PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PENGOBATAN BERAKHIR


Fei Yang hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah lesu.


Fei Hsia menoleh kearah Zi Zi, memberi kode agar mereka kembali kedepan pondok.


Zi Zi mengerti maksud gurunya, bagaimana pun si kembar masih kecil.


Nanti keberadaan mereka di sana, malah menganggu konsentrasi yang di dalam sana.


Di mana mereka sedang berjuang keras, memberikan pengobatan terbaik buat Xue Lian.


Fei Hsia mengajak Zi Zi dan si kembar, duduk santai menunggu di luar pondok.


Membiarkan Fei Yang seorang diri duduk bersila di depan pintu kamar.


Fei Yang duduk diam di sana, dia terus menerus menatap kearah pintu kamar dengan wajah cemas.


Setiap kali terdengar suara jerit kesakitan Xue Lian, Fei Yang pasti melompat berdiri, berjalan mendekati pintu kamar.


Tapi pergerakan nya selalu hanya sampai di sana, tangannya yang terulur, ingin mendorong pintu kamar, selalu dia tarik kembali.


Lalu dia memejamkan matanya, kembali duduk di posisi semula.


Di dalam sana, setelah berhasil menyadarkan kembali Xue Lian.


Tabib Hua dengan gerakan hati hati, mencabut kembali jarum jarum, yang dia tancapkan di wajah Xue Lian.


Lalu dia berkata pelan,


"Thian Er turunkan aku kembali.."


"Perlahan-lahan tingkatkan lagi kekuatan mu sedikit demi sedikit.."


ucap tabib Hua pelan.


Nan Thian mengangguk, dia pun perlahan-lahan meningkatkan kekuatan nya yang menyinari titik Feng Fu di bagian belakang kepala Xue Lian.


Sedikit demi sedikit kekuatan dari jarinya terus di tingkatkan, Xue Lian hanya mengernyit kecil menahan nyeri.


Setiap Nan Thian meningkatkan kekuatan nya.


Tapi dia tidak sampai menjerit, dia masih mampu bertahan.


Beberapa saat kemudian, Tabib Hua pun bertanya,


"Thian Er kini ada di berapa % ?"


"15%.."


jawab Nan Thian singkat.


Peluh terlihat mengucur deras, membasahi wajah dan seluruh tubuhnya.


Pakaian dan celana yang Nan Thian kenakan, kini sudah basah kuyup.


"Cukup Thian Er sekarang pindahkan ke titik Nao Hu, turunkan kembali kekuatan mu seperti sebelumnya.."


"Hingga mencapai 15 % kamu boleh beralih ketitik Qiang Jian, lalu lanjutkan ke titik Hou Ding.."


"Terakhir titik Bai Hui, kamu harus mulai dari 0,25 % hingga kekuatan puncak mu.."


"Jangan pernah berhenti, sebelum aku menyuruh mu berhenti.."


ucap Tabib Hua memberi petunjuk.


Nan Thian mengangguk mengerti.


Dia dengan hati hati menggeser jari nya naik dua Cun di atas titik Feng Fu.


Nan Thian terus mengatur kekuatan nya sesuai petunjuk tabib Hua.


Setiap kali berpindah titik Xue Lian akan menjerit kecil kesakitan.


Tapi tidak lagi seperti sebelumnya, tapi hal ini sudah cukup membuat suaminya di luar tidak tenang.


Duduk salah berdiri salah, berjalan kesana kemari pun salah, Fei Yang terlihat lebih gelisah dari orang yang sedang menanti persalinan pertama istrinya.


Sebaliknya di dalam sana, Xue Lian mulai terlihat melayang turun ke bawah, kembali kedalam posisi duduk bersila.


Kini Xue Lian sudah bisa duduk bersila dengan tubuh tegak.


Nan Thian masih dalam posisi jungkir balik, kini sedang menyinari secara bergantian titik Bai Hui.


Kekuatannya sedikit demi sedikit terus ditingkatkan, tapi Xue Lian kini tidak terlihat lagi mengalami kesakitan.


Sepasang matanya kembali terpejam dengan tenang, pernafasannya teratur.


Wajahnya terlihat sangat segar, tidak lagi pucat ataupun di penuhi keringat seperti sebelumnya.


Adalah Nan Thian yang kini terlihat mengenaskan.


Wajahnya sangat pucat, jari tangannya terus terlihat gemetaran.


Keringat terus menetes netes dari kening wajah dan lehernya.


Tabib Hua kini tidak lagi menatap cemas kearah Xue Lian, dia justru menatap cemas kearah Nan Thian.


"Bertahanlah Thian Er, kunci keberhasilan kita ada di titik ini.."


"Kamu harus bertahan.."


ucap Tabib Hua memberi semangat ke Nan Thian.


Nan Thian bahkan tidak bisa menjawabnya, dia hanya mengedipkan matanya yang penuh tekad.


Darah segar mulai merembes dari sudut bibirnya.


"Hiaaahh..!"


dengan suara bentakan keras, Nan Thian menyelesaikan tahap akhir nya.


"Brakkkk,..!"


"Blukkk..!"


Nan Thian terlihat jatuh terkapar diatas lantai, tidak sadarkan diri.


Sedangkan Xue Lian terlihat tertidur pulas dalam posisi masih duduk bersila.


Hua Lung dengan cepat memasukkan beberapa butir pil kedalam mulut Xue Lian.


Sedangkan Tabib Hua buru buru memberikan tusukan jarum di bagian tengkuk dan kening Nan Thian.


Sesaat kemudian terdengar Nan Thian mengeluh kecil, sepasang matanya kembali terbuka.


Dengan suara lemah dia berkata,


"Bagaimana keadaan bibi Xue Lian ?"


Tabib Hua tersenyum dan berkata,


"Kita sudah lakukan yang terbaik, kedepannya tergantung dengan perubahannya sendiri.."


"Sejauh ini sudah cukup baik.."


ucap Tabib Hua sambil membantu Nan Thian bangkit duduk.


Nan Thian mengangguk lemah, lalu dia mencoba duduk bersila memulihkan diri.


"Lung Er panggil lah Fei Yang kemari, katakan padanya proses pengobatan sudah berakhir.."


ucap Tabib Hua tersenyum lega.


Hua Lung mengangguk cepat, dia segera bergerak pergi membuka pintu kamar.


Saat melihat Fei Yang sedang menatapnya dengan tatapan cemas, dia pun berkata,


"Kakak Yang sekarang masuklah keadaan sudah stabil.."


Fei Yang buru buru masuk kedalam kamar, saat melihat istrinya yang seperti orang sedang tertidur pulas.


Semuanya terlihat baik baik saja, Fei Yang pun merasa lega.


Tapi saat dia melirik kearah Nan Thian, dia terlihat kaget dan berkata,


"Tabib bagaimana keadaannya ?"


Tabib Hua menghela nafas panjang dan berkata,


"Dia terlalu banyak menghamburkan Chi nya, mungkin perlu beberapa bulan baru bisa normal kembali.."


"Tabib Hua jangan lupa, dia masih punya aku.."


"Selama ada aku, dia tidak akan bermasalah.."


ucap Kim Kim yang tiba tiba sudah hadir di dalam ruangan.


Tanpa menanti persetujuan tabib Hua.


Kim Kim sudah berubah menjadi seekor Naga emas kecil, masuk kedalam lubang hidung Nan Thian.


Sesaat kemudian seluruh tubuh Nan Thian pun memancarkan cahaya emas.


Wajah Nan Thian perlahan-lahan pulih, nafasnya kembali teratur.


Saat sepasang matanya terbuka, matanya mengeluarkan cahaya keemasan.


Tiba-tiba terdengar suara Kim Kim berbicara lewat mulut Nan Thian.


"Paman tampan, aku perlu buah persik dewa dan mata air surgawi mu boleh..?"


Fei Yang langsung mengangguk dan berkata,


"Silahkan saja Thian Er,..ehh maksudku nona Kim Kim.."


"Hi..hi..hi..hi..! paman bukan hanya tampan menyenangkan tapi juga lucu menggemaskan.."


"Aku pergi dulu, jangan lupa bila dia mati,..aku siap menggantikan nya.."


ucap Kim Kim menggoda Fei Yang.


"Plakkkk..!"


Tiba-tiba Nan Thian menampar wajahnya sendiri dan berkata,


"Kamu jangan kelewatan,..ayo cepat kita pergi..!"


Bentak sebuah suara lain, jelas adalah suara Nan Thian.


Fei Yang tidak marah, dia hanya tersenyum menanggapi ucapan Kim Kim yang suka asal bicara.


"Paman Maaf kami pergi dulu.."


ucap Nan Thian memberi hormat dengan sopan.


Lalu dia buru buru melesat meninggalkan ruangan tersebut.