PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENCARI INFORMASI DI RESTORAN


Fei Yang menoleh kearah Sian Sian dan berkata,


"Afei telah pergi Nona Sian Sian, dia berpesan padaku agar menyampaikan permintaan maaf nya pada mu.."


"Dia bukan sengaja ingin membuat mu marah, dia hanya merasa gembira, ada teman bercanda dalam hidupnya yang sebatang kara.."


Mendengar penjelasan Ping Huo Ta Sia hati Sian Sian langsung tercekat, Dia sebenarnya sangat ingin bertanya, apa yang terjadi dengan Afei.


Tapi tidak tahu kenapa suaranya malah tercekat di tenggorokan sulit berkata kata..


Paman Li juga terkejut mendengar penjelasan Ping Huo Ta Sia,.dia segera buru buru bertanya dengan cemas.


"Apa,..apa,..apa yang terjadi dengan anak itu ?"


Fei Yang pura-pura menghela nafas dan berkata,


"Sebelum kesini, aku sempat meninjau dan memeriksa ke kediaman Paman Li.."


"Di sana aku mendapatkan informasi dari tetangga sekitar, Afei terluka parah."


"Dan sedang di tampung di salah satu rumah warga sekitar sana..'


"Warga kemudian mengantar ku menemui Afei..."


"Saat aku menemuinya kondisinya sangat parah sulit tertolong lagi."


"Selepas bercerita singkat dan meninggalkan beberapa patah pesan, Afei pun menghembuskan nafas terakhirnya.."


ucap Fei Yang pura-pura sedih.


"Menurut ceritanya."


"Dia sebenarnya sudah melarikan diri keluar dari dalam gedung dan berada di halaman luar gedung."


"Tapi saat melihat gedung ambruk, dia jadi sangat mengkhawatirkan paman Li dan nona Sian Sian yang belum keluar."


"Jadi dia kembali berlari masuk kedalam, naas baginya, bukannya berhasil menolong orang.."


"Malah dia sendiri yang tertimpa reruntuhan bangunan.."


"Begitulah ceritanya..."


ucap Fei Yang menutup ceritanya.


sambil pura-pura menghela nafas sedih.


Paman Li memejamkan sepasang matanya yang sedikit berkaca kaca.


Sedangkan Sian Sian berdiri termenung dengan wajah pucat, dan air bening mulai bergulir turun membasahi kedua pipinya.


Dia seperti merasa baru kemarin, dia dan Afei bercanda bertengkar lalu berbaikan, lalu bertengkar dan bercanda lagi.


Begitu terjadi berulang kali, tapi kini semua sudah berlalu, dia tidak akan pernah bisa bertemu dan bertengkar lagi dengan nya.


Dalam sekejab mata, semua kini hanya tinggal kenangan saja.


Semakin memikirkan hal itu , hatinya semakin sedih, akhirnya Sian Sian tidak bisa menahan diri untuk menggunakan kedua tangannya menutupi mulutnya.


Kemudian berlari masuk kedalam pondok, dia tidak ingin kesedihan nya, dan wajahnya yang jelek ketika sedang menangis.


Terlihat oleh Ping Huo Ta Sia, yang sangat dia kagumi itu.


Melihat reaksi Sian Sian diam diam Fei Yang di dalam hati menertawainya, dan berkata.


"Kena lagi si cengeng yang congkak aku kerjai.."


"Rasakan menangis lah sana sampai capek.."


Tapi tentu saja ekspresi di luar Fei Yang berlagak tetap tenang dan dingin.


Di dalam hati Fei Yang kembali mengomel,


"Inilah yang paling tidak ku suka bila dekat dengan urusan istana, bila lama lama di sini aku bisa jadi gila dan berkepribadian ganda."


"Di sini aku tidak bisa bebas menjadi diri ku sendiri seperti yang aku mau.."


"Semoga saja urusan di sini cepat beres, dan aku bisa bebas berpetualang lagi ."


Li Cing setelah lebih tenang perasaannya, dia pun menoleh kearah Fei Yang dan berkata,


Fei Yang menatap paman Li dan berkata,


"Malam ini juga aku akan menyatroni istana, semoga saja Kok Su Vipasana, kekuatannya belum pulih setelah pertempuran kemarin.."


Paman Li mengangguk dan berkata,


"Terimakasih banyak Ping Huo Ta Sia, berhati-hati lah semoga berhasil,.."


Fei Yang menatap Li Cing dengan serius dan berkata,


"Paman Li Cing sebaiknya, paman tidak lagi menunda, segeralah hubungi teman teman sekutu buat bersiap siap."


"Bila perlu gunakan Kim Tiaw, agar bisa bergerak cepat tanpa ketahuan lawan.."


"Jadi begitu Raja dan Ratu berhasil ku bawa keluar dari istana, kita sudah bisa langsung bergerak melumpuhkan kekuatan Li Yuan Hao.."


ucap Fei Yang serius.


Li Cing mengangguk dan berkata,


"Baiklah, demi Budi tiga raja terdahulu, hari ini, meski harus ku gadaikan nyawa tua ini, aku tidak akan menyesal.."


"Baiklah paman kalau begitu, sekarang juga aku akan pergi ke ibukota Yin Chuan."


"Permisi.."


ucap Fei Yang memberi hormat kemudian langsung melesat menghilang dari hadapan Li Cing seperti bisa menghilang saja..


Li Cing menggeleng gelengkan kepalanya, lalu dia berjalan masuk kedalam pondoknya.


Kini di luar pondok hanya tersisa Kim Tiaw yang meringkuk santai sambil menyusupkan kepalanya kedalam sayap.


Dia tidak mengikuti Fei Yang, karena dia memang di minta Fei Yang, untuk menjaga tempat itu, dan di tugaskan untuk mengantar paman Li bila di perlukan.


Paman Li bergerak cepat, setelah berberes dua pun mengajak Sian Sian ikut dengan nya, mengunjungi relasinya mempersiapkan diri buat bergerak menggulingkan Li Yuan Hao bila waktunya tiba.


Fei Yang sendiri tidak butuh waktu lama, dia sudah memasuki kota Yin Chuan.


Fei Yang berjalan santai dengan penampilan aslinya, karena dia yakin selain paman Li Sian Sian, Li Dan dan beberapa pengawal yang pernah mengawal Li Cing.


Tidak akan ada orang yang mengenali dirinya, melihat hari masih pagi,. Fei Yang pun mampir kesebuah restoran yang paling ramai, untuk mengumpulkan informasi.


Sebelum nanti malam, dia akan melakukan penyusupan kedalam istana.


Fei Yang masuk kedalam restoran, mencari sebuah tempat duduk kosong yang strategis.


Lalu dia memesan semangkuk Mie daging sapi panggang dan seteko teh wangi.


Fei Yang pun mulai memasang pendengarnya sambil menunggu pesanannya tiba.


Tapi Fei Yang sedikit heran dari awal hingga akhir selesai dia makan.


Tidak ada satupun pembahasan penting yang menyangkut dengan politik negara Xi Xia dan keluarga kerajaan.


Semua orang hanya membahas topik topik kehidupan sehari hari yang tidak penting.


Saat Fei Yang hendak meninggalkan restoran, karena tidak mendengar informasi penting yang dia inginkan.


Tiba tiba terdengar suara bisik bisik dua orang yang duduk di pojok, karena cerita kedua orang itu cukup menarik.


Fei Yang pun membatalkan niatnya untuk pergi mencari penginapan,


Fei Yang memilih tetap duduk di sana melanjutkan minum teh, sambil mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.


"Kakak Wie,.. Apa benar kediaman perdana menteri Li Cing di Lan Zhou di serang hingga rata dengan tanah..?"


ucap Pria bermata sipit bertubuh pendek Gempal itu ke teman yang duduk di hadapannya..


Pemuda lainnya yang di panggil kakak Wie, mengangguk dan berkata,


"Benar sekali, aku bahkan mendengar langsung cerita dari penduduk di sekitar sana.."


"Bahwa yang datang menyantroni tempat itu, adalah para petinggi Lhama jubah merah "


"Tapi berhubung dengan kemunculan seorang pemuda bertopeng besi yang berilmu tinggi."


"Maka terjadilah pertempuran dahsyat di dalam kediaman perdana menteri Li Cing, yang mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit dengan hancurnya tempat kediaman tersebut.."