
Istana sangat besar dan luas, jalannya juga mirip mirip sangat banyak cabang.
Bila sampai terpisah dari Wei Wen dan tersesat, ini akan jadi hal yang tidak perlu.
Wei Wen terus melangkah dengan kepala tertunduk dan wajah merah.
Dia memaki maki kecerobohannya sendiri, yang tidak menempatkan beberapa pelayan.
Atau Siau Cui untuk mengawasi Fei Yang, sehingga membiarkan dia bebas berkeluyuran.
Hingga tak sengaja menemukan rahasia pribadinya yang memalukan.
Wei Wen yang terus melangkah cepat tak terasa, mereka sudah keluar dari kompleks istana.
Setelah keluar dari kompleks istana, Wei Wen baru menoleh kearah Fei Yang, yang sedang berjalan santai mengikutinya dibelakang.
"Kakak Yang kita kemana sekarang ?"
tanya Wei Wen sambil menatap Fei Yang.
Fei Yang menjawab dengan santai,
"Mau kemana lagi ? tentu saja terus ke selatan, mampir ke Xiang Yang.."
"Temui kakak' mu, selanjutnya ikutin aja keputusan kakak mu.."
ucap Fei Yang bersikap acuh.
Semua perjalanan mereka sudah di atur orang, bagi Fei Yang pertulangan seperti ini sudah tidak menarik lagi.
Dia paling malas berhubungan dengan orang kerajaan,.. tapi dia malah selalu terseret arus pusaran itu, tanpa bisa menghindar.
Terpaksa dia harus jalani saja, tak ada gunanya juga di pikirkan .
Wei Wen mengangguk lalu melanjutkan perjalanan menuju gerbang selatan.
Wei Wen mengerti mengapa Fei Yang bersikap seperti itu, jadi dia tidak mau banyak bertanya lagi.
Saat ini yang penting meninggalkan istana berpetualang bersama Fei Yang.
Bila sudah ada di lapangan semua perkembangan berjalan sesuai situasi.
Mereka bebas menentukan arah, yang penting tujuan akhir tercapai, masalah pemberontakan di selatan teratasi.
Begitu mereka berdua tiba di gerbang selatan, di sana sudah ada dua jendral muka hitam dan putih, menggunakan pakaian ringkas sedang menunggu mereka di sana.
Kedua jendral itu langsung memberi hormat kearah Fei Yang dan Wei Wen.
"Yang mulia pangeran Li dan Putri Zhao, kami berdua siap menjalankan perintah."
"Tak perlu banyak peradatan paman Hei Paman Bai.."
"Di perjalanan panggil saja aku Wen Wen, dan dia Fei Yang."
ucap Wei Wen berpesan.
Fei Yang juga mengangkat tangan nya memberi hormat kepada kedua jendral itu, dia juga setuju dengan ucapan Wei Wen.
Kedua jendral itu mengangguk mengerti, lalu mereka mempersilahkan Fei Yang dan Wei Wen lewat lebih dahulu.
Mereka mengikutinya dari belakang.
Setelah berjalan cukup jauh meninggalkan ibu kota Kai Feng, Fei Yang pun memanggil Kim Tiaw dengan Cian Li Cuan Im ( Ilmu mengirim pesan Ribuan Li ).
Tak perlu menunggu lama seekor rajawali emas raksasa melayang turun dari angkasa mendarat di hadapan mereka.
Jendral hitam dan putih sangat kaget melihat rajawali yang mendarat di hadapan mereka.
Mereka memang pernah dengar tentang Pangeran Xi Xia yang memiliki tunggangan Rajawali Emas.
Tapi mereka tidak menyangka Rajawali Emas Fei Yang sebesar ini.
"Ayo paman kita naik ke punggung Kim Tiaw, dia akan mengantar kita ke Xiang Yang.."
ucap Fei Yang sambil menepuk pundak jendral hitam dan putih, membuyarkan lamunan mereka.
Jendral hitam dan putih mengangguk, mereka mengikuti Fei Yang dan Wei Wen yang sudah lebih dulu, duduk di atas punggung Kim Tiaw.
Kedua jendral itu meski bertubuh besar, tapi mereka bisa mendarat ringan di punggung Kim Tiaw, ini menunjukkan Ilmu mereka tidak lah rendah.
Kim Tiaw mengepakkan sepasang sayap nya, lalu melompat terbang ke udara, membawa rombongan Fei Yang meninggalkan tempat itu.
Dari sana Fei Yang dan rombongannya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Fei Yang yang pernah tinggal beberapa waktu, di kediaman keluarga Guo.
Dia langsung memimpin rombongan tersebut menuju kediaman keluarga Guo.
Melihat kedatangan Fei Yang para penjaga di depan gerbang kediaman keluarga Guo, segera maju memberi hormat dan berkata,
"Apa kabar pendekar Li, ? lama tidak berjumpa."
"Maaf pendekar Li ingin bertemu siapa ? pangeran Zhao, nyonya Guo, atau tuan muda dan tuan besar Guo..?"
Fei Yang membalas penghormatan para penjaga dan berkata,
"Kabar ku cukup baik, aku kali ini datang ingin bertemu dengan pangeran Zhao Heng.."
"Ohh begitu,.. mari pendekar Li, biar saya yang antar pendekar Li Dan temannya kedalam.."
Fei Yang dan rombongannya mengikuti kepala penjaga masuk kedalam kediaman keluarga Guo yang besar.
Sampai di bagian dalam, gedung pengantaran di teruskan oleh kepala pelayan di dalam gedung.
Fei Yang dan rombongannya di antar menuju taman samping, di mana Pangeran Zhao Heng dan Nyonya Guo terlihat sedang duduk santai ngobrol sambil minum teh.
Melihat kedatangan Fei Yang, kedua orang itu langsung berdiri, berjalan menghampiri Fei Yang sambil tersenyum lebar.
Tapi setelah dekat tiba-tiba Wen Wen melompat keluar dari balik punggung Fei Yang sambil tertawa gembira berkata,
"Kakak Heng,.. kakak ipar !"
"Apa kabar,..!?"
Melihat kehadiran Wen Wen bersama Fei Yang, diikuti oleh jendral hitam dan putih yang sudah menjatuhkan diri berlutut di hadapan nya.
Pangeran Zhao Heng benar benar kaget, di dalam hati dia menebak nebak ada kabar apa yang di bawa rombongan itu untuknya.
"Kamu gadis nakal kenapa bisa sampai kemari,? bagaimana kamu bisa kenal dengan pendekar Li..?"
tanya Zhao Heng sambil maju merangkul adik kesayangannya itu.
Nyonya Guo juga tersenyum dan maju ikut membelai kepala Wen Wen dengan lembut.
Sesaat kemudian Zhao Heng menoleh kearah kedua jendral itu dan berkata,
"Kalian berdua bangunlah.."
Wei Wen mengeluarkan sepucuk surat dari berkata,
"Cerita nya panjang, nanti saya akan ceritakan ke kakak dalam perjalanan.."
"Ini surat dari ayah, aku kemari atas perintah ayah mengantar surat ini buat kakak..'
Dengan penuh antusias, pangeran Zhao Heng langsung menerima surat itu.
Dia membuka dan langsung membacanya dengan penuh semangat.
Tapi begitu membaca isi surat wajahnya langsung berubah menjadi sedih dan kecewa.
Melihat perubahan wajah suaminya, nyonya Guo sambil menatap suaminya bertanya dengan hati hati,
"Ada apa suami ku..?"
Pangeran Zhao Heng sambil menghela nafas panjang, menyerahkan surat itu kepada istrinya, dan berkata.
"Kamu bacalah sendiri.."
Pangeran Zhao Heng menoleh kearah jendral hitam dan putih, lalu berkata,
"Berapa banyak pasukan yang kalian bawa untuk menghadapi pemberontak dari selatan..?"
Kedua jendral itu kaget dan bingung dengan pertanyaan pangeran Zhao Heng.
Mereka hanya menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Baginda hanya mengurus kami berdua untuk mengawal putri Wei kemari.."
"Setelah tugas selesai, kami langsung pulang lagi ke ibukota, jadi kami tidak membawa pasukan sama sekali.."