebelum kamu menjadi arwah penasaran.."


ucap Xu Da dengan tatapan sedingin es.


"Putuskan lah sekarang, pilihan ada pada mu."


ucap Xu Da dengan nada dingin.


Li Mu Bai termenung sesaat, dia berpikir dan menimbang dengan ragu-ragu.


"Apa yang kamu inginkan dari ku, bila aku menyetujui bekerjasama dengan mu..?"


Dia berpikir bila dia setuju, terus orang ini menyuruhnya bertarung di depan, itu sama saja menyuruh dirinya dan muridnya untuk pergi mati.


Kerjasama begini, tentu dia tidak akan mau menerimanya.


Xu Da berkata dengan suara dingin,


"Aku tahu yang kamu pikir dan khawatirkan, tenang saja permintaan ku sederhana.."


"Saat pasukan kami tiba, dan perang pecah, aku hanya minta kamu dan murid mu tetap diam di puncak Gunung Naga biru..."


"Bila kamu bisa minta Zhou Lei melakukan hal yang sama, itu tentu lebih baik, kamu akan jadi ketua berikutnya Xu San dan dia akan jadi wakil mu.."


"Semua pusaka Gunung Xu menjadi milik mu, kami hanya akan meminjam kitab tanpa tanding selama 3 bulan.."


"Setelah itu kamu boleh ambil kembali dan memilikinya.."


"Tapi ingat kedepannya Xu San, tidak boleh mencampuri apapun yang di lakukan oleh Hei Mo Pang.."


"Bila setuju maka aku akan jamin Xu San akan tetap bertahan.."


Setelah mengucapkan syaratnya, Xu Da pun diam menunggu jawaban keputusan dari Li Mu Bai.


"Baik aku setuju.."


jawab Li Mu Bai pelan.


"Tapi aku punya satu syarat, bila tidak di penuhi lebih baik kita bertemu di Medan perang 3 hari lagi.."


"Apa itu katakan saja ?"


ucap Xu Da tenang


"Aku ingin menukar kitab langit kami, dengan kitab Iblis Neraka..."


ucap Li Mu Bai sambil tersenyum licik.


Dia sudah pernah menyaksikan kitab Langit beberapa kali, selain buku itu sulit di buka.


Setelah terbuka pun isinya kosong, tidak ada tulisan atau apapun di sana.


Jadi buat apa dia mati matian mempertahankannya.


Bahkan bila tidak di kembalikan sekalipun, itu bukan masalah.


Tapi dalam kerjasama ini, bila dia bisa menukar kitab tidak berguna itu dengan kitab iblis neraka.


Bukan mustahil dia akan menjadi penguasa dunia tandingan Ming Wang, ketua Hei Mo Pang itu.


Di luar prediksi Li Mu Bai, Xu Da dengan mudah menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Baik aku setuju.."


"Apa jaminannya, kamu tidak akan ingkar janji..?"


tanya Li Mu Bai dengan cerdik.


Xu Da menatap tajam kearah Li Mu Bai, sepasang matanya berkilat menyiratkan nafsu membunuhnya terpancing.


Baik Li Mu Bai maupun kedua penasehat Xu Da, mereka sama sama melangkah mundur 2 tindak kebelakang, tanpa mereka sadari.


"Apa yang kamu inginkan sebagai jaminan..?"


tanya Xu Da dingin.


"Aku ingin kitab iblis neraka sebagai jaminan.."


ucap Li Mu Bai, meski dia sedikit gentar dengan tatapan Xu Da, tapi sebagai seorang cerdik dan licik dia tidak mau kalah.


Xu Da memejamkan matanya, seluruh tubuhnya memancarkan aura membunuh yang sangat menekan.


Semua mahluk disekitar hutan, berlarian berhamburan menjauhi arena sekitar sana.


Li Mu Bai yang ketakutan sudah mencabut keluar pedangnya, yang di pegang dengan erat di tangan kanan, sedangkan tangan kiri nya memegang sebuah tabung kembang api, tanda bahaya.


Li Mu Bai mundur menjaga jarak dari Xu Da, dengan tatapan mata penuh kewaspadaan.


Kedua penasehat sudah membuat perisai pelindung berbentuk kubah, yang putih kubahnya berwarna ungu.


Sedangkan yang hitam kubahnya berwarna Hijau.


Perlahan-lahan kedua mata Xu Da terbuka melihat kearah Li Mu Bai..