
Begitupula dengan Fei Yang dan Xue Lian, mereka juga meluncur menyusul di belakangnya energi pedang es dan api.
Seluruh tubuh mereka berdua memancarkan 6 cahaya kebajikan.
Pertemuan pertama bayangan Buddha Sakyamuni dan hujan pedang es dan api.
Menimbulkan ledakan dahsyat.
"Boommm,..!"
Baik hujan energi pedang api dan es, maupun bayangan Buddha Sakyamuni 10.000 tangan.
Semuanya sirna, tapi Bayangan Budha Sakyamuni 10.000 tangan kembali muncul dengan kekuatan hasil menyerap energi api dan es.
Menjadi beberapa kali lipat jauh lebih dahsyat,
Lalu menyambut serangan susulan dua energi pedang raksasa.
"Boooom...!!"
Pertemuan kedua kali,sekali lagi menimbulkan ledakan yang jauh lebih dahsyat ketimbang sebelumnya.
Kini bayangan Budha Sakyamuni lah yang meledak hancur tak berbekas.
Saat benturan pedang api dan es raksasa dengan bayangan Buddha Sakyamuni raksasa terjadi.
Energi pedang api dan es yang di serapnya tadi, memberontak dari dalam.
Melesat keluar dari seluruh tubuh bayangan Buddha Sakyamuni, lalu menyatu ke pedang api dan es.
Akhirnya bayangan Buddha Sakyamuni kembali meledak hancur untuk yang kedua kalinya.
"Boommm,...!"
Sekali ini semua luluh lantak tak berbekas tak bisa menyatu kembali
pedang es dan api terus meluncur kearah 9 biksu yang seperti ulat naga emas, dengan bagian paling depan di wakili oleh biksu kesembilan.
Dengan kekuatan tapaknya dia berhasil meluluh lantakan bayangan pedang merah biru.
"Crashhh..!'
Lalu meluncur menyambut kedatangan Fei Yang dan Xue Lian.
"Wusss,..!"
Kembali terjadi ledakan yang jauh lebih dahsyat.
"Plakkkk,..!"
"Boooom,..!"
Sehingga mereka semua terpental kealam dimensi lapis pertama, ke 9 biksu terlihat melayang lunglai jatuh dari ketinggian.
Meluncur kearah samudera,.tapi saat terjadi benturan dengan air laut.
Di mana tubuh mereka tenggelam ke bawah, senjata di dada mereka masing masing mengeluarkan cahaya.
Sehingga tubuh mereka pada kembali muncul diatas permukaan air mengambang di sana.
Fei Yang dan Xue Lian sendiri, tetap melayang di udara,
Fei Yang terlihat sedang memeluk erat Xue Lian melindunginya dengan energi 6 cahaya kebajikan, agar istrinya, jangan terkena efek guncangan, kekuatan ledakkan yang sangat mengerikan itu..
Melihat situasi sudah tenang, Fei Yang baru melepaskan pelukannya.
Lalu dia menggerakkan kedua tangannya menggulung tubuh 9 biksu itu, mengikatnya dengan air.
Lalu kesembilan orang itu dia bawa keluar dari portal dimensi,.dan di geletakkan dengan pelan di atas tanah.
Dia dan Xue Lian perlahan lahan mendarat keatas tanah di hadapan ke 9 biksu itu.
Biksu ke 9 sambil membuka sepasang matanya dia berbicara dengan normal.
"Omitofo,..Buddha melindungi kalian semuanya."
"Terima kasih anak muda kamu sudah membebas tugaskan kami dari perjanjian dengan pemilik lembah sesat ini.."
"Kemampuan anda berdua sungguh menakjubkan, tapi berhati hatilah setelah ini masih ada ujian yang jauh lebih berat.."
"Kami pamit permisi dulu.."
ucap biksu ke 9 mengingatkan, sekaligus memberi hormat, yang diikuti oleh ke 8 biksu lainnya.
Setelah itu mereka berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah ringan.
Fei Yang diam diam kagum dengan kekuatan 9 senjata Buddha itu.
Berkat kekuatan senjata itulah, ke 9 biksu tua ini, selalu berhasil di pulihkan kembali kekuatan mereka.
Tapi mereka belum sepenuhnya menguasai rahasia dari ke 9 senjata ajaib itu.
Bila senjata itu ada mereka pahami rahasianya, kemungkinan besar dia dan Xue Lian yang akan tewas di tangan ke 9 biksu itu.
Fei Yang sampai sulit membayangkan, bila ke 9 senjata itu di mainkan oleh Buddha Sakyamuni pribadi.
Itu adalah tingkatan level.yang sulit di bayangkan oleh umat Manusia maupun dewa sekalipun.
Sambil menghela nafas panjang Fei Yang menoleh kearah istrinya dan berkata,
"Ayo sayang, mari kita lanjutkan perjalanan kita.."
Xue Lian mengangguk dan berkata,
"Tadi itu sungguh dahsyat, 4 alam dimensi hanya tersisa satu alam dimensi.."
"Tidak kebayang bila kamu salah prediksi, tempat ini pasti tidak akan ada lagi.."
ucap Xue Lian sambil menatap Fei Yang dengan serius.
Fei Yang mengangguk sambil menatap istrinya dengan serius dia berkata,
"Kamu benar, awalnya aku memprediksi dua portal dimensi cukup.."
"Untungnya untuk berjaga-jaga, aku membuatnya menjadi 4 sehingga kini semuanya dalam keadaan baik baik saja."
Sambil mengobrol bergandengan tangan mereka melewati daerah tersebut, menuju ketempat Ku Tu Ciu Su dulu berada.
Fei Yang dan Xue Lian saling pandang sambil tersenyum, saat melihat hutan bambu kuning, disekitar mereka bergerak gerak sendiri.
"Sayang kamu masih ingat tidak perjumpaan pertama kita dulu..?"
ucap Fei Yang sambil menoleh menatap kearah istrinya.
Sepasang pipi Xue Lian menjadi merah dan berkata,
"Dasar tidak tahu malu.."
Fei Yang langsung tertawa, kemudian berkata,
"Bukan itu maksud ku, kamu pikir kemana.."
"Maksud ku, aku menggendong mu di punggung, kamu menunjukkan jalan dan aku mengikuti arahan mu.."
ucap Fei Yang sambil menahan senyum.
Xue Lian pun tersenyum dan berkata,
"Yang ini lebih baik.."
"Sayang kita bernostalgia yuk, untuk keluar dari tempat ini.."
ucap Fei Yang sambil mengambil posisi setengah berjongkok memunggungi istrinya.
Fei Yang menoleh kebelakang dan tersenyum penuh arti.
Sambil menahan senyum, Xue Lian segera melompat dan menempel di punggung suaminya.
Dia melingkarkan kedua tangannya yang putih mulus, menggantung di depan dada suaminya.
Setelah itu dia mulai memberi petunjuk kepada Fei Yang, persis seperti momen kebersamaan mereka dulu waktu baru saling kenal.
Fei Yang melangkah mengikuti petunjuk istrinya, Xue Lian sambil memberi petunjuk, dia terus tersenyum bahagia mengenang momen kebersamaan mereka.
Melihat senyum bahagia istrinya, Fei Yang pun ikut tersenyum bahagia.
Beberapa saat berlalu akhirnya mereka berdua keluar juga dari deretan hutan bambu kuning.
Pemandangan setelah keluar dari dalam hutan bambu kuning, tetap tidak ada perubahan sama sekali.
Mereka berdua langsung di suguhkan pemandangan, sebuah tempat yang tidak begitu luas.
tempat tersebut dii kelilingi oleh tebing tinggi dan tirai air terjun, dengan sebuah kolam penampung air terjun yang jernih airnya.
Di bagian luar kolam, ada beberapa aliran air dangkal, yang terus mengalir kesebuah anak sungai dangkal dengan dasar sungai di lapisi bebatuan.
Sehingga air di sungai kecil itu, terlihat sangat bening dan jernih.
Di tepi kolam air terjun diatas sebuah tonjolan batu datar, terlihat duduk seorang kakek dengan rambut putih sedang tersenyum sedih menatap Fei Yang.
"Anak muda kita kembali bertemu, mungkin ini yang namanya jodoh.."
"Sayangnya pertemuan kita, tidak dalam suasana yang seperti pernah kami harapkan.."
ucap kakek itu sambil tersenyum pahit.
Fei Yang terlalu kaget melihat kehadiran kakek di hadapannya, sehingga dia sampai kesulitan berkata-kata.