PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SERIGALA HITAM


"Berhenti..!"


Bentak salah seorang yang baru melayang turun dari atas pohon.


"Yuuuuu,..!"


"Hiiiiiieekkk...!"


Nan Thian menghentikan laju kudanya, sambil berusaha menenangkan kudanya yang kaget.


Nan Thian berhasil menghentikan laju kuda dan kereta nya, tepat 2 meter jaraknya dari para penghadang jalannya itu.


"Apa yang terjadi kak, ?"


Tanya Zi Zi kembali membuka kain penutup kereta.


Zi Zi, Siau Yen dan Siu Lian sedikit kaget oleh kereta yang berhenti mendadak itu.


Makanya mereka bertiga ingin tahu, apa yang terjadi di luar sana.


"Tidak ada apa-apa, murid keponakan akan mengurusnya.."


"Bibi kecil tunggu saja di dalam."


ucap Nan Thian cepat.


"Hei kamu dan semua yang di dalam kereta cepat turun..!"


"Serahkan kereta dan semua barang kalian, baru boleh lewat sini..!"


Bentak orang yang memimpin kelompok penghadang itu.


Dia adalah seorang pria berbibir tebal, mirip bibir tersengat tawon.


Biasanya di panggil kakak Long, lengkapnya Long Hu


Dia adalah pimpinan perampok gunung, yang terkenal dengan nama kelompok serigala hitam.


Nan Thian melompat turun dari kereta, lalu berjala menghampiri mereka.


Nan Thian memberi hormat dan berkata dengan sopan,


"Kakak sekalian, mohon Sudi kiranya melepaskan kami.."


"Kami tidak membawa apa apa, selain beberapa ransum kering buat bekal perjalanan kami.."


"Jangan banyak bacot..!'


'Serahkan, terus minggat, atau kami akan menghabisi mu.,!"


bentak Long Hu bengis.


Nan Thian menatap Long Hu dengan tajam dan berkata,


"Sebaiknya kalian menyingkirlah, agar semua lebih mudah.."


"Dasar bocah tengik, bila masih banyak bacot, jangan salahkan aku..!"


"Srenggg...!"


ucap Long Hu , sambil mencabut keluar goloknya, dengan sikap mengancam.


Nan Thian tersenyum tenang dan berkata,


"Ada masalah seharusnya, di bicarakan dengan baik, bukan dikit dikit diselesaikan dengan asal menarik senjata.."


"Awas senjata makan tuan.."


ucap Nan Thian sambil tersenyum, berusaha menahan sabar.


"Masih juga banyak bacot,..!"


"Habisi dia..!"


bentak Aling marah.


Anak buahnya langsung maju mengepung Nan Thian, lalu mereka mulai bergerak menyerang Nan Thian.


"Wuuutttt..!"


"Wuuutttt..!"


"Wuuutttt..!"


Golok berseliweran mengancam Nan Thian.


Dengan gerakan ringan dan gesit, menggunakan tangan kosong, Nan Thian bergerak mencengkram tangan, orang yang pertama yang menyerang nya.


"Arggghh,..!"


penyerang itu menjerit kesakitan, dia tidak mampu mempertahankan golok di tangannya.


Selanjutnya dia diseret oleh Nan Thian untuk menyambut hujanan senjata temannya yang lain.


Penyerang pertama yang sial, itu dalam sekejab sudah bersimbah darah penuh luka bacok.


Dia hanya bisa berteriak teriak kesakitan seperti ba bi di sembelih.


Teman temannya sangat kaget, saat menyadari serangan mereka malah melukai rekan mereka sendiri.


Belum sempat kagetnya hilang, tubuh temannya yang bersimbah darah itu.


Sudah menimpa kearah mereka hingga mereka jatuh tumpang tindih.


Melihat anak buahnya di permainkan dengan mudah oleh Nan Thian.


Along segera maju ikut mengeroyok sambil berteriak "Habisi dia dulu, baru kita urus yang di kereta.."


Puluhan orang itu mulai bergerak menyerang Nan Thian dari segala penjuru.


Nan Thian berseliweran di sekitar mereka, lalu dengan gerakan cepat.


Dia menotok dan menggunakan golok ditangan Along, untuk menebas tangan pengepung nya, yang memegang golok.


"Arggghh,..!"


Terlihat potongan tangan yang memegang golok, berhamburan di udara.


Sedangkan para pengepung itu kini berteriak teriak kesakitan sambil bergulingan di atas tanah.


Terakhir Along sendiri,. dirampas goloknya oleh Nan Thian.


"Crokkk..!"


"Ahhhhh,..!"


Along juga berteriak kesakitan sambil bergulingan di atas tanah.


Nan Thian membuang golok di tangannya tepat di dekat wajah Along.


"Siuuut..!"


"Creebbbb..!"


gagang golok sampai bergoyang-goyang,.saat mata golok 1/4 nya menancap diatas tanah.


"Makanya, jangan sembarangan menggunakan senjata, bila tidak ingin melukai diri sendiri..!"


"Ini jadi pelajaran buat kalian semua.."


ucap Nan Thian tenang.


Lalu tanpa menghiraukan mereka, Nan Thian kembali ke kereta kudanya.


Mengendarainya, mengambil jalan sedikit melingkar, melewati mereka tanpa banyak bicara lagi.


Nan Thian tahu mereka tidak akan mati, tapi kedepannya mereka tidak bisa lagi berbuat jahat, menindas orang lain.


Hutan yang Nan Thian masuki adalah hutan serigala hitam, makanya perampok perampok itu menggunakan nama kelompok perampok serigala hitam.


Mereka hanya menjadi penguasa pinggiran hutan saja.


Sedangkan bagian dalam dan tengah hutan, mereka tidak berani sembarangan masuk kedalam hutan itu


Karena di bagian tengah hutan yang lebih gelap, banyak berkeliaran serigala ganas yang hidupnya berkelompok.


Melewati perampok itu, saat mulai memasuki bagian lebih dalam dari hutan itu.


Kuda kuda penarik kereta mulai meringkik ringkik gelisah dan ketakutan.


Sepasang mata Nan Thian yang tajam, melihat di balik gerombolan semak tinggi di kanan kiri jalan.


Terlihat ada bayangan bergerak cepat, mengiringi larinya kereta kuda, yang sedang di kendalikan nya.


"Kakak sepertinya ada yang mengikuti kita,.."


ucap Sun er yang duduk di sebelah Nan Thian.


Meski usianya baru sepuluh tahun, tapi Sun er sangat tabah dan berani.


Dia tidak terlihat takut dalam situasi apapun, termasuk saat melihat perampok yang kehilangan tangan dan menjerit jerit kesakitan.


Sun er bersikap biasa saja, dia juga tidak banyak bertanya.


Sun er saat berusia 5 tahun dia pernah melihat situasi yang jauh lebih mengerikan.


Sehingga dia sudah terbiasa, tidak heran lagi atas kekejaman manusia yang melebihi binatang buas.


Binatang buas membunuh adalah karena lapar, kalau manusia membunuh adalah demi kepuasan dan kesenangan.


Nan Thian mengangguk kecil dan berkata,


"Itu adalah kawanan serigala, bila dia tidak menganggu."


"Aku juga tidak akan berurusan dengan mereka.."


Tapi baru saja ucapan Nan Thian selesai.


Sudah terlihat beberapa ekor serigala melompat keluar dari balik hutan, ingin menerkam kuda Nan Thian, yang sedang berlari ketakutan.


"Hiiiehhh...!!"


Kuda Nan Thian meringkik ketakutan.


"Dess,..!"


"Dess,..!"


"Dess,..!"


"Kainggg..!"


Kainggg..!"


Kainggg..!"


Nan Thian sambil mengendalikan laju kudanya, dengan tangan kanan.


Dia melepaskan pukulan udara kosong dengan tangan kirinya, kearah serigala yang berhasil menempel ataupun yang baru hendak menerkam kudanya.


Hingga serigala serigala itu terpental balik kedalam semak belukar di pinggir jalan.


Tapi kelompok serigala itu terlihat pantang menyerah, mereka mengikuti perintah lolongan dari raja mereka.


Nan Thian melihat ada seekor serigala hitam besar mengikuti dari jauh sambil menyalak dan melolong keras.


Seperti sedang memberi komando kearah pasukan serigala nya, untuk terus bergerak menyerang.


Kuda kuda Nan Thian mulai renang, karena tidak ada terkaman serigala yang mampu mendekati mereka.


Serigala serigala itu selalu terpental oleh pukulan udara kosong yang Nan Thian lepaskan.


Pukulan itu mengandung tenaga sakti Ih Jin Jing, sangat keras dan kuat.


Tenaga Nan Thian terus terisi tanpa putus, lama lama serigala itu jumlahnya mulai berkurang