PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
HADIRNYA SANG DEWI


Wu Hui Lao Jen yang terkena tikaman pedang pelangi, dan tembakan laser cahaya pelangi dari kening gadis baju hijau, yang baru saja tiba, di sertai sebuah tendangan.


Tubuhnya terpental kearah Fei Yang, Fei Yang tidak menyia nyiakan kesempatan tersebut.


"Wusss...!"


Tebasan pedang tanpa nama, yang di sertai energi 5 elemen mengalir deras dalam pedang Xuan Yuan.


Seketika membuat tubuh Wu Hui Lao Jen terpotong menjadi 6 bagian.


Fei Yang tidak mau kepalang tanggung,, dia memberikan pukulan es langit semesta, ke potongan tubuh tersebut dengan tangan kiri.


Sehingga potongan tubuh itu membeku menjadi kepingan es.


Lalu Fei Yang menutupnya dengan pukulan telapak tangan kanan, melepaskan tenaga api langit semesta.


Membakar hancur potongan tubuh membeku itu, hingga hancur tak bersisa.


Hilang terbawa angin, tak berbekas lagi.


Dengan demikian berakhirlah pertempuran tersebut.


Tapi pertempuran tersebut di bayar dengan mahal oleh Fei Yang dan Xue Lian.


Di tempat lain gadis baju hijau yang bukan lain adalah Fei Hsia, dia terbaring dalam pelukan Xue Lian dalam keadaan lemah.


Dari mulut dan luka parah di bagian perutnya, tak berhenti mengalirkan darah.


Gadis itu seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya yang penuh darah membuat dia sulit bicara.


Selain terbatuk batuk, dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Dia tidak bisa apa-apa, hanya memberikan tatapan mata sendu ke Xue Lian.


Dia akhirnya hanya bisa tersenyum sedih dari tatapan mata nya jelas terlihat ada penyesalan dan kesedihan mendalam yang tidak bisa di ungkapkan lewat kata-kata.


Tangan nya yang berlumuran darah akibat menahan tikaman Golok Naga Hijau, perlahan lahan terangkat menyentuh pipi Xue Lian dengan lembut.


Xue Lian hanya bisa terus menggelengkan kepalanya dengan airmata bercucuran.


Melihat kondisi Fei Hsia yang terlihat semakin melemah, karena darah dari perutnya terus mengalir tanpa henti.


Sekali lihat Xue Lian juga sadar Fei Hsia tidak akan tertolong lagi, organ pentingnya telah rusak parah.


Fei Yang yang baru saja hadir di sebelah Xue Lian, Dia kini ikut berjongkok di sisi Xue Lian.


Dia dan Xue Lian sempat saling pandang, tapi Xue Lian memberi kode pada Fei Yang.


Fei Hsia sudah tidak akan tertolong lagi.


Fei Yang menghela nafas sedih, dia menatap kearah luka di perut Fei Hsia, yang di tembus oleh golok naga hijau, hingga ujungnya muncul di belakang punggung.


Dengan tatapan mata cemas dan khawatir, Fei Yang buru buru memasukkan beberapa butir pil dari dewa obat.


Tapi Fei Hsia sudah tidak bisa menerima dan menelan lagi, dia malah memuntahkan nya kembali bersama darah yang memenuhi mulutnya.


Fei Hsia menggeleng pelan sambil menatap wajah pria yang sangat di cintai nya, tapi justru paling tidak boleh dia cintai.


Fei Hsia memberikan senyum terakhir yang bisa dia berikan, meski tidak rela.


Tapi mungkin inilah cara terbaik meninggalkan Fei Yang, sehingga dia punya sedikit tempat di hati mereka berdua.


Cintanya dari awal adalah suatu kesalahan besar, yang hanya akan membawa penderitaan tak berujung bagi dirinya.


Fei Hsia mengalihkan tangannya menyentuh pelan wajah Fei Yang, lalu dia meraih telapak tangan Fei Yang.


Untuk di letakkan di atas telapak tangan Xue Lian, setelah itu sambil tersenyum sedih.


Tiba-tiba Fei Hsia sedikit mengejang, matanya yang indah terbelalak keatas.


Kemudian menutup kembali, kepalanya pun terkulai kedalam pelukan Xue Lian.


"Hsia Mei.....!!"


teriak Fei Yang dan Xue Lian hampir bersamaan.


Saat mereka melihat gadis malang itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Fei Yang hanya bisa menengadah keatas menatap langit, menahan dua butir airmatanya yang runtuh kebawah.


Satu persatu kenangan kemesraan nya dan kebaikan Fei Hsia, selama dirinya lupa ingatan, dan tinggal bersama di pulau ikan.


Semua bayangan itu muncul dengan sangat jelas di hadapan nya.


Fei Yang menutup matanya, dia berusaha menahan perasaan sedih dan penyesalan di hati nya.


Saat sepasang matanya tertutup, dua butir airmata, yang menggantung di pelupuk matanya, ikut runtuh bergulir dan menggantung di pipinya.


Xue Lian sendiri hanya bisa menangis sedih menatap wanita saingannya.


Gadis itu sempat membuat dirinya kesal dan membencinya, tapi kini dia justru mengorbankan nyawa nya demi keselamatan nya.


Agar kebahagiaan dia dan Fei Yang bisa tetap terus berlanjut.


Perasaan kasihan sedih dan menyesal kini menyelimuti seluruh perasaan Xue Lian.


Xue Lian kini sadar, gadis dalam pelukannya ini pada dasarnya tidak lah jahat.


Kesalahan satu satunya, adalah dia jatuh cinta dan terlalu mencintai orang yang salah.


Orang yang selamanya tidak mungkin, bisa membalas perasaan nya.


Seekor burung kecil yang baru saja tiba di sana.


Saat dia melihat pedang pelangi tergeletak di sebelah seorang gadis muda, yang baru saja kehilangan nyawa.


Burung kecil itu merubah dirinya menjadi sesosok pemuda tampan bertubuh tinggi besar.


Perlahan-lahan dia mendarat di hadapan Fei Yang dan Xue Lian.


"Dia masih terhitung punya hubungan keluarga dengan ku, serahkan dia pada ku.."


"Aku mungkin bisa membantunya hidup kembali.."


ucap pemuda tampan bertubuh tinggi besar itu.


Fei Yang dan Xue Lian menatap kearah pemuda tampan, yang berdiri di hadapan mereka dengan heran.


"Maaf anda ini siapa..?"


tanya Fei Yang heran.


"Aku bernama Lu Fan, dulu dulu sekali, orang orang menyebut ku dewa sadis.. tapi itu dulu, sudah sangat lama sekali.."


"Gadis itu, kemungkinan besar dia adalah keturunan dari kakak perempuan ku dan Kakak seperguruan ku.."


"Makanya pedang pelangi itu ada bersamanya.."


"Percayalah, aku pasti akan berusaha menyelamatkan nya.."


Xue Lian menatap pemuda yang sangat tampan itu, dengan heran dan tak percaya, lalu ikut berkata.


"Tapi bagaimana caranya, Wu Fei Hsia dia sudah meninggal."


Xue Lian di dalam hati harus akui, pemuda di hadapannya ini, sangat tampan senyumnya sangat menawan.


Bila dia belum bersama Fei Yang, tidak akan sulit baginya untuk tertarik berdekatan dengan pria setampan itu.


Lu Fan tersenyum dan berkata,


"Orang lain mungkin sulit, tapi percayalah, aku yakin Dewi Agung pasti bisa.."


Fei Yang yang pernah menerima pil ajaib dari seorang Dewi, yang bisa di gunakan untuk menghidupkan orang mati.


Dia menatap pemuda itu penuh harap dan berkata,


"Istri ku, tolong berikan saja Fei Hsia kepadanya, aku yakin dia punya caranya.."


Xue Lian tanpa banyak membantah, dia menyerahkan jasad Fei Hsia yang lemas kepada Lu Fan.


Lu Fan menerimanya dan berkata,


"Mari kita keluar dari tempat ini.."