PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SINDIRAN RATU SABRINA


Fei Yang berbaring mencoba memejamkan matanya, tapi bayangan wajah Xue Lian dan Wen Wen bergantian terus muncul di hadapannya, membuat dia kesulitan tidur.


Akhirnya dia bangun duduk mencoba fokus bermeditasi, tapi tetap saja sulit hilang.


Fei Yang memutuskan menghentikan meditasi nya, daripada sirkulasi tenaga saktinya nanti kacau dan dia bisa kerasukan karena kesalahan berlatih.


Dia akhirnya duduk termenung menatap kearah jendela, di mana terlihat bulan bersinar terang, cahaya menembus hingga ke ujung tempat tidur nya.


Fei Yang membiarkan pikirannya melayang bebas sesuka hati,


tanpa sadar mulutnya berdendang lagu yang pernah di nyanyikan oleh Wen Wen dan syair selengkapnya pernah dia lihat di kamar Wen Wen


Berjalan melintasi ribuan gunung dan merasakan pengalaman sepanjang perjalanan...


Baru bisa tiba kembali, ketempat penuh kenangan ini.


Apakah tatapan matanya yang penuh harapan dan penantian itu, masih tetap sama seperti dulu, tidak pernah berubah ?


Masih setia berdiri di bawah payung menunggu, untuk menyambut kepulangan ku, tanpa memperdulikan terpaan angin di musim dingin.


Apakah dia masih duduk di depan jendela, menanti kepulangan dengan tatapan mata penuh cinta, kasih sayang dan harapan.?..


Apakah kamu masih menggantung lampu kecil depan rumah mu, untuk menyambut kepulangan ku kembali ke sisi mu .?..


Jelas jelas ini semua hanyalah impian dan harapan kosong, bahkan aku tidak berani bertanya, apakah semua yang terjadi dulu adalah nyata atau cuma sekedar mimpi saja.


Setelah sekian tahun berlalu, kini hanya tersisa aku seorang diri di depan jendela ini.


Di temani oleh malam yang begitu dingin, gelap dan sepi, tanpa ada lampu, tanpa ada dirimu yang selalu setia menanti ku kembali.


Kini hanya ada cahaya rembulan yang masih menerangi ku, sama seperti waktu dulu,..


Setelah menyelesaikan lantunan lagu sendu itu, Fei Yang mengambil sehelai daun yang terbang di depan jendela.


Lalu dia menggunakan nya untuk meniup nada lagu tersebut, sehingga berkumandang memenuhi lembah yang sepi sunyi dan hening itu.


Setelah menyelesaikan nya, Fei Yang membuang daun di tangan nya, lalu dia menghela nafas pelan.


Terbang keluar melewati jendela, terus melayang ringan hingga tiba di puncak tebing air terjun.


Duduk di sebuah batu datar, di mana dia pernah duduk berdua bersama sahabat nya.


Fei Yang tidak memiliki cermin yang menjadi kunci untuk menuju ruang rahasia, tempat penuh kenangan itu.


Sehingga dia hanya bisa memilih duduk di atas batu datar itu, bermandikan cahaya rembulan.


Beberapa saat berlalu, tiba-tiba bunga salju mulai turun dari langit.


Melayang layang indah turun kebawah, kemudian mencair berubah menjadi tetesan air embun.


Fei Yang tetap duduk di posisi terus melamun tanpa memperdulikan rambutnya yang di penuhi oleh bunga salju.


Juga baju di tubuhnya mulai basah oleh salju yang mencair,.terkena suhu panas tubuh Fei Yang.


Merasakan perubahan cuaca dingin di luar sana, tenaga sakti Fei Yang bergerak otomatis memberikan perlindungan tetap menjaga kehangatan di tubuh Fei Yang.


Fei Yang menghabiskan waktu selama tiga hari di sana, melakukan penantian, berharap ada keajaiban bisa kembali bertemu dengan sahabat nya itu.


Tapi kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, di hari ketiga setelah menyiapkan hampir 20 jenis masakan enak.


Fei Yang pun akhirnya meninggalkan hutan bambu sesat dengan perasaan hampa dan kosong.


Fei Yang melanjutkan perjalanan nya meninggalkan tempat itu bersama Kim Tiaw, mereka langsung menuju Xi Xia.


Kim Tiaw langsung membawa Fei Yang menuju kota Yin Chuan yang merupakan pusat ibukota kerajaan Xi Xia.


Fei Yang mendarat ringan di halaman depan istana, para pengawal yang mengenalinya, tidak ada yang berani menghalangi langkah nya memasuki istana.


Saat Fei Yang tiba di taman istana, di sana sudah terlihat Neneknya, ayah ibunya, perdana menteri Li dan Sian Sian mereka semua menyambutnya dengan senyum gembira.


Fei Yang maju berlutut di hadapan neneknya dan kedua orang tua nya memberi hormat dan berkata,


"Semoga kalian semua panjang' umur dan sehat selalu."


"Bangunlah anak ku, bagus lah akhirnya kamu pulang juga.."


"Kami sudah lama merindukan mu, untuk kembali kemari.."


ucap Raja Li Yuan Ming penuh haru.


Raja Li Yuan Ming membangunkan Fei Yang dan memeluknya dengan penuh haru.


Pesta jamuan kecil pun diadakan di taman, atas perintah raja' Li Yuan Ming.


Sambil berbincang makan makan dan mengobrol dengan akrab, Fei Yang tiba-tiba bertanya,


"Ayah Li Dan dan Lan Yi isterinya kemana, ? kenapa hampir setengah harian aku belum melihatnya.?'


Raja Li Yuan Ming hampir tersedak mendengar pertanyaan putranya, sedangkan Ratu Sabrina wajahnya menjadi kurang sedap di pandang.


Tapi dia tidak berkomentar apapun, hanya melirik kearah mertuanya ratu Halimah yang terus makan minum seolah-olah tidak perduli dengan pertanyaan Fei Yang.


Setelah minum dan menenangkan batuknya, dengan berdehem beberapa kali.


Akhirnya Raja Li Yuan Ming berkata,


"Li Dan dan istrinya sedang bertugas menjaga perbatasan timur yang berbatasan langsung dengan Wilayah Liao Dong.."


Fei Yang menghela nafas lalu melirik kearah Neneknya dan berkata,


"Apakah ini ide nenek..?"


Nenek Halimah menghentikan makannya, dia menatap kearah Fei Yang dan berkata,


"Fei Yang cucuku, hal ini memang ide awalnya muncul dari ku.."


"Kamu tahu sendiri tabiat keras Li Dan, sebelum terjadi bentrokan dengan kakak sepupu mu Li Yung.."


"Nenek mengusulkan Li Dan dan istrinya yang sama sama berkemampuan tinggi, pergi menjaga perbatasan melatih pasukan di sana.."


"Hal ini akan membuat musuh ragu untuk menyerang kita.."


"Ini adalah sesuatu hal yang berdampak positif tidak ada ruginya, ketimbang mereka berdua berada di ibu kota.."


"Selain nenek, ayah mu dan perdana menteri Li juga mendukung hal ini.."


ucap nenek Halimah memberi penjelasan.


Fei Yang menghela nafas panjang, menuang segelas arak ke cawan nya, menghabiskannya.


Setelah meletakkan cawan kembali keatas meja, dia baru berkata,


"Lalu kakak sepupu ada di mana sekarang ? apa masih di penjara menjalani hukumannya."


Kali ini ratu Sabrina sudah tidak bisa menahan diri, sambil menegak habis cawan di hadapannya dan membantingnya keatas meja.


Dia pun berkata,


"Di penjara,.. !? mana mungkin dia di penjara,.. ku beritahukan pada mu putra ku.."


"Li Yung itu sangat hebat, kalau berjumpa dengan nya kamu harus memberinya hormat.."


"Karena keamanan seluruh kota raja kini bergantung padanya.."


"Dia kini adalah jendral muda yang membawahi seluruh pasukan di kota raja.


"Kini keselamatan seluruh keluarga mu bergantung padanya.."


"Jadi kamu tidak boleh bersikap tidak sopan padanya, mengerti kamu anak ku..?"


ucap ratu Sabrina sambil tersenyum mengejek.