PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
NI XUE LIAN


Melihat Fei Yang asyik tidur tanpa beban, gadis itu menjadi kesal.


Dia sudah bersusah payah mencari Fei Yang kemana mana, tapi setelah di temukan, ternyata Fei Yang malah asyik asyik tiduran.


Hari itu sepeninggal Fei Yang, dia terus duduk termenung di dalam pondoknya.


Setelah termenung dan berpikir beberapa saat, dia merasa hatinya tidak tenang dan ada sedikit rasa bersalah.


Bagaimana pun Fei Yang termasuk sudah menyelamatkan nyawa nya, juga membantu dia lepas dari hal memalukan, dengan meminjamkan jubah luar kepada dirinya.


Fei Yang juga termasuk pria pertama yang melihatnya dalam keadaan polos tanpa busana seperti itu.


Bagaimana pun mereka berdua memiliki satu tali ikatan perasaan yang sulit di jelaskan.


Akhirnya dia memutuskan meninggalkan pondoknya, pergi mencari Fei Yang.


Tapi saat dia tidak menemukan keberadaan Fei Yang, di sekitar hutan tempat tinggalnya.


Hati gadis itu menjadi semakin cemas dan tidak enak, dia pun buru-buru mengejar kedalam hutan bambu.


Tapi karena hutan bambu begitu luas.


Dia harus menghabiskan waktu hingga 5 hari mencari Fei Yang dengan cemas dan khawatir tanpa hasil


Baru pada hari ke 6 ini, dia berhasil menemukan keberadaan Fei Yang.


itupun karena suara latihan Fei Yang yang begitu ribut, makanya dia sampai kemari.


Bila tidak, dia pun gak yakin bisa menemukan Fei Yang.


Bila Fei Yang mati dan tidak bergerak, tentu dia tanpa kesulitan akan menemukannya, tapi bila kejadiannya seperti itu, saat ditemukan pun semua sudah terlambat dan percuma.


Tapi selama Fei Yang masih hidup dan terus bergerak, dia justru akan kerepotan untuk menemukan Fei Yang, di hutan yang sangat luas dan berbahaya ini.


Setelah diam menanti dengan bersembunyi di dalam rerimbunan daun bambu beberapa waktu.


Di mana dia melihat Fei Yang yang sehabis makan malah tidur mendengkur, gadis itu sudah tidak bisa menahan kesal nya lagi.


Ingin rasanya dia kembali ke pondoknya, tidak usah memperdulikan Fei Yang.


Tapi hati kecilnya melarang dia berbuat demikian.


Sehingga akhirnya dia mendarat ringan di sebelah Fei Yang.


Melihat Fei Yang asyik tidur dengan mulut terbuka, gadi itu tiba-tiba timbul ide nakal ingin balas mengerjai Fei Yang, untuk menghilangkan rasa kesal nya.


Dengan ujung kakinya, dia mencongkel segumpal tanah, lalu dia menendang gumpalan tanah tersebut ke mulut Fei Yang, yang sedang terbuka.


Fei Yang yang hanya pura-pura tidur, tentu menyadari hal itu, dia pura-pura menguap kemudian memiringkan badannya kesamping.


Sehingga gumpalan tanah itu jatuh di samping kepalanya.


Gadis itu yang tadinya tersenyum, kini wajahnya kembali terlihat kesal, karena usaha nya untuk mengerjai Fei Yang mengalami kegagalan.


Sambil membanting kakinya, dia akhirnya berjalan mendekati Fei Yang dari belakang, lalu dengan menggunakan kakinya, dia menendang bokong Fei Yang sambil berkata,


"Hei bangun jangan tidur di sini..! ayo ikut dengan ku.."


Fei Yang pura-pura terkejut,. seperti orang baru habis bangun tidur.


sambil mengucek ngucek matanya,


Lalu dia menatap kearah gadis itu dengan tatapan pura-pura kaget dan tidak percaya, lalu berkata,


"Eh nona, kamu kenapa bisa ada di sini..?"


Melihat reaksi Fei Yang yang lucu dan terlihat seperti orang tolol.


Gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum,


semua rasa kesalnya tadi hilang bagai tersapu angin.


Tapi karena tidak mau terlihat oleh Fei Yang, dia langsung membalikkan tubuhnya memunggungi Fei Yang dan mengulangi kata-kata nya tadi.


"Jangan banyak bicara, ayo ikut aku kembali.."


ucap gadis itu dingin sambil melangkah meninggalkan tempat tersebut.


Fei Yang yang tahu, bila tanpa petunjuk dari gadis itu, dia kemungkinan akan terkurung di sini seumur hidup.


Dia tanpa banyak bicara lagi, buru buru bangun dan mengejar gadis itu sambil berkata,


Mendengar ucapan Fei Yang gadis itu merasa hatinya sangat senang dan nyaman.


Sehingga tanpa disadari wajah nya yang dingin, kembali tersenyum.


Sambil terus berjalan didepan Fei Yang dia berkata.


"Nama ku Ni Xue Lian, bukan nona cantik.."


Fei Yang tersenyum gembira saat mendengar gadis itu menyebutkan namanya.


Ini hanya berarti gadis itu mulai percaya dan bersedia berteman dengan nya.


"Ni Xue Lian,.. Ni Xue Lian..Xue Lian..Xue Lian...nama yang sangat indah, sangat cocok dengan orang nya..'


Tanpa sadar Fei Yang mengucapkan nama gadis itu berulang ulang.


"Jangan ceriwis,.. cepat jalan, jangan sampai ketinggalan..!"


ucap Xue Lian sedikit membentak Fei Yang.


Untuk menutupi rasa malu dan senangnya, atas pujian yang Fei Yang lontarkan.


Fei Yang meleletkan lidahnya, lalu buru buru mempercepat langkahnya, Tapi di dalam hati dia berpikir dengan heran.


"Dasar aneh, padahal menurut buku-buku yang pernah ku baca di perpustakaan istana dulu."


"Semua gadis akan senang bila di puji oleh seorang pria akan kecantikannya..apalagi di lakukan secara tulus tanpa niat mengejek.."


"Kenapa gadis ini beda ya ? apa karena terlalu lama tinggal sendirian di dalam hutan jadi gak normal.."


batin Fei Yang sambil mempercepat langkahnya.


Gadis itu mengajak Fei Yang, bergerak maju mundur terkadang berputar putar beberapa kali, baru kembali maju kedepan.


Setelah melewati perjalanan aneh dan membingungkan, akhirnya mereka berdua keluar juga dari dalam hutan tersebut.


"Fei Yang,.. kamu boleh bebas tinggal disini, sampai di luar sana aman, aku baru akan mengantar mu keluar dari sini.."


"Tapi kamu harus ingat pondok ku adalah wilayah terlarang bagi mu, tanpa ijin dari ku kamu dilarang mendekat."


"Apa kamu paham..?"


ucap Xue Lian dengan nada dingin, setelah mereka berdua keluar dari dalam hutan bambu.


Fei Yang mengangguk cepat dan berkata,


"Baik Xue Lian..aku akan mengingatnya,.. terima kasih."


"Nona kamu sudah pulang,.. sudah pulang..selamat datang nona.."


"Pemuda yang beruntung,.. pemuda yang beruntung.."


"Nona ku menghabiskan waktu hampir...satu Minggu..satu Minggu.. hanya untuk mencari mu.."


ucap seekor burung kakak tua putih dengan lucu,.sambil berterbangan di atas kepala Fei Yang dan Xue Lian.


Wajah Xue Lian langsung merah padam,


"Fei Fei, kalau kamu masih suka banyak mulut, percaya tidak aku akan memasak mu untuk makan siang.."


"Jangan...jangan...ampun nona.. Fei Fei.. tahu salah.."


"Fei Fei tidak akan mengulanginya lagi.."


ucap burung kakak tua putih itu ketakutan dan buru buru terbang menjauhi mereka berdua.


Fei Yang yang mendengar hal itu, dia baru tahu ternyata Xue Lian sudah bersusah payah mencarinya di dalam hutan selama 6 hari.


Fei Yang jadi merasa tidak enak hati.


"Terimakasih Xue Lian, maaf kehadiran ku telah banyak merepotkan mu.."


ucap Fei Yang dengan perasaan tidak enak.


"Jangan dengarkan burung sialan itu, lupakan saja.."


ucap Xue Lian sambil buru buru meninggalkan Fei Yang.