
Nan Thian langsung menghampiri ranjang yang ada di kamar tersebut.
Setelah menurunkan Kim Kim yang langsung melanjutkan tidurnya.
Nan Thian baru menghampiri meja, yang sedang di tata ulang dengan masakan, yang di pindahkan dari kamar sebelah oleh para pelayan bawahan Fu Ma Ma.
Nan Thian duduk di sana, tanpa menghiraukan kesibukan mereka, dia kembali melanjutkan minumnya.
Setelah pelayan pelayan Fu Ma Ma pergi, Nan Thian baru mencoba masakan yang ada di atas meja.
Fu Ma Ma sebelum pergi mengikuti pelayan bawahan nya.
Dia memberi hormat kearah Nan Thian dengan membungkukkan badannya dan berkata,
"Tuan muda terimakasih banyak atas pengertiannya, Maafkan kami bila membuat tuan muda terganggu karena nya.
"Bila ada perlu sesuatu, tuan muda tinggal tarik saja tali lonceng di sebelah sana itu.."
"Pelayan kami, akan segera datang melayani tuan muda."
"Fu Ma Ma permisi dulu Tuan muda, silahkan di nikmati.."
ucap Fu Ma Ma dengan sikap penuh hormat.
Nan Thian membalas nya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Tanpa berbicara apapun, Nan Thian kembali menikmati minuman di hadapannya segelas demi segelas.
Xiao Tie yang berdiri di belakang Fu Ma Ma, menatap kearah Nan Thian dengan tatapan mata kasihan dan bersimpati.
"Kakak tampan, kalau boleh Xiao Tie memberi sedikit nasehat, kurangi minum nya, arak tidak bisa menyelesaikan masalah, sebaliknya akan membuat masalah semakin rumit."
"Jaga diri baik baik,.."
"Xiao Tie permisi dulu.."
ucap Xiao Tie dengan suaranya yang halus lembut penuh perhatian.
Nan Thian melirik kearah Xiao Tie dan berkata,
"Terimakasih nasehatnya, idiot berambut putih akan mengingatnya.."
Nan Thian terlihat menghentikan minumnya, dia melanjutkan dengan menikmati beragam masakan, yang tersaji di hadapan nya.
Melihat hal itu, Siao Tie pun tersenyum puas, lalu dia segera membalikkan badannya, melangkah pergi menyusul Fu Ma Ma.
Setelah Siao Tie pergi, pintu penghubung pun di tutup kembali dengan rapat.
Nan Thian sendiri justru terlihat lebih menikmati, setelah kamar itu kini menjadi sepi hening dan tenang.
Sementara Nan Thian sedang menikmati ketenangannya sambil makan dan minum.
Di bagian lantai satu dari paviliun bunga persik, justru terlihat kesibukan.
Saat pria pria berbaju hijau terlihat kembali datang, mereka langsung melakukan steril di tempat itu, guna menyambut kedatangan gubernur Lim dan tamu kehormatan nya Pangeran Wuluzhen.
Beberapa waktu kemudian Gubernur Lim dan seorang kakek tua, berjalan mengawal seorang pemuda bertubuh tinggi besar sedikit gempal
Kepala terlihat sedikit unik, di sekeliling kepalanya di biarkan botak, tapi dia menyisakan sedikit rambut di bagian tengah belakang kepalanya, untuk di kuncir.
Sehingga penampilannya terlihat agak sedikit lucu, meski wajahnya sebenarnya cukup tampan.
Dialah putra keempat Raja Kubilai Khan, Pangeran Wuluzhen.
Dia sedang di tugaskan oleh ayahnya, untuk melakukan inspeksi di wilayah Chang An.
Gubernur Lim dan kakek tua itu, yang bukan lain adalah Hung Ping Chi dan Qi Lian Lao Koai.
Sejak menjadi gubernur Chang An, Hung Ping Chi mengganti marganya menjadi Lim Ping Chi.
Marga baru yang didapat nya dari anugrah kaisar Mongolia sebelumnya Tolui Khan.
Mereka melayani pangeran botak itu dengan sikap penuh hormat.
Melihat kedatangan mereka, Fu Ma Ma dengan cepat, maju menyambut mereka, lalu membawa mereka menuju Ruangan besar di lantai 3, yang sudah khusus di kosongkan untuk menyambut kedatangan mereka.
Semua hidangan mewah dan gadis muda tercantik ditempat itu, semua sudah di persiapkan untuk menyambut tamu istimewa itu.
Siau Tie dan kedua rekannya Siau Lan dan Siau Cui juga terlihat sudah hadir di sana.
Mereka bertiga sudah mengambil posisi di mimbar kecil, siap menyambut kedatangan tamu penting itu.
"Silahkan masuk tuan .."
Dia memberi kode agar gadis gadisnya maju memberikan sambutan.
Segera terdengar suara berisik dan manja para gadis muda itu mengerubuti ketiga orang itu.
Menarik mereka bertiga masuk kedalam, memberikan mereka pelayanan terbaik.
Mulai dari menyajikan arak, mengambilkan makanan, hingga menyuapi anggur ke mereka bertiga.
Tarian dan alunan musik indah mulai mewarnai seluruh suasana ruangan yang terlihat sangat meriah .
Ketiga tamu penting itu terlihat cukup menikmati pelayanan yang di berikan oleh para gadis penghibur itu.
Di penghujung acara, pangeran Wuluzhen yang terlihat sedikit mabuk, karena kebanyakan minum.
Dia mulai meninggalkan kedua rekannya, dengan langkah sempoyongan dia berjalan menghampiri kearah mimbar kecil di mana Siau Tie dan kedua rekannya berada.
Pangeran Wuluzhen menatap Siau Tie dari atas hingga kebawah dengan penuh nafsu.
Siau Tie yang merasa tidak nyaman dengan tatapan mata pangeran botak itu.
Dia menghentikan permainan musiknya menatap kearah pangeran botak itu dengan sikap was was.
Instingnya mengatakan akan ada bahaya yang datang mengancam dirinya.
Siao Tie menatap kearah pangeran itu dengan senyum canggung dan agak takut takut.
Tanpa memperdulikan reaksi Siau Tie, dia langsung maju memegang tangan Siau Tie dan berkata,
"Kami saja yang lanjutkan menghibur dan menemani ku.."
"Maaf tuan, aku tidak bisa.."
"Aku tidak melayani hal lain selain bermain musik.."
"Maaf tuan.."
ucap Siau Tie ketakutan, berusaha menolaknya secara halus.
Kedua rekan Siau Tie terlihat melangkah mundur ketakutan, mereka sama dengan Siau Tie.
Mereka juga hanya melayani bermain musik, tidak yang lainnya.
Sehingga mereka juga terlihat sangat ketakutan dengan kejadian yang menimpa Siau Tie.
Sementara itu gadis gadis penghibur yang memang bertugas melayani hal itu.
Mereka yang sedari tadi duduk semeja dengan ketiga tamu agung itu.
Kini mereka semua terlihat buru buru ingin maju menghampiri pangeran Wuluzhen.
Untuk menggantikan rekan mereka Siao Tie, melayani keinginan pangeran itu.
Tapi pergerakan mereka tertahan oleh Lim Ping Chi dan Qi Lan Lao Koai, yang melarang mereka maju ikut campur kesana.
Sehingga mereka kini hanya bisa berdiri diam di sana menatap khawatir kearah Siao Tie dan pangeran itu.
Salah satu dari mereka diam diam mundur meninggalkan tempat itu pergi memberitahu Fu Ma Ma.
Di depan mimbar sana, pangeran Wuluzhen yang mendengar dan melihat reaksi penolakan Siao Tie.
Dia menjadi semakin penasaran, dia semakin mengeratkan genggaman tangannya, yang mencekal lengan Siau Tie yang kecil dan berkulit halus.
"Aduh..! sakit tuan...! lepaskan..!"
teriak Siao Tie tertahan sambil meringis, dia berusaha meronta mencoba melepaskan diri.
Tapi usahanya sia sia, karena tenaganya terlalu kecil untuk melakukan perlawanan.
"Ha..ha..ha..! cantik jangan melawan lagi,.. jangan malu malu..ayo ikut dengan ku.."
ucap Wuluzhen sambil tertawa-tawa.
Dia menarik Siao Tie kedalam pelukannya, sambil berusaha memaksa ingin mencium Siao Tie.
"Ahhhh,..!"
jerit Siao Tie kaget, saat tangan nya ditarik dengan kuat sehingga tubuhnya tersentak masuk kedalam pelukan Wuluzhen.
"Jangan tuan..Ahhh..tidak boleh..jangan ..tidak mau.. lepaskan... lepaskan..!"
teriak Siau Tie sebisanya melakukan perlawanan, dengan meronta ronta berusaha melepaskan diri.