PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERMINTAAN FEI YANG


Rajawali emas mengeluarkan pekik nyaring saat dari kejauhan dia sudah melihat benteng pertahanan kota Kai Feng yang membentang luas di depan sana.


Fei Yang membuka matanya menatap kearah benteng kota tersebut.


Hatinya berdebar kencang, karena sebentar lagi dia akan melakukan keputusan besar, memenuhi janjinya kepada Wei Wen.


Wei Wen yang sedang baring di pangkuan Fei Yang, membuka matanya, lalu ikut duduk berdampingan di sebelah Fei Yang.


Ada rasa gembira bahagia malu dan sedikit cemas tergambar jelas di wajah Wei Wen.


Saat Kim Tiaw mulai terbang di kompleks istana ayahnya.


"Wen Wen kita sebaiknya turun di sebelah mana, ? bila aku ingin langsung menemui ayah mu..?"


tanya Fei Yang lembut.


"Ke bangunan yang paling besar itu kak,.."


ucap Wei Wen sambil menunjuk kearah sebuah istana megah yang berhalaman luas.



"Bukankah itu ruang sidang istana,..?"


tanya Fei Yang kaget.


Fei Yang jadi berpikir, apa Wei Wen ingin dia melamar dirinya di ruang sidang, yang penuh dengan para pejabat dan bangsawan, yang sedang membicarakan urusan negara.


Kalau itu permintaannya sungguh mampus pikir Fei Yang dalam hati.


Fei Yang menelan ludahnya sendiri diam diam mengutuk kegilaan Wei Wen.


Wei Wen menahan senyum dan berkata,


"Kakak ini berpikir apa ? kita kesana dulu untuk melapor pada ayah ku hasil perjalanan kita ke selatan.."


"Setelah beres nanti kita akan temui ibu ku dulu, di ruangan yang terletak di belakang istana syukur syukur ayah ku juga ada di sana.."


"Bila tidak kita terpaksa menemui ayah ku di ruang kerjanya.."


ucap Wei Wen memberikan penjelasan.


Mendengar penjelasan Wei Wen Fei Yang pun menghela nafas lega.


Melihat reaksi Fei Yang, Wei Wen pun menahan tawa, dia menggunakan tangannya menutupi mulutnya sendiri.


Fei Yang yang jalan pikiran nya kebaca oleh Wei Wen yang cerdas, hanya bisa tersenyum canggung.


Untuk menutupi suasana canggung, Fei Yang pun berkata,


"Wen Wen ayo kita turun sekarang."


Wei Wen tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.


Fei Yang pun terbang meninggalkan punggung tunggangan nya, sambil berkata,


"Terimakasih Tiaw Siung.."


Rajawali emas mengangguk pelan, lalu terbang meninggalkan tempat tersebut.


Fei Yang membawa Wei Wen mendarat ringan di halaman depan, bagian ujung tangga tertinggi.


Dari sana mereka bisa langsung masuk keruang sidang istana, tanpa harus menaiki undakan tangga yang cukup panjang.


Begitu Fei Yang mendarat, sepasukan Yi Ling Cin, yang tak kurang dari 100 orang, langsung menghadang langkah Fei Yang dan Wei Wen.


Tapi begitu melihat yang berdiri di samping Fei Yang adalah putri Wei Wen.


Kepala komandan pasukan tersebut langsung memberi hormat kepada Wei Wen dan berkata,


"Maaf kami tidak tahu yang datang adalah tuan putri."


"Harap tuan putri menunggu sebentar, anak buah hamba sedang melapor kedalam.."


Tak lama kemudian terlihat seorang Kasim tua berjalan terburu-buru menghampiri Wei Wen dan Fei Yang, kemudian dengan membungkukkan badannya dalam dalam. dia berkata


"Maaf hamba datang terlambat menyambut tuan putri dan pangeran Li.."


"Tak perlu banyak peradatan Wei kung kung, tolong bantu tunjukkan jalan.."


"Kami ingin memberikan laporan hasil perjalanan ke selatan..'


ucap Wei Wen tenang.


"Baik tuan putri, mari hamba antar menuju ruang kerja yang mulia, silahkan lewat sini.."


ucap Kasim Wei penuh hormat.


Mereka berdua mengikuti Kasim itu, yang membawa mereka mengambil jalan, memutari jalan samping ruang sidang istana.


Mereka berdua di bawa kesebuah ruangan lain yang terletak persis di belakang ruang sidang istana.


Ruangan ini adalah ruang kerja kaisar Zhao Kuang Yi.


"Tuan putri dan pangeran Li, silahkan duduk dulu, yang mulia sebentar lagi akan tiba."


ucap Kasim Wei penuh hormat.


Setelah itu dia pun permisi mengundurkan diri dari ruangan tersebut.


Beberapa waktu setelah Kasim Wei pergi dari arah pintu luar terdengar suara teriakan dari pengawal penjaga pintu.


"Yang mulia Sri Baginda dan permaisuri Yin tiba..!"


Dari arah pintu terlihat kaisar Zhao Kuang Yi dan permaisuri Yin melangkah memasuki ruangan.


Melihat Wei Wen sudah berlutut, Fei Yang pun menyusul ikut berlutut di sebelah nya.


Sebenarnya peradatan seperti ini Fei Yang paling sebal, bila bukan karena Wen Wen, Fei Yang tidak akan Sudi berlutut.


Paling hebat membungkukkan tubuhnya sedikit sudah cukup.


"Salam Ayahanda Kaisar dan Ibunda Permaisuri, semoga panjang umur dan sehat selalu."


ucap Wei Wen.


Fei Yang pun membuka mulutnya melakukan lip sing seolah olah dia juga mengucapkan salam.


Kaisar Zhao Kuang Yi sambil tersenyum gembira, berkata


"Kalian berdua berdirilah,tak perlu banyak peradatan.."


Setelah berkata, Kaisar Zhao Kuang Yi memberi kode agar mereka berdua bangun.


Kaisar Zhao Kuang Yi dan permaisuri Yin beriringan berjalan menuju tempat duduk yang terletak di belakang meja kerja Kaisar Zhao Kuang Yi.


"Wen Wen bagaimana kabar perjalanan kalian ke daerah selatan, beberapa waktu ini..?"


tanya Kaisar Zhao Kuang Yi, sambil menatap kearah Wei Wen dan Fei Yang secara bergantian.


"Berkat keberuntungan ayah dan keberuntungan kerajaan Song, kakak Yang berhasil membantu kakak Zhao Heng menjalankan tugas nya.."


"Raja Kyantha, pimpinan pemberontak selatan dari kerajaan Pagan telah gugur.."


"Ketiga tetua andalan mereka juga ikut gugur, putri Shinta Dewi pemimpin pasukan pemberontak kini lumpuh dan hilang ingatan.."


"Raja Vijaya dari kerajaan Champa juga lumpuh.."


"Secara keseluruhan kedua kerajaan selatan, yang mengibarkan pemberontakan di sana, kini telah berhasil kita tahlukkan.."


ucap Wei Wen memberikan penjelasan ke ayahnya.


Kaisar Zhao Kuang Yi mengangguk gembira dan berkata,


"Lalu di mana kakak mu ? mengapa kalian hanya datang berdua saja..?"


"Kakak Zhao Heng memimpin pasukan keluarga Guo, dari ayah mertuanya.."


"Setelah tugas selesai, tentu dia harus pulang laporan ke mertuanya dan mengembalikan pasukan yang di pinjam nya."


"Tanpa undangan dan panggilan dari ayahanda, kakak Zhao Heng yang sedang menjalani hukuman, mana berani sembarangan datang menghadap ke istana.."


ucap Wei Wen memberikan alasan yang sangat logis.


Padahal sebenarnya mereka berpisah karena dirinya tertawan musuh.


Wei Wen tidak mau bercerita banyak karena dia takut ceritanya akan memanjang kearah harta Karun.


Harta Karun kini ada ditangan Fei Yang, bila ayahnya tahu, takutnya timbul keributan tidak perlu.


Maka dengan cerdik Wei Wen membelokkan arah ceritanya.


mendengar cerita putrinya hingga selesai, kaisar Zhao Kuang Yi pun menoleh kearah Fei Yang dan berkata,


"Nak Fei Yang, kali ini jasa mu tidak kecil, katakan saja apa keinginan mu, aku akan memenuhinya.."


Fei Yang maju memberi hormat dan berkata,


"Bila Baginda berkenan meluluskan permintaan Fei Yang."