
Kedatangan rombongan pasukan Zhao Heng di sambut baik oleh Raja Tay Li sendiri.
Raja Tay Li berdiri paling depan, di ikuti oleh para menterinya di belakang berbaris rapi, untuk menyambut kedatangan rombongan pasukan keluarga Guo yang di pimpin oleh pangeran Zhao Heng.
Melihat sambutan dari kerajaan Tay Li, Zhao Heng langsung melompat turun dari atas punggung kuda tunggangan nya.
Di ikuti oleh Wei Wen dan Fei Yang yang duduk diatas punggung satu kuda.
Wei Wen dengan alasan tidak bisa naik kuda, memaksa berboncengan dengan Fei Yang.
Fei Yang sempat mengusulkan Wei Wen menggunakan kereta kuda, seperti yang biasa di gunakan oleh keluarga bangsawan.
Tapi dengan alasan menghambat perjalanan menjadi lambat, Wei Wen menolaknya dengan tegas.
Fei Yang yang kehabisan kata-kata, mau tidak mau terpaksa menuruti permintaan putri itu, meski merasa agak risih.
"Saya pangeran Zhao Heng mendapatkan tugas dari ayah ku Kaisar Zhao Kuang Yi datang ke wilayah selatan memenuhi undangan Raja Tay Li.."
ucap Zhao Heng memberi hormat kepada raja Tay Li..
"Selamat datang pangeran Zhao Heng, saya Duan Xi Ping, mewakili rakyat Tay Li mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya, atas kesudian kerajaan Song mengirim bala bantuan kepada kami.."
"Mari pangeran Zhao, silahkan lewat sini.."
ucap raja Duan Xi Ping sambil menggandeng tangan Pangeran Zhao Heng menuju istananya.
Yang ikut masuk ke ibukota kerajaan Tay Li hanya Pangeran Zhao Heng putri Wei dan Fei Yang saja.
Sisanya pasukan keluarga Guo membuat kemah di depan tembok kota dengan tertib.
Sambil berjalan bersama memasuki istana kerajaan Tay Li, Duan Xi Ping berkata,
"Pangeran Zhao Heng, saya sudah mempersiapkan perjamuan untuk anda, semoga saja tidak mengecewakan.."
Zhao Heng menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Terimakasih yang mulia, tapi menurut ku situasi sedang genting."
"Apa tidak sebaiknya kita langsung saja menuju ke ruang kerja yang mulia, untuk membahas Misi dan masalah yang sedang kita hadapi."
"Mengenai pesta perjamuan, menurut ku setelah pulang dari misi kita mengalahkan para perampok, baru kita rayakan juga belum terlambat.."
Raja Duan Xi Ping, sedikit kaget dan kagum dengan sikap pangeran Zhao Heng yang sangat profesional.
Kerja dulu, berhasil baru pesta, bukan pesta dulu baru bekerja.
Dengan kagum Duan Xi Ping segera berbisik pada salah satu menterinya untuk membubarkan acara pesta.
Dia sendiri langsung membelokkan arah tujuannya keruang kerjanya.
Setelah berada di dalam ruangan kerja Raja Duan Xi Ping, mereka di ajak mengelilingi sebuah miniatur wilayah kerajaan Tay Li dan sekitarnya.
Di sana dia membahas dan menjelaskan markas markas pasukan kerajaan Vietnam dan Burma, yang selalu datang mengancam ketenangan perbatasan mereka.
Setelah memberikan penjelasan, Raja Duan Xi Ping berkata,
"Pangeran Zhao, berapa banyak pasukan yang kamu bawa kemari.."
"Lebih kurang 50.000 personil yang mulia.."
jawab Zhao Heng apa adanya..
Raja Duan Xi Ping berkata,
"Kami sendiri juga hanya ada 30.000 personil.."
"Aku tahu dalam pertempuran, kemenangan tidak bergantung di jumlah pasukan.."
"Tapi sedikit banyak hal itu tetap akan sangat berpengaruh..'
"Tahukah pangeran berapa jumlah pasukan musuh kita..?"
Zhao Heng menggelengkan kepalanya dan menatap raja Duan Xi Ping menunggu penjelasan..
"Di lokasi sebelah kiri ini, yang merupakan markas pasukan musuh dari Vietnam,.di perkirakan mencapai 200.000 personil.."
"Dan di sebelah kanan ini, yang merupakan markas pasukan.burma, di perkirakan mencapai 500.000 personil.."
ucap Duan Xi Ping sambil menunjuk dua lokasi di petanya.
Zhao Heng mengangguk dan berkata,
"Kita hanya fokus memukul mundur mereka, bukan ingin mengambil alih kekuasaan di kerajaan mereka.."
"Aku rasa kita masih punya kesempatan.."
ucap Zhao Heng penuh keyakinan.
"Semoga saja ."
"Pangeran Zhao, pasukan mu K
apan mulai bisa bergerak..?"
tanya Duan Xi Ping ingin tahu, agar bisa bersiap siap..
Zhao Heng berpikir sejenak kemudian berkata,
"Kurasa dua hari lagi pasukan ku sudah siap diberangkatkan."
"Baiklah kalau begitu dua hari lagi kita akan bersama sama menyerang kesini.."
ucap Raja Tay Li serius..
"Kenapa kita memilih menyerang kemari.?"
tanya Zhao Heng bingung..
"Karena ini adalah tempat pusat perbekalan pasukan kerajaan Vietnam."
ucap Duan Xi Ping memberi penjelasan.
"Lalu pusat perbekalan pasukan Burma ada di mana ?"
tanya Zhao Heng penasaran.
Raja Duan Xi Ping, menunjuk beberapa titik dan berkata,
"Yang ini agak repot, markas perbekalannya ada di beberapa titik yang tersebar,di 5 tempat sini,..sini,.. dan sana.."
Zhao Heng.mengangguk paham,.akan posisi posisi yang di tunjuk oleh Raja Duan Xi Ping.
Setelah rapat selesai,.. Zhao Heng, Fei Yang dan Wei Wen pun kembali ke perkemahan mereka.
"Pendekar Li bagaimana pendapat mu dalam hal ini ?"
tanya Zhao Heng saat mereka sedang berjalan kembali menuju daerah perkemahan.
"Sulit di katakan, karena kita sama sekali tidak mengenal tempat yang nantinya akan jadi tempat pertempuran kita "
"Sebaiknya kita pergi lihat lihat lebih dulu, memanfaatkan situasi dimana pasukan kita sedang istirahat dalam dua hari ini.."
ucap Fei Yang memberi saran.
"Kalau perlu, kita harus beritahu pada Raja Duan, bila kita belum siap, kita tidak boleh terburu-buru tanpa tahu situasi jelas langsung berangkat kesana.."
"Itu sangat berbahaya,.."
ucap Fei Yang mengemukakan pandangan nya.
Zhao Heng mengangguk setuju, tanpa berkata apapun.
Menjelang sore terlihat 4 orang meninggal kan kerajaan Tay Li, terus memasuki wilayah hutan di luar perbatasan kerajaan Tay Li.
Mereka adalah terdiri dari seorang pemuda, pemandu jalan.
Fei Yang Zhao Heng dan Wei Wen.
Baru saja mereka memasuki wilayah kawasan hutan yang rimbun dan gelap.
Wei Wen mulai menepuk dan menggaruk sana sini, diserang oleh nyamuk yang sangat banyak.
Melihat hal itu Fei Yang pun membantu melindungi nya dengan tenaga inti api.
Sehingga tidak ada nyamuk yang berani mendekati mereka.
"Makasih ya kakak Yang,.."
ucap Wei Wen dengan suara lembut dan tatapan mata mesra.
Fei Yang tidak berkata apa-apa, dia hanya merasa merinding dan agak takut terhadap dirinya sendiri.
Dia takut tidak bisa mengontrol diri, dan membalas menanggapi sikap Wei Wen yang akhir-akhir ini sangat menggoda.
Mereka kembali meneruskan perjalanan mengikuti pemuda lokal yang bertindak sebagai penunjuk jalan
Tiba-tiba muncul kabut ungu di depan sana, si pemuda penunjuk jalan buru buru menggunakan kain yang dia kencingi sebagai penutup hidung.
Fei Yang memberikan ke Zhao Heng dan Wei Wen masing masing satu pil anti racun.
Lalu melepaskan pukulan udara kosong kedepan, sehingga kabut ungu itu buyar.