
Nan Thian buru buru mempercepat pergerakan nya, Nan Thian berlompatan ringan di atas tali ingin secepatnya sampai di pohon seberang sana.
Tapi saat jarak dengan pohon semakin dekat, di mana pohon yang di tuju sudah terlihat.
Di saat itu juga terdengar suara,
"Wuuutttt..!" "Wuuutttt..!"
"Wuuutttt..!" "Wuuutttt..!"
"Wuuutttt..!" "Wuuutttt..!"
"Rooaaarrrrrrr...!"
Seekor Naga Kadal Terbang raksasa sedang menatap tajam dengan sepasang mata mengeluarkan cahaya api.
Muncul dari balik kabut di sisi kanan Nan Thian.
Tanpa membuang waktu Nan Tarang langsung melepaskan serangan tebasan pedang Naga Emas
"Naga emas bermain di Mega...!"
"Wusss...!"
Tapi Naga Kadal Terbang langsung mengibaskan sayapnya yang berkulit tebal menyapu datangnya serangan Nan Thian.
"Plakkkk...!"
Naga emas yang meluncur menerjang kearah Naga Kadal Terbang, langsung sirna di tepis oleh kibasan sayap Naga Kadal Terbang.
Tapi kejadian yang berlangsung beberapa detik itu, cukup bagi Nan Thian.
Untuk melempar kedua bocah da ok am gendongannya kearah pohon yang menjorok keluar dari dinding tebing.
Zi Zi dan Sun Er meski masih kecil, tapi mereka termasuk putra putri orang hebat.
Pada dasarnya di dalam tubuh mereka sudah mengalir tenaga dahsyat.
Hanya saja mereka belum cukup umur dan belum punya pengalaman bertarung.
Dalam keadaan antara hidup dan mati, sehingga apa yang tersimpan di dalam tubuh mereka.
Belum bisa mereka gunakan secara maksimal.
Kini dalam keadaan terdesak kepepet dan ketakutan, energi mereka bekerja otomatis.
Kedua anak itu mendapatkan lemparan dari Nan Thian, sambil menjerit ngeri.
"Ahhhhhhh...!"
"Aiiihhhhhhh...!"
Mereka berdua melakukan salto 3 kali di udara, lalu mendarat ringan diatas salah satu cabang pohon di pinggir tebing.
"Aihhhh..!"
Zi Zi yang kakinya terpeleset oleh dahan licin berlumut, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Dia langsung menjerit kaget, tapi Sun er berlaku sigap.
Dengan satu tangan memegangi salah satu cabang dahan pohon, tangan yang lainnya,.dia berhasil menyambar tangan Zi Zi.
"Hiaaatt..!"
Dengan satu bentakan nyaring, Sun er berhasil melempar Zi Xi naik kembali keatas dahan pohon yang ada di atasnya.
Setelah itu Sun Er baru melompat ringan naik keatas dahan pohon tersebut.
Sun er mengedarkan pandangannya kearah belakang dia melihat Nan Thian sedang bertarung dengan Naga Kadal Terbang.
Mencoba menghalangi Naga Kadal Terbang mengejar kearah mereka.
Melihat hal itu, Sun er sadar dia tidak punya banyak waktu.
"Zi Zi mei mei naiklah ke punggung ku.."
ucap Sun er sambil berjongkok memunggungi Zi Zi.
Zi Zi juga menyadari bahaya, tanpa banyak membantah.
Gadis kecil itu langsung naik keatas punggung Sun Er, membiarkan Sun Er menggendongnya.
"Sun ke ke, apa kamu yakin bisa memanjat tebing sambil menggendong ku..?"
tanya Zi Zi saat Sun er sedang berusaha memanjat.
Cekungan yang di buat oleh Nan Thian untuk memudahkan memanjat keatas.
Juga sebagai penanda agar tidak nyasar kemana mana, mau naik maupun turun menjadi lebih mudah.
Sun er sambil memanjat menjawab,
"Aku akan mencobanya, aku yakin aku masih sanggup.."
Sun Er setelah mulai memanjat, ternyata dia cukup lincah, baru kini Sun Er menyadari ternyata dia memilki kemampuan bertahan hidup yang cukup lumayan.
Dengan ringan seperti seekor monyet kecil, Sun er terus berlompatan dari cekungan yang satu ke cekungan pegangan tangan dan tahanan kaki yang lain.
Dia dengan sangat cepat terus merayap naik hingga akhirnya, bibir jurang yang tertuju mulai terlihat.
"Hufff...!"
"Wutttt,..! Wutttt,..! Wutttt,..!"
"Wutttt,..! Wutttt,..! Wutttt,..!"
Naga Kadal Terbang itu tiba tiba sudah muncul dari balik kabut, tepat di belakangnya.
Naga Kadal Terbang itu mengeluarkan suara raungan nya yang menggetarkan, dan angin kencang yang menerpa tubuh Sun Er dan Zi Zi, hingga mereka sulit membuka mata dan bernafas.
"Rooaaarrrrrrr..!"
Di saat bersamaan Naga Kadal Terbang juga menyemburkan api dari mulutnya kearah Sun er dan Zi Zi.
Di saat kritis tiba tiba hawa es dan api di tubuh Sun Er bergerak sendiri, melakukan perlindungan diri.
Cahaya merah biru membentuk kubah perisai disertai ukiran huruf huruf kuno.
Menahan semburan api keemasan yang di hembuskan oleh Naga Kadal Terbang.
Naga Kadal Terbang melihat mangsanya mampu melakukan perlawanan.
Dia segera mengambil ancang ancang siap melepaskan semburan lebih keras lagi.
Tapi belum sempat dia melakukan nya, dia merasa ada yang menempel di bagian kepala dekat tanduknya.
Naga Kadal Terbang yang merasa risih langsung menggeleng gelengkan kepalanya.
Berusaha melepaskan mahluk menyebalkan yang bukan hanya sekedar menempel di sana.
Tapi juga sedang menyakitinya, dengan terus berusaha menusuk nusuk bagian tengah di antara kedua tanduknya.
Di bagian tersebut adalah kelemahan juga sekaligus merupakan pusat intisari kekuatannya.
Sebenarnya bagian tersebut tidak mudah di jangkau, karena terlindungi oleh kulit yang sangat tebal dan keras.
Tapi berhubung, mahluk menyebalkan itu adalah Nan Thian, dengan pedang Naga Emas nya yang super tajam.
Di mana pedangnya mampu menembus kulit keras dan tebal milik Naga Kadal Terbang bila dihujamkan secara terus menerus.
Naga Kadal Terbang menjadi khawatir, dia terpaksa membatalkan serangan nya mengincar Sun er dan Zi Zi.
Kini dia dengan panik bergerak terbang kesana kemari, bahkan berusaha menggunakan kepalanya di tabrakan dan di gesekkan kearah dinding tebing.
"Brakkkk...!"
Brakkkk...!"
Brakkkk...!"
"Sreeettt..!"
"Sreeettt..!"
"Sreeettt..!"
Tapi semuanya sia sia karena seluruh tubuh Nan Thian terlindungi tenaga sakti Ih Jin Jing yang membuat tubuhnya kebal melebihi kerasnya baja.
Hanya pakaiannya saja yang hancur tapi seluruh tubuhnya masih tetap baik baik saja.
Naga Kadal Terbang yang pergerakannya semakin kacau, karena rasa sakit yang menderanya.
Akhirnya Naga Kadal Terbang itu kehilangan keseimbangan dia meluncur jatuh kedalam Jurang tak berdasar membawa Nan Thian bersamanya.
Di tempat lain Sun er yang sudah terbebas dari ancaman Naga Kadal Terbang.
Dia kembali memanjat dengan lincah hingga tiba di bibir jurang.
Saat berhasil naik keatas bibir jurang, setelah menurunkan Zi Zi.
Sun er langsung terbaring lemas di pinggir jurang dengan nafas memburu..
Sedangkan Zi Zi begitu di turunkan, dia langsung berlari ke tepi bibir jurang dan berteriak keras,
"Kakak tampannnn ,..!"
"Kakak tampannnn ,..!"
"Kamu di mana..!?"
"Kamu di mana..!?"
Teriak Zi Zi berulang-ulang, kemudian dia menjatuhkan diri berlutut di tepi jurang menangis sedih.
"Zi Zi mei mei kamu kenapa ?"
tanya Sun er sambil memegangi pundak adiknya.
"Kakak tampan,..kakak tampan,.."
"Dia sudah tiada..kak.."
"Hu...hu...hu..hu..!"
ucap Zi Zi sambil menangis sedih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang kecil.