PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
FEI YANG LULUH


Beberapa saat Fei Yang terlihat masih bimbang, dia ingin menolak tapi tidak tahu gimana baiknya.


Agar tidak menyinggung Fei Hsia dan semakin melukai perasaan gadis yang sangat mencintainya itu.


Apalagi Fei Hsia juga sudah berulang kali memberikan Budi baik pada keluarganya.


Mulai dari saat menjaga dan merawatnya saat amnesia, hingga mengorbankan nyawa nya, menolong Xue Lian dari serangan Wu Hui Lau Jen.


Kini bahkan menjadi penyelamat dan mengurusi putrinya dari kecil hingga besar.


Semua Budi ini membuat Fei Yang sulit untuk menolak tawaran niat baiknya.


Di saat Fei Yang sedang bimbang, Zi Zi berkata,


"Ayah mengapa tidak buatkan pondok khusus buat guru dan Zi Zi tinggal."


"Bukankah tempat ini sangat luas, mana boleh biarkan guru tinggal di gua sana.."


"Bila guru ku tinggal di gua Zi Zi juga akan ikut menemaninya di sana.."


ucap Zi Zi sambil menatap ayahnya dengan tatapan mata kurang puas.


"Zi Zi kamu tidak boleh bicara seperti itu dengan ayah mu.."


"Ini adalah murni keinginan guru sendiri, tidak ada hubungannya dengan ayah mu.."


"Guru dan ayah mu punya kesulitan sendiri yang kamu tidak paham.."


"Kami minta maaflah dulu pada ayah mu.."


"Ingat guru tak pernah mengajari mu jadi anak tidak berbakti pada orang tua.."


Zi Zi terlihat tertunduk dan berkata,


"Ayah maafkan sikap Zi Zi yang kurang pantas.."


Fei Yang tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya, dia tentu paham .


Mengapa Zi Zi begitu membela gurunya, waktu 10 tahun bersama bukanlah waktu singkat.


Menjaga merawat seorang anak selama 10 tahun sendirian, itu bukan hal mudah.


Dia sendiri juga sudah merasakannya, bila bukan ada Nan Thian dan Siau Huo yang membantunya.


Tentu dia benar benar akan sangat repot dan kesulitan membesarkan kedua putra kembarnya.


Untuk itu Fei Yang sama sekali tidak mengambil di hati ucapan Zi Zi.


Melihat ayah nya belum juga menerima idenya, dengan hati hati Zi Zi berkata,


"Ayah, selama kita tidak berbuat takut apa kata orang.."


"Ayah mencintai ibu, setia dengan ibu, Zi Zi paham dan Zi Zi kagum.."


"Guru mencintai ayah meski ayah tidak bisa membalasnya, Zi Zi juga paham."


"Zi Zi..!"


tegur Fei Hsia kaget, saat mendengar ucapan muridnya itu.


Fei Hsia malu, juga marah, karena Zi Zi telah membuka rahasia hatinya, yang bukan wilayah yang bisa di sentuh oleh Zi Zi.


Tapi saat mereka berdua beradu pandang, tidak tahu kenapa kemarahan Fei Hsia seketika lenyap.


Dia tidak sampai hati memarahi muridnya.


Akhirnya dia hanya bisa menghela nafas panjang, menoleh kearah Fei Yang dan berkata,


"Kakak Yang maafkan aku yang tidak bisa mendidik nya dengan benar.."


"Silahkan kalian teruskan, aku permisi dulu.."


Selesai berkata, sambil menutupi mulutnya menahan Isak.


Fei Hsia langsung melangkah cepat keluar dari ruangan tersebut.


Zi Zi tidak berusaha menahan kepergian gurunya, sebaliknya dia menatap kearah ayahnya yang terlihat semakin serba salah.


"Ayah,.. Zi Zi tahu, Zi Zi seharusnya tidak ikut campur masalah orang tua.."


"Tapi tahu kah ayah, bagaimana guru ku, selama ini melewati hidupnya.? selain patung ukir peninggalan ayah itu.."


"Tidak ada siapapun yang lebih memahami penderitaan nya.."


"Ayah,..ayah harus tahu satu hal, guru hanya ingin membantu dengan tulus, dia ingin melihat ayah dan ibu bahagia.."


"Dengan demikian dia baru bisa pergi dengan tenang,..apa itu salah..?"


tanya Zi Zi kurang puas.


Fei Yang memejamkan sepasang matanya sesaat.


Sesaat kemudian setelah perasaannya lebih tenang dia baru berkata,


Selesai berkata, Fei Yang menoleh kearah Nan Thian dengan canggung dan berkata,


"Nan Thian kamu bantulah Zi Zi dirikan sebuah pondok untuk gurunya dan dia.."


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Baik paman, itu bukan masalah.."


"Tapi saat ini bukankah sebaiknya kita segera lakukan pengobatan terhadap bibi..?"


Fei Yang menatap Nan Thian, lalu menepuk jidatnya sendiri dan berkata,


"Ahh kamu benar, kenapa aku jadi pelupa begini.."


"Fei Yung, Fei Lung kalian berdua saja ikut ayah, kita bantu kakak mu bangun pondok.."


"Nan Thian kamu di sini saja bantu tabib Hua mengobati bibi mu.."


ucap Fei Yang sambil bangkit berdiri.


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Aku akan mengusahakan nya, sesuai petunjuk dari tabib Hua."


Fei Yang menoleh kearah tabib Hua dan berkata,


"Tabib kami mengandalkan mu.."


Tabib Hua tersenyum dan berkata,


"Itu sudah pasti, aku sudah makan gratis selama ini, kini giliran ku membayarnya.."


"Lung Er persiapkan peralatan dan perlengkapan yang kakek perlukan.."


ucap tabib Hua mengingatkan cucu nya..


"Baik kek, jawab Hua Lung patuh sambil menggelar gulungan jarum perak diatas meja.


Sebuah mangkuk berisi air panas, sebuah tungku obat kuno dan banyak lagi alat alat dan daun daun obat obatan yang baik Fei Yang maupun Nan Thian mereka tidak mengerti.


Fei Yang membungkuk menciumi kening dan pipi Xue Lian dengan lembut dan berkata pelan di telinga istrinya.


"Aku keluar dulu, berusahalah tetap semangat, demi kita demi buah hati kita, kamu harus berusaha ."


ucap Fei Yang pelan.


Xue Lian mengedipkan matanya, yang sedikit basah, hingga dua air bening mengalir turun dari kedua sudut matanya.


Fei Yang buru buru mengecupnya, setelah itu dengan berat hati dia terpaksa melangkah keluar dari dalam ruangan.


Saat keluar dari dalam pondok bersama kedua putra kembarnya, Fei Yang melihat hanya ada Zi Zi seorang diri, yang berdiri di depan pondok.


"Zi Zi mana guru mu..?"


tanya Fei Yang pelan.


"Guru melarang ku ikut, dia meminta ku menunggu di sini, barang kali ayah dan ibu memerlukan ku."


ucap Zi Zi sedikit cemberut.


"Lalu di mana dia sekarang..?"


tanya Fei Yang yang merasa kurang enak hati.


"Guru di dapur, katanya mau masak oleh oleh, yang sengaja di bawanya dari pulau, khusus buat ayah.."


ucap Zi Zi sambil menatap tidak puas ke ayahnya.


Zi Zi menatap ayahnya dan berkata,


"Zi Zi heran, apa sih bagusnya ayah,? sehingga guru harus sampai seperti itu..?"


Fei Yang tersenyum lebar dan berkata,


"Kamu anak kecil tahu apa,..?"


"Ayo sekarang kamu bantu ayah, buatkan pondok untuk mu dan guru mu.."


ucap Fei Yang sambil membelai lembut kepala putrinya.


Mendengar ucapan ayahnya, sepasang mata Zi Zi pun berbinar,


"Benarkah,.. ? ayah serius ingin bikinkan pondok buat kami..?"


Fei Yang sambil menahan senyum, menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Putri ku sudah buka suara ayah bisa apa, ?"


"Siapa suruh wajah mu begitu mirip dengan nya, bagaimana ayah bisa menolak permintaan kalian..?"