
Hadirin semuanya mohon kalian sudi menjadi penengah untuk masalah ini,
"Aku katakan saja terus terang, aku datang kemari sebagai tamu undangan kakek Zhu..."
"Aku bukan datang untuk menjadi peserta.."
"Aku terlibat karena ingin menolong bibi kecil ku, yang hampir di celakai olehnya.."
"Seandainya dia tidak menyerang, saat bibi kecil ku muncul, atau dia membatalkan serangannya."
"Karena ada gangguan anak kecil, lalu meminta pihak panitia mengurus anak kecil yang menyelonong ke mimbar.."
"Aku tentu tidak akan terlibat, malahan aku akan meminta maaf dan memberikan ganti rugi padanya.."
"Intinya aku hanya membela bibi kecil ku saja.."
"Para hadirin terhormat, kalian juga bisa lihat sendiri.."
"Orang ini jelas seorang biksu, tapi dia masih ingin ikut sayembara.."
"Tindakan nya bukan hanya melecehkan tuan rumah, tapi juga aliran kepercayaan tertentu.."
"Satu hal lagi, kalian boleh lihat sendiri.."
Belum selesai ucapan nya, Nan Thian sudah melesat kearah biksu muda itu.
Tangannya membentuk cakar ingin mencengkram ubun ubun si biksu muda yang terlihat tak berdaya itu.
Semua yang hadir kaget, tapi mereka tidak ada yang sempat mencegah gerakan Nan Thian yang terlalu tiba tiba itu.
Tapi di luar dugaan di detik terakhir cakar Nan Thian hampir mengenai ubun ubun kepala biksu muda itu.
Biksu muda itu tiba tiba memberikan tangkisan dengan telapak tangannya yang mengeluarkan cahaya emas.
Sekaligus dia menyarangkan tapak nya yang lain kearah perut Nan Thian.
Dia tidak terlihat seperti orang terluka parah, dia terlihat sangat sehat dan normal.
"Plakkkk..!"
"Dessss.!"
"Breettt...!"
Dalam satu detik bersamaan, cakar Nan Thian berhasil di tangkis oleh biksu muda itu.
Tapak biksu muda itu juga bersarang tepat di dada Nan Thian.
Cakar tangan Nan Thian yang satu lagi berhasil mencengkram wajah biksu muda itu, sekali di tarik oleh Nan Thian.
Muncullah sesosok wajah baru disana, seorang pria berusia hampir 50 an, dengan kepala tetap botak dan ada titiknya.
Tapi wajahnya jauh berbeda, sepasang matanya sipit tajam, alisnya di cukur hingga tak punya alis, hidungnya Bangir mirip hidung penjahat ke la min, bibirnya juga terlihat agak cabul.
Semua yang hadir terkejut melihat kenyataan itu.
Di tangan Nan Thian terlihat ada sebuah topeng kulit manusia.
Sedangkan tapak biksu muda yang menghantam dada Nan Thian tertahan oleh kabut merah transparan yang melindungi tubuh Nan Thian.
Itu adalah Ciu Yang Hu Ti Sen Kung, yang bergerak otomatis melindungi tubuh tuannya.
Cakar Nan Thian lainnya yang tertangkis berbelok dengan cepat mencengkram leher pria itu.
"Katakan dengan jujur, siapa kamu sebenarnya ? mengapa menyamar menjadi biksu ?!"
bentak Nan Thian sambil mengeratkan cengkraman tangan nya.
Mengunci tenggorokan pria itu hingga wajahnya merah padam karena sulit bernafas.
Melihat dia seperti ingin mengatakan sesuatu, Nan Thian baru mengendorkan cengkraman tangannya.
Begitu bisa bernafas, pria itu langsung terbatuk-batuk.
Sesaat kemudian dia berkata,
"Aku tidak menyamar jadi biksu, aku memang biksu asli, nama ku Kimura aku datang dari negeri Thai Yang (Matahari )."
"Bohong..! mana ada biksu yang boleh berkeluarga..!"
bentak Nan Thian bengis.
"Benar Ta Sia,.. aku tidak bohong, di negeri kami memang diijinkan."
Nan Thian melepaskan cengkraman, juga melepaskan daya tempel, yang menahan telapak tangan pria itu.
Para tamu masing masing mulai kasak kusuk saling memberikan komentar atas rangkaian peristiwa mengejutkan yang terjadi di depan mereka.
Nan Thian menghadap kesemua tamu yang hadir di sana dan berkata,
"Hadirin yang terhormat, kalian lihat sendiri, orang ini dari sisi apapun tidak layak ikut sayembara ini.."
"Dia hanya pengacau.. kini semuanya akan ku serahkan ke pihak penyelenggara untuk memutuskan.."
ucap Nan Thian sambil memberi hormat kesemuanya.
Setelah itu dia mencengkram bagian belakang kerah baju pria itu, menyeretnya kehadapan kakek Zhu dan berkata,
"Senior, sekali lagi aku minta maaf telah mengacaukan acara anda.."
"Orang ini ku serahkan kepada senior, aku sebaiknya permisi saja dari sini.."
ucap Nan Thian sambil memberi hormat dalam dalam.
Kakek Zhu bangun berdiri dari tempat duduknya, membalas penghormatan Nan Thian dan berkata,
"Tak perlu seperti ini, kesalahan tidak terletak pada anda pendekar muda ."
"Harap duduklah sebentar, anggap saja memberi muka pada yang tua ini.."
"Biar aku selesaikan dulu permasalahan di sini.."
ucap Kakek Chu dengan tatapan mata penuh harap.
Nan Thian menghela nafas panjang, dia tidak tega menolaknya.
Lagipula kedua bibi dan paman kecilnya tidak terlihat lagi, tidak tahu di bawa kemana oleh Siau Yen.
Yang jelas di sana kini baik Siau Yen maupun bibi kecilnya Siau Yen, mereka berdua tidak ada ditempat.
Akhirnya Nan Thian membalas penghormatan kakek Zhu dan berkata,
"Baiklah senior,.. silahkan saja.."
Dia lalu kembali duduk di tempatnya, membiarkan kakek Zhu menyelesaikannya sendiri.
Kakek Zhu setelah berhasil menahan Nan Thian,. dia kini menyeret pria yang dalam keadaan tertotok itu kehadapan ketiga Biksu Shaolin yang ikut hadir di sana.
Kakek Zhu memberi hormat kemudian berkata,
"Hui Neng Fang Cang,.. kebetulan anda bertiga hadir di sini, untuk masalah biksu ini.."
"Aku rasa paling tepat adalah di serahkan kepada biksu bertiga.."
Ketiga biksu itu ikut membalas penghormatan dari kakek Chu dan berkata,
"Terimakasih saudara Chu, telah begitu menghargai kami."
"Sehingga memberikan kami kesempatan, untuk menyelesaikan masalah ini.."
"Di sini sekali lagi kami ucapkan terima kasih sekaligus mohon pamit.."
"Agar bisa segera membereskan orang ini, dan mengembalikan dia ke negeri asalnya sana ."
ucap Hui Neng Fang Cang sambil memberi hormat, diikuti oleh kedua saudara seperguruannya.
Lalu mereka bertiga langsung meninggalkan tempat tersebut, sambil membawa Kimura ikut dengan mereka.
Setelah menyelesaikan masalah pengacau itu, kakek Zhu memberi hormat kesemua tamu undangan dan berkata,
"Hadirin yang terhormat, atas kekacauan ini, aku si marga Chu dan sekeluarga memohon maaf sebesar besarnya dari kalian semuanya.."
"Acara pesta makan minum bisa terus di lanjutkan, tapi acara sayembara terpaksa, si marga Chu menutupnya.."
"Agar tidak menimbulkan masalah masalah yang tidak perlu.."
"Bagi para tamu undangan yang sekiranya berminat, mengikat hubungan lebih jauh dengan cucu ku.."
"Kami akan menyambutnya dengan tangan terbuka, silahkan kalian ajukan lamaran kalian.."
"Aku kira hanya sekian, pesan dari kami terimakasih semuanya.."
Lalu kakek Chu memberi kode kearah pelayanannya, agar segera menyiapkan hidangan untuk para tamu undangan.
Sesaat kemudian pesta pun kembali di lanjut, para tamu segera di arahkan ketempat meja meja dan hidangan makan dan minum yang mulai di sajikan.
Sedangkan mimbar yang rusak pun kini mulai di bongkar oleh pelayan dan murid murid perguruan akar dewa.