PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MEMASAK DI TEMANI SAGA SAGI


Fei Yang melanjutkan dengan langkahnya mengunjungi makam leluhur Xu San.


Tapi saat tiba di sana, melihat makam makam itu di tumbuhi rumput panjang tak terawat.


Fei turun tangan membersihkan dan merapikan makam makam itu, Baru dia berlutut dan memberi hormat di depan makam para leluhur Xu San itu


Selesai dari sana, Fei Yang pun pergi menuju Hutan bambu sesat, dengan menggunakan peta yang pernah di berikan oleh Xue Lian.


Tanpa kesulitan Fei Yang berhasil melewati deretan formasi hutan bambu itu.


Fei Yang berhasil keluar dari balik hutan bambu, berdiri termenung menatap pemandangan di hadapannya yang tidak pernah berubah sedikitpun.


Masih tetap sama persis seperti waktu waktu sebelumnya, di mana dia pertama kali di bawa oleh Xue Lian kemari, hutannya, mahluk mahluk legenda nya, semua masih ada dan lengkap.


Tapi Fei Yang justru tidak melihat adanya Xue Lian di sana.


Tanpa sadar Fei Yang tangannya memegang sebuah patung ukir dan sebuah tas kecil yang menyiarkan wangi lembut.


Fei Yang dengan langkah pelan sambil memegang kedua benda itu ditangan kiri kanannya, dia terus berjalan menuju bagian tengah tempat penuh kenangan itu, yang pernah menjadi tempat kediaman sementara dirinya dan Xue Lian.


Fei Yang melihat ada dua pondok yang pernah dia bangun masih berdiri kokoh di sana.


Tapi suasana sangat sepi seperti tidak ada tanda tanda kehidupan.


Selagi Fei Yang sedang berdiri keheranan di depan halaman kedua pondok itu.


Tiba-tiba terdengar suara yang Fei Yang kenal,


"Nona tidak ada,..! Nona tidak ada,..!"


"Kenapa pemuda beruntung baru datang,..!?"


"Nona sangat sedih,..! sangat sedih,..!"


"Nona telah pergi,..! pergi,..!"


"Pergi,..! tak kembali lagi..!!"


celoteh burung kakak tua putih sambil berterbangan di atas kepala Fei Yang.


Mendengar celoteh burung itu, Fei Yang pun jadi tahu Xue Lian telah pergi meninggalkan tempat ini.


"Kemana dia selama ini ?"


"Apa dia pergi dari sini untuk mencari ku..?"


"Tapi dia tidak pernah datang menemui ku..?"


"Apa telah terjadi sesuatu padanya,..?"


"Tidak mungkin,.. ilmunya tidak berada di bawah ku.."


"Akan sulit ada orang yang bisa mencelakainya.."


Batin Fei Yang seorang diri dengan bingung.


"Lalu sebenarnya kemana dia selama ini,..?"


pikiran Fei Yang menjadi kusut dan cemas.


Hatinya menjadi tidak tenang,.ada rasa bersalah besar menghinggapi hatinya.


Dia akan menikah sebentar lagi, tapi sahabat baiknya dan penyelamat hidupnya, malah hilang tanpa jejak.


Semakin pikir semakin pusing Fei Yang hati dan pikirannya menjadi tidak tenang.


Fei Yang melanjutkan langkahnya hingga tiba di depan pintu pondok, yang menjadi tempat tinggal Xue Lian.


Fei Yang mendorong pintu yang tidak terkunci itu, hingga terbuka lebar.


Fei Yang melihat suasana di dalam pondok tidak ada perubahan sedikitpun.


Semuanya masih tetap sama, yang berbeda hanya banyak sarang laba laba dan debu yang menempel di hampir seluruh ruangan.


Melihat hal itu Fei Yang pun memutuskan membantu membersihkan semua nya.


Bila nanti dia pergi sahabatnya pulang setidaknya sahabatnya akan menyadari dia pernah datang kemari memenuhi janjinya dulu.


Dengan demikian rasa bersalah nya akan sedikit berkurang, pikir Fei Yang dalam hati.


Dari pondok tempat tinggal Xue Lian, Fei Yang melanjutkan dengan berpindah membersihkan ke pondok di sebelahnya.


Setelah beres, Fei Yang membawa semua selimut seprei tempat tidur pergi ketepi sungai mencuci dan menjemurnya.


Fei Yang juga membawa keluar kasur dan bantalan tempat tidur untuk di bersihkan dan di jemur.


Sambil menunggu jemuran kering, Fei Yang melanjutkan dengan pergi kedapur, membersihkan membereskan dapur, lalu Fei Yang mulai memasak semua masakan kesukaan Sahabat baik nya itu.


Baru Fei Yang selesai memasak satu masakan, Saga Sagi tiba-tiba sudah muncul.


Kedua kucing besar itu duduk manis tidak jauh dari dapur mereka terus memperhatikan Fei Yang yang sibuk memasak.


"Kalian berdua memang beedebah besar, pantas Xue Lian suka menghukum kalian."


"Aku sudah tiba dari tadi, kalian tidak keluar menyambut ku, bahkan bayangan pun tidak terlihat.."


"Ku pikir kalian berdua sudah mampus,.."


"Tapi begitu aku masak, kalian baru muncul,.."


ucap Fei Yang mengomeli kedua kucing besar itu, sambil terus memasak tanpa menoleh.


Tapi melihat kedatangan kedua mahluk itu, Fei Yang pun menambah jumlah porsi masakan nya menjadi lebih banyak.


Setelah semua masakan siap, di atas meja dan sudah di tutupi dengan rapi Fei Yang pun berkata,


'Kalian berdua tunggu di sini, aku mau mandi.."


"Jaga baik baik makanan di atas meja,.."


"Jangan mencuri atau aku akan menghukum kalian.."


ucap Fei Yang sambil mengerahkan petir langit kesembilan meluncur turun menyatu dengan telapak tangannya.


Melihat yang Fei Yang tunjukkan, kedua kucing besar itu kini duduk mengkeret dengan tubuh gemetaran.


Mereka bahkan tidak berani menatap Fei Yang, kepala mereka tertunduk hingga dagu menyentuh lantai.


Setelah memberikan peringatan Fei Yang baru pergi menuju air terjun buat mandi menyegarkan badannya yang lengket dan gerah, sehabis memasak.


Fei Yang tidak mau kejadian yang lalu kembali berulang oleh ulah kedua kucing besar itu.


Makanya tadi dia memberi mereka peringatan sekaligus menakuti mereka dengan halilintar langit tingkat 9.


Kelihatannya semua berjalan cukup baik, selesai Fei Yang mandi berganti lalu kembali ke dapur.


Semua masakan di atas meja masih tertutup rapi, Saga Sagi masih diam di posisi mereka dengan wajah memelas.


Melihat hal itu Fei Yang menjadi kasihan, Fei Yang memisahkan sebagian besar lauk yang di letakkan dalam dua baskom besar.


Lalu dia meletakkan di hadapan kedua kucing besar itu dan berkata,


"Nah makanlah sepuas kalian, makan masing masing jangan berebut dan bertengkar.."


Kedua kucing besar itu sepasang mata mereka langsung berbinar, mereka langsung buru buru menyerbu baskom di hadapan mereka.


Fei Yang tersenyum dan membelai kepala kedua kucing besar itu.


sebelum dia meninggalkan mereka untuk makan dengan bebas.


Kini di meja dengan 10 jenis masakan berjejer, Fei Yang malah duduk termenung.


Dia melihat bayangan Xue Lian yang biasanya duduk di hadapannya makan dengan lahap.


Sumpitnya beterbangan kesana-kemari mencicipi masakan buatan nya dengan sangat antusias.


Fei Yang tersenyum sendiri mengingat hal itu.


Saat bayangan itu perlahan-lahan menghilang dari hadapan nya, Fei Yang baru tersadar dari lamunannya.


Sambil menghela nafas kecewa, Fei Yang melanjutkan makannya seorang diri di temani sepi.


Fei Yang hanya makan sedikit, sisanya dia berikan semua ke Saga dan Sagi yang kelimpahan rejeki.


Selesai membersihkan peralatan dan perlengkapan dapur di pinggir sungai dan menyusunnya kembali dengan rapi.


Fei Yang kembali ke pondok tempat tinggal Xue Lian.