
Ada begitu banyak hal yang ingin dia tanyakan, hingga Fei Yang sendiri bingung mau mulai bertanya dari mana.
Melihat keraguan Fei Yang, Fei Hsia tidak mau memaksanya.
Dia berpikir, semakin di paksakan, Fei Yang nantinya bukan percaya, malah ada kemungkinan, Fei Yang akan kehilangan kepercayaan padanya.
Fei Hsia sambil menggenggam tangan Fei Yang dengan lembut, dia berkata,
"Kakak Yang kamu boleh percaya boleh tidak, tapi aku tetap akan bercerita pada mu.."
"Karena ini adalah tugas dan tanggung jawab ku sebagai seorang istri..'
"Menjaga merawat mendukung dan selalu berusaha mengerti dan memahami apa pun kondisi mu."
"Nama mu Li Fei Yang, kamu berasal dari Xi Xia, dahulu aku adalah istri mu, kita sudah menikah secara resmi.."
"Tapi kita belum menjadi pasangan suami istri dalam arti yang sebenarnya.."
"Karena tugas dan tanggung jawab yang kamu pikul sangat banyak.."
"Sebagai istri aku hanya bisa mendukung dan menanti kamu menyelesaikan satu persatu tugas mu.."
"Kamu jadi seperti ini karena dalam menjalankan tugas terakhir mu sebagai darma Seorang pendekar.
"Kamu bertemu dengan lawan hebat, meski kamu menang dan berhasil menewaskan nya, kamu sendiri mengalami cedera berat di bagian kepala."
"Meski nyawa mu tertolong berkat ilmu yang kamu kuasai, tapi cedera berat di kepala mu membuatmu kehilangan ingatan.."
ucap Fei Hsia menutup ceritanya.
Fei Hsia memilih diam sejenak, membiarkan Fei Yang mencerna ceritanya barusan.
Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sedih Fei Hsia menatap Fei Yang, lalu kembali berkata,
""Selama ini aku selalu menanti kamu berhasil menyelesaikan semua tugas mu.."
"Kini adalah akhir dari penantian ku, akhirnya kamu berhasil menyelesaikan semua tugas mu.."
"Dan hasil akhir dari penantian ku adalah kamu telah melupakan ku, melupakan tentang kita, melupakan semuanya.."
"Bahkan ada kemungkinan kamu tidak lagi mempercayai ku.."
"Terimakasih kakak Yang, terimakasih atas semuanya, sekarang kamu sepenuhnya bebas menentukan langkah mu.."
"Kamu boleh pergi cari tahu sendiri semua kebenaran tentang cerita ku barusan.."
"Permisi.."
ucap Fei Hsia sambil menahan suara Isak tangisnya, lalu dia berlari masuk kedalam kamar nya.
Mendengar ucapan dan sikap Fei Hsia barusan, Fei Yang jadi duduk termenung.
Di dalam hati Fei Yang mulai bersimpati terhadap Fei Hsia, dia mulai merasa bersalah.
"Fei Yang ohh Fei Yang dia adalah istri mu, mengapa kamu tega menyakiti perasaannya sampai dia bersedih seperti itu..?"
"Dia adalah seorang wanita, gadis yang sangat cantik pula, bila di masa lalu kalian tidak punya hubungan khusus.."
"Apa mungkin dia mau merendahkan diri mengaku ngaku sebagai istri mu,?"
"Apa mungkin dia mau merawat menjaga dan menunggui mu dengan sepenuh hati..?"
"Tapi sebagai gantinya, apa yang kamu berikan kepada nya,? kamu melupakan nya bahkan mencurigai nya ."
"Apa kamu masih seorang pria,?apa kamu masih bisa dianggap sebagai seorang manusia..?"
Di dalam pikiran Fei Yang kini terjadi pertentangan hebat, di mana ada suara lainnya, yang memaki maki dirinya.
Selain memaki suara itu juga mengemukakan berbagai alasan yang logis untuk nya.
Fei Yang yang bingung, akhirnya memilih meringkuk di atas lantai, sambil memegangi kepalanya sendiri yang terasa nyeri dan sakit luar biasa.
Menjelang pagi Fei Hsia keluar dari dalam kamar nya, melihat Fei Yang yang tidur meringkuk di lantai.
Fei Hsia membawakan selimut menyelimutinya.
Setelah itu dia memilih duduk menemani di samping Fei Yang.
Dia duduk termenung sambil menatap wajah Fei Yang lekat lekat.
Di dalam hati, dia juga mengalami pertentangan batin, dari semalam pun dia belum tidur sepasang matanya yang indah sedikit merah dan bengkak akibat menangis.
Di sisi lain dia merasa berat untuk kehilangan Fei Yang.
Fei Yang perlahan lahan membuka kedua matanya, saat merasakan ada sinar matahari yang menembus pelupuk matanya.
Sinar itu merembes dari sela sela kayu bilik kapal yang ada celahnya.
Begitu sepasang matanya terbuka, hal pertama yang di lihat oleh nya adalah.
Dia melihat Fei Hsia tidur tertelungkup dengan kepala miring di pinggulnya.
Melihat keadaan Fei Hsia, dimana sepasang matanya yang tertutup rapat terlihat sedikit bengkak.
Hati Fei Yang menjadi terenyuh, ada perasaan bersalah dan tidak tega menyelimuti hatinya.
Pergerakan kecil Fei Yang, langsung membuat Fei Hsia terbangun dari tidurnya.
"Kakak Yang kamu sudah bangun, maaf aku telah menganggu tidur mu.."
ucap Fei Hsia cepat.
Secara reflek dia bangun untuk duduk dan merapikan rambut yang agak sedikit berantakan.
Gerakan sederhana Fei Hsia, justru membuat Fei Yang terpesona dan menatap kearah Fei Hsia dengan tatapan mata penuh rasa kagum.
Fei Hsia tersenyum malu, saat menyadari tatapan mata Fei Yang kepada dirinya.
Untuk menutupi rasa malunya, dengan sikap agak grogi dia buru-buru berkata,
"Kakak Yang kamu berbaringlah dulu, aku mau pergi siapkan sarapan untuk mu.."
Setelah itu dia langsung bergegas bangun meninggalkan Fei Yang.
"Fei Yang kamu dasar genit tidak tahu malu, kamu lihat tingkah mu malah menakutinya.."
"Semalam kamu menyakitinya dengan sikap mu yang sok suci dan penuh curiga.."
"Kini kamu menakutinya dengan sikap mata keranjang mu yang memalukan.."
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan.."
tegur suara di dalam kepalanya mencak mencak memaki dirinya sendiri.
Fei Yang sambil memukul mukul kepalanya sendiri, lalu bangkit duduk.
Sesaat kemudian dia berpindah duduk menghadap kearah jendela.
Melihat air di luar sana mulai berombak dan berwarna biru.
Fei Yang sadar, kini dia sudah berada di tengah lautan, jauh meninggalkan daerah daratan.
Fei Yang termenung melihat kearah burung burung berbulu putih terbang bebas diudara.
Sesekali mereka akan terbang turun kebawah menyambar ikan dengan paruhnya yang runcing dan agak sedikit panjang.
Sambil termenung Fei Yang berkata seorang diri,
"Mungkin ini yang terbaik, meninggalkan semua nya, dan memulai hidup baru bersama nya.."
"Aku akan belajar memahami mengerti dan mencintainya.."
"Biar kami memulai lembaran hidup baru di tempat baru, hidup hanya kami berdua, tanpa ada gangguan dari luar sana.."
ucap Fei Yang seorang diri, mengambil keputusan atas masa depan nya sendiri.
Fei Yang menghela nafas, seolah olah ingin membuang semua beban pikirannya.
Lalu menghirup nafas dalam dalam seolah olah ingin mengumpulkan kekuatan untuk menjalani kehidupannya yang baru.
Bagaikan selembar kertas kosong yang belum ada coretan, mirip seorang anak yang baru saja terlahir kembali.
"Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk melupakan semuanya dan memulai hidup baru.."
batin Fei Yang dalam hati.
"Kakak Yang,..! sarapan tiba..! ayo cicipi sup ikan dan bubur udang hasil karya ku.."
ucap Fei Hsia yang baru saja melangjah masuk kedalam bilik kapal, sambil tersenyum gembira.