
"Tapi maafkan Hong Yi paman guru,.. Hong Yi mohon ijinkan lah, Hong Yi untuk tetap tinggal dan menjaga tempat ini.."
"Hong Yi belum siap berpisah dari nya, bagaimana pun juga kak Feng telah menukar nyawanya demi keselamatan Hong Yi."
"Jadi Hong Yi ingin mengabdikan sisa hidup Hong Yi, hidup hanya menjadi miliknya, mati pun akan menjadi hantu keluarga kak Feng."
ucap Hong Yi dengan kepala tertunduk dan sepasang mata basah.
Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Baiklah kak Hong Yi,.. bila itu keputusan mu,.."
"Bangunlah kak, setelah tugas ku selesai, aku pasti kembali kemari menjenguk mu..'
ucap Fei Yang sambil membangun kan Hong Yi.
"Mari kak, biar Fei Yang bantu bikinkan nisan buat kakak Feng.."
ucap Fei Yang sambil berjalan kearah lain, untuk mencari batu gunung yang cocok buat nisan.
Fei Yang setelah menyelesaikan pembuatan batu nisan sederhana di depan gua.
Dia menemani Hong Yi memberi hormat dan berdoa buat Yue Feng.
Setelah itu dia baru menoleh kearah Hong Yi dan berkata,
"Jaga diri kakak baik'baik, Fei Yang pergi dulu, sampai jumpa kak..'
ucap Fei Yang lalu menghilang dari hadapan Hong Yi.
Saat Hong Yi melihat ke angkasa, dia hanya melihat bayangan punggung Fei Yang menunggangi Kim Tiaw yang membawanya pergi meninggalkan tempat tersebut.
Hong Yi menghela nafas sedih, menatap kepergian Fei Yang.
Dalam sekejab mata dua pria yang paling dia kagumi, telah pergi meninggalkan dirinya.
Tiba-tiba dia merasa dunia ini begitu sepi dan hampa.
"Kak Feng aku akan menemani mu di sini, agar kamu tidak kesepian.."
"Maafkan aku yang terlambat datang menolong mu.."
ucap Hong Yi menghela nafas sedih.
Perlahan-lahan dia berjalan masuk kembali kedalam gua seorang diri.
Hong Yi tidak masuk ke dalam gua untuk melanjutkan pencarian lagi, dia memilih duduk bersila, di mulut gua, tepat di belakang batu nisan Yue Feng.
Pada hari ketiga setelah kepergian Fei Yang, 4 orang pria mendarat ringan di mulut gua.
Mereka celingukan melihat kesana kemari, untuk memastikan apakah ada orang lain selain mereka berempat.
Setelah memastikan hanya ada mereka berempat yang berada di tempat tersebut.
Salah seorang bertubuh gemuk pendek dengan kepala botak, berkata,
"Kirin api telah mati, pedang dan rompi pusaka Kirin api, kini ada di tangan gadis itu, kita harus merebut darinya.."
"Setelah itu kita baru melakukan pencarian harta Karun rahasia sesuai petunjuk peta ini,
Ketiga rekannya mengangguk setuju, mereka adalah Im Kan Wu Ee, yang ternyata belum benar benar pergi.
Mereka tadinya hanya mengincar harta di dalam gua Ling Yun, tapi secara tidak sengaja Ji Ee malah melihat senjata dan rompi pusaka Hong Yi.
Sehingga mereka menjadi tertarik ingin merebutnya dari Hong Yi.
Setelah menunggu 3 hari, yakin Fei Yang tidak kembali lagi, mereka baru muncul untuk melanjutkan rencana busuk mereka.
Mereka berempat berjalan mendekati mulut gua.
Ta Ee lah yang buka suara,
"Cantik keluarlah, jangan hanya tahu bersembunyi di.dalam sana,..!!'
"Aku hitung sampai 3, bila masih tetap tidak keluar, jangan menyesal bila kami nanti rusak nisan nya..!"
"Aku tidak mencari kalian, kalian malah datang mencari mampus.."
"Bagus hari ini aku akan menagih lunas hutang lama dan baru sekaligus."
ucap Hong Yi dingin.
Dia mencabut pedangnya yang menimbulkan suara gerengan Kirin api yang menggetarkan seluruh tempat tersebut.
Keempat orang itu bukannya gentar, mereka malah sepasang matanya berbinar binar, melihat kedahsyatan pedang pusaka di tangan Hong Yi.
Keempat orang itu langsung mencabut senjata mereka masing-masing dan bergerak mengurung Hong Yi.
Orang pertama menggunakan sepasang belati di kedua tangannya.
Orang kedua menggunakan sepasang tongkat Cakar baja.
Orang Ketiga menggunakan sebuah Kampak besar.
Orang terakhir menggunakan sebatang kipas baja.
Di mulai dari Wu Ee yang menggunakan Kipas baja melesat kedepan menyabetkan kipas bajanya yang terbuka kearah leher Hong Yi dengan cepat dan ganas.
Di susul dengan San Ee yang melompat dari belakang mengayunkan Kampak ditangannya dari atas kebawah.
Ji Ee juga tidak mau kalah dia dari arah samping kiri menyabetkan sepasang cakarnya kearah dada dan perut Hong Yi.
Terakhir adalah Ta Ee yang bergerak dari samping kanan, masuk kedalam tanah kemudian menggunakan sepasang belatinya untuk mengincar pergelangan kaki Hong Yi.
Hong Yi yang di kepung dari 4 arah bersikap tenang dan percaya diri, dengan adanya rompi dan pedang di tangannya.
Hong Yi menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi serangan 4 arah itu.
Gerakan pertama Hong Yi menimpuk sarung pedang nya kearah kepala Wu Ee yang sedang bergerak mendekati nya.
Wu Ee yang tidak mau kepalanya menjadi sasaran sarung pedang, dia buru-buru menarik kembali kipasnya yang terbuka buat menangkis serangan sarung pedang yang tiba.
Tanpa memperdulikan Wu Ee, Hong Yi sudah melakukan gerakan kayang kebelakang, menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan Kampak San Ee.
"Trangggg,..!!"
Begitu terkena sabetan tangkisan pedang Hong Yi, Kampak San Ee pun potong menjadi dua bagian.
Dengan kaget San Er buru buru melempar tubuhnya bersalto menjauh ke belakang.
Hong Yi setelah menangkis serangan San Ee dengan cepat, dia sudah bergeser tempat kesamping Ji Ee menebaskan pedang Kirin api, mengincar sepasang tangan Jie Ee.
Ji Ee buru buru melepaskan pegangan nya, pada sepasang tongkat cakar baja.
Setelah tebasan pedang Hong Yi lewat, dia baru menyambutnya kembali, dan langsung melakukan sambaran beruntun kearah wajah hong Yi.
Hong Yi terpaksa merunduk menghindar, kemudian melepaskan tebasan dari bawah ke atas, menyambut tubuh Ta Ee yang bersembunyi dalam tanah.
Terjadi ledakan memanjang di atas permukaan tanah.
Sehingga memaksa Ta Ee harus melompat keluar dari dalam tanah, terbang keatas sambil melepaskan lima pedang kecil menyerang balik Hong Yi.
Hong Yi memutar pedangnya menjadi gulungan sinar menangkis serangan senjata rahasia Ta Ee.
"Trang,..Tring,..Trang,.Tring,.Trang,!"
Setelah meruntuhkan senjata rahasia Ta Ee, Hong Yi bergerak cepat melakukan serangkaian tebasan kearah San Ee, yang telah kehilangan senjatanya.
Tapi meski kehilangan senjata, San Ee sama sekali tidak takut dengan serangan Hong Yi.
Dia menggunakan kedua tinju nya yang mengeluarkan cahaya kehijauan, untuk menyambut dan balas menyerang kearah Hong Yi.
Hingga terjadi ledakan berulang kali di udara.
"Duarrr,,...Duarrr,...Duarrr,..Duarrr,..!!"
Memanfaatkan tubuh Hong Yi yang terpental mundur kebelakang, Wu Ee dengan cepat melancarkan beberapa totokkan kearah punggung Hong Yi, dengan ujung kipas yang sedang tertutup.