
Fei Yang mengangguk pelan semangatnya mulai bangkit mendengar pilihan kedua tersebut.
Asalkan bisa sembuh, hal lain bukan masalah.
Bisa melihat istrinya bisa bicara bisa jalan hidup bahagia di sampingnya, Itu yang paling utama.
Segala nama kekuatan ketenaran kekuasaan kekayaan dia boleh kehilangan semuanya.
Dia sedikitpun tidak sayang, yang penting orang orang yang di cintai nya keluarganya bahagia.
Hanya itu harapan nya saat ini.
Tapi Fei Yang tidak langsung puas, dengan sabar dia kembali bertanya,
"Selain pilihan kedua, apa ada cara lainnya tabib Hua..?"
Tabib Hua tersenyum dan berkata,
"Dasar kamu ini,.."
Tabib Hua menegur Fei Yang dengan matanya dan ucapan nya yang setengah jalan.
Tapi dia tetap menjawabnya,
"Cara terakhir, kalian berdua melakukan meditasi tingkat tertinggi, pindah kealam surgawi, kalian akan bertemu kembali disana."
"Hidup bersama kekal abadi selamanya, hanya kalian berdua saja.."
Fei Yang terdiam, mungkin inilah yang di lakukan oleh ayah dan mertuanya di lembah misterius hutan bambu sesat.
Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Pilihan ketiga kami belum bisa, kami masih ada Zi Zi Fei Yung dan Fei Lung yang masih bergantung pada kami.."
"Mungkin kelak bila mereka semua sudah berkeluarga, kami bisa lakukan itu .'
ucap Fei Yang pelan.
Fei Yang terlihat termenung dan berkata,
"Hanya ada pilihan kedua itu, Tapi bagaimana cara aku menemukan dan mengumpulkan kedua kekuatan itu.?"
"Aku tidak tega meninggalkan mereka dalam kondisi seperti ini.."
gumam Fei Yang penuh dilema.
"Paman tidak perlu khawatir, paman tetap di sini saja, bersama si kembar dan Bibi.."
"Urusan api dan es surgawi serahkan ke Nan Thian saja, Nan Thian pasti akan mengusahakannya.."
ucap Nan Thian penuh tekad kuat.
Membantu harus sampai tuntas, tidak boleh setengah setengah, bila setengah setengah lebih baik tidak, batin Nan Thian.
"Thian Er paman mengerti niat baik mu, tapi kedua benda surgawi itu, bukan sembarang orang bisa mendapatkan nya."
"Salah salah tubuh mu sendiri, yang akan meledak, tidak kuat menampung kedua kekuatan tersebut."
ucap Fei Yang mengkhawatirkan keselamatan ponakan nya itu.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Aku akan mencobanya, aku berjanji tidak akan memaksakan diri.."
"Paman tidak perlu khawatir.."
Fei Yang menatap Nan Thian dengan penuh rasa terimakasih dan berkata pelan,
"Thian Er, maaf paman dan bibi jadi merepotkan mu.."
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Paman ini bicara apa, aku ini keponakan sekaligus murid paman, tentu aku punya tanggung jawab dan kewajiban untuk itu."
Nan Thian kini menoleh kearah tabib Hua dan berkata,
"Tabib Hua, apa tabib Hua tahu di mana aku bisa menemukan api dan es surgawi itu..?"
Tabib Hua mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
Melihat reaksi ada tabib Hua, Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,
"Dunia begitu luas, kemana mau mencari nya..?"
"Hanya bisa berharap pada jodoh saja.."
Fei Yang menepuk bahu Nan Thian dan berkata,
"Thian Er api surgawi aku tahu tempatnya.."
"Kamu bila mampu mendapatkan nya, masukkan kedalam labu semesta ini, lalu simpanlah di dalam cincin penyimpanan ini.."
"Sebelum kamu temukan es surgawi, yang sampai kini masih di jaga oleh seekor mahluk setengah naga, setengah manusia, berambut merah yang disebut Gong Gong.."
",Kamu tidak boleh menggunakan kekuatan api surgawi itu.."
Nan Thian memakai cincin pemberian Fei Yang, lalu dia bingung menatap botol labu tua di hadapannya.
Fei Yang mengerti, apa yang sedang jadi pikiran Nan Thian.
Dia pun berkata,
"Thian Er penggunaannya tidak sulit, kamu cukup bayangkan saja benda itu masuk kedalam cincin di tangan mu itu."
"Begitupula kamu ingin mengeluarkannya, termasuk ingin melihat isi cincin itu, cara penggunaan nya sama saja..."
Nan Thian mengangguk mengikuti petunjuk Fei Yang, sesaat kemudian dia berkata,
"Paman cincin ini aku tidak bisa menerimanya.."
"Biar labu ini saja, isi cincin ini terlalu banyak itu bukan hak ku, aku tidak boleh.."
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Kalau kamu tidak mau tidak apa apa, anggap saj aku pinjamkan pada mu.."
"Bila kelak kamu kembali, kamu boleh kembalikan lagi kepada ku.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum lembut.
"Baiklah kalau begitu, anggap saja benda ini aku pinjam dari paman dulu, setelah urusan ini selesai.."
"Aku pasti akan mengembalikannya lagi."
ucap Nan Thian serius.
Fei Yang menepuk pundak Nan Thian dengan lembut dan berkata,
"Thian Er tugas mu itu tidak mudah, bila menemukan kesulitan, terutama mencari lokasi inti es dan keberadaan Gong Gong.."
"Kamu bisa mencoba menemukan guru ku Wu Ming Lau Jen, minta petunjuk lah pada beliau.."
"Di mana aku bisa temukan guru paman itu.?"
tanya Nan Thian penasaran.
"Kun Lun San, diantara 36 gua surgawi dan satu gua besar gua malaikat, di situlah guru ku berada."
jawab Fei Yang sesuai pesan gurunya dulu.
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Baiklah paman, lalu di mana letak api surgawi yang paman tahu."
Fei Yang sambil menahan senyum berkata,
"Kalau aku bilang kamu pasti tidak percaya, tempatnya itu ada di, jauh di tepi langit, dekat di depan mata.."
Nan Thian menatap dengan penuh penasaran dan berkata,
"Di mana itu ?"
"Saat kamu keluar dari sini, apa kamu ada melewati sebuah gua di tebing jurang..?"
tanya Fei Yang sambil tersenyum penuh arti.
"Ada, ahh apa jangan jangan gua itu tempatnya..?"
tanya Nan Thian bersemangat.
Fei Yang sambil tersenyum mengangguk dan berkata,
"Berjuanglah, kami semua mengandalkan mu.."
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Doa kan saja, tunggu kabar baik dari ku.."
"Aku langsung sekarang saja,.."
"Tabib Hua, paman semuanya, aku pamit duluan.."
ucap Nan Thian sambil memberi hormat.
Tabib Hua tersenyum dan membalas dengan anggukan.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Aku akan mengantar mu.."
"Kakak sampai jumpa,..!"
ucap kedua kembar terlihat agak sedih melepas kepergian Nan Thian.
Nan Thian kembali untuk membelai kepala mereka dan menciumi nya,
"Jangan nakal, kakak pasti kembali.."
Kedua kembar itu mengangguk pelan.
"Ya kak, kami janji.."
Nan Thian menepuk pundak mereka dengan lembut, lalu menoleh kearah Kim Kim dan berkata,
"Adik Kim Kim ayo kita jalan.."
Kim Kim mengangguk, lalu mengikuti Nan Thian dan Fei Yang meninggalkan ruang makan.
Sesaat kemudian Nan Thian dan Kim Kim sudah mendarat di depan gua.
Dengan langkah hati hati Nan Thian memimpin di depan memasuki ruangan sebelah dalam gua yang semakin kedalam semakin panas.
Nan Thian melewati gerbang cahaya kuning dan merah tanpa masalah.
Di pintu gua cahaya biru, Nan Thian dan Kim Kim harus menggunakan tenaga saktinya untuk membantu bertahan.