
Nan Thian dengan sabar menunggu tabib Hua mempersiapkan segala sesuatunya, di bantu oleh Hua Lung cucunya.
"Ayo anak muda, kita bisa berangkat sekarang.."
ucap Tabib Hua sambil berjalan keluar dari dalam pondoknya.
Nan Thian pun mengikutinya dari belakang ditemani oleh Kim Kim yang tidak banyak bicara.
Sepanjang Nan Thian ngobrol dengan Tabib Hua, juga saat menunggu pun, dia lebih memilih untuk berjalan jalan di luar pondok.
Setelah keluar dari jalan rahasia, tabib Hua pun bertanya,
"Kita menempuh jalan apa kesana..?"
"Lewat jalur atas tabib Hua.."
jawab Nan Thian sopan.
"Apa kita gunakan Kim Tiaw, tapi dimana Kim Tiaw nya ?"
tanya tabib Hua.
Nan Thian menoleh kearah Kim Kim, ingin meminta Kim Kim untuk merubah wujudnya.
Agar mereka bisa segera melanjutkan perjalanan.
Tapi dia malah menyaksikan Kim Kim sedang berbicara dengan Hua Lung.
"Kamu kenapa terus ngelihatin aku, dan selalu curi curi pandang sepanjang pertemuan kita ?'"
"Kamu suka dengan ku..?"
ucap Kim Kim sambil menatap kearah Hua Lung dengan senyum nakalnya.
Ditanya langsung seperti itu, oleh gadis yang sangat menarik perhatiannya.
Hua Lung tentu saja gelagapan, meski usianya sudah cukup dewasa.
Tapi selama ini dia selalu ikut dengan kakeknya, masih lajang belum pernah berdekatan dengan wanita secara langsung.
Kini bertemu dengan Kim Kim yang sangat cantik, kelihatannya juga masih lajang sama seperti dirinya.
Hua Lung menduga demikian, karena dia melihat meski Nan Thian dan Kim Kim bersama.
Tapi kelihatannya hubungan mereka tidak seperti sepasang kekasih.
Sangat berbeda dengan sikap Fei Yang dan Xue Lian yang dia temui sebelumnya.
Makanya dia sangat ingin mengenal lebih jauh dan bisa lebih dekat dengan nya.
Tapi berhubung dia tidak tahu caranya, juga tidak punya keberanian untuk memulainya.
Dia merasa ragu, karena ini adalah first time nya, jadi terlalu banyak yang dia pertimbangkan dan pikirkan.
Sehingga dia malah jadi takut untuk bertindak dan memulai nya.
Akhirnya dia hanya bisa memandang kagum dan diam diam selalu mencuri pandang saat Kim Kim tidak melihat kearahnya.
Tapi begitu Kim Kim melihat kearahnya, dia buru buru menundukkan kepalanya, atau pura pura melihat kearah lain.
Sebagai seorang gadis, meski dia jelmaan naga, tapi naga itu tetap betina.
Dia tetap punya sisi feminimnya, lebih mudah merasakan, bila ada lawan jenis yang tertarik dengan dirinya.
Tapi berhubung Kim Kim punya sifat ceplas ceplos juga jahil.
Dia langsung menembak Hua Lung, ingin mengolok olok nya.
Hua terlihat gugup dan sulit berbicara, hanya ada suara.
"Ehh, ya .ahh tidak..aku.."
ucap Hua Lung gagap dan terlihat sangat gugup juga salah tingkah.
Melihat sikap yang di tunjukkan oleh Hua Lung, meledaklah tawa Kim Kim.
Dia tertawa hingga terpingkal pingkal, sebelah tangan memegangi perut, sebelah tangan lainnya menunjuk kearah wajah Hua Lung.
Melihat hal ini, Nan Thian sambil menggelengkan kepalanya berkata,
"Adik Kim Kim jaga sikap mu, jangan tidak sopan, dan bercanda kelewat batas.."
Kim Kim mencibirkan bibirnya kearah Nan Thian dan berkata,
"Aku sedang berbicara dengan nya, apa urusannya dengan mu.."
"Emangnya kamu siapa aku ? berani ngatur ngatur aku.?"
ucap Kim Kim menantang.
"Kau .."
"Haisss ."
ucap Nan Thian keki, tapi dia memang tidak bisa membantah ucapan Kim Kim.
Apalagi dia memang tidak pandai bicara, akhirnya dia hanya bisa memendam rasa jengkel nya.
Lalu dia menoleh kembali kearah Hua Lung dan berkata,
"Lung ke ke, tapi aku harus minta maaf aku tidak menyukai mu, aku tidak punya feel dengan mu.."
"Karena aku adalah..."
"Rooaaarrrrrrr...!!!!"
Kim Kim tiba tiba merubah wujudnya menjadi seekor Naga emas raksasa dan meraung keras di depan wajah Hua Lung.
Hingga wajah Hua Lung berkeriput, diterjang angin kuat dari moncongnya yang terbuka lebar di depan Hua Lung
Hua Lung sampai sulit membuka matanya, dan terpaksa memiringkan kepalanya kesamping.
Saat melihat penampakan asli Kim Kim, Hua Lung kaget sampai mundur menempelkan punggungnya mepet di dinding batu tebing di belakangnya.
"Nona,..kau..!"
hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Hua Lung yang kaget.
Kakek tabib Hua Sin, juga memandang dengan mata terbelalak takjub kearah Kim Kim.
"Kim Kim kamu jangan kelewat batas..! atau aku benar benar akan marah..!"
"Masih banyak tugas menanti, hentikan main main ini..!"
bentak Nan Thian.
Kim Kim yang dalam wujud Naga Emas menoleh kearah Nan Thian sambil mendengus.
Dia segera bergerak memunggungi mereka, lalu mendekam diatas tanah.
Menunggu mereka naik keatas punggung nya.
Nan Thian membantu Hua Lung dan tabib Hua Sin naik duduk diatas punggung Kim Kim.
Lalu dia menepuk lembut punggung Kim Kim dan berkata,
"Ayo teman, kita berangkat sekarang.."
Kim Kim mengangguk pelan, kemudian dia melesat terbang keangkasa.
"Kakak Lung maafkan sikap teman ku, yang nakal dan suka bercanda ."
"Tapi dia aslinya sangat baik.."
ucap Nan Thian yang merasa tidak enak hati dengan Hua Lung.
Hua Lung tersenyum pahit dan berkata pelan,
"Tidak perlu berkata seperti itu, nona Kim Kim sana sekali tidak bersalah.."
"Dari awal hingga akhir, akulah yang salah."
"Aku yang telah berpikir dan berharap terlalu .."
"Dia begitu sempurna,.. mana mungkin..?"
ucap Hua Lung dengan kepala tertunduk malu.
Kakek Hua menepuk pundak cucunya dan berkata,
"Hari depan masih panjang, dan tidak ada yang tahu.."
"Lelaki sejati harus tetap semangat.."
Hua Lung mengangguk pelan dengan kepala sedikit tertunduk.
Nan Thian memilih diam tidak banyak bicara lagi.
Kim Kim setelah mendengar ucapan Hua Lung, barusan diam diam dia merasa sedikit bersalah.
Sehingga dia sepanjang jalan tidak berani cerewet lagi.
Dengan menunggangi Kim Kim, mereka bisa mempersingkat waktu perjalanan dengan cepat.
Saat tiba di jurang sebelah barat Yu Ni Feng, yang menjadi pintu keluar masuk alam dimensi ciptaan Fei Yang.
Nan Thian mengikuti arahan Fei Yang, dengan memberikan kode memukul pada perisai pelindung, alam dimensi ciptaan Fei Yang.
Tak lama berselang, sebuah pintu portal dimensi , yang mengeluarkan cahaya 6 warna.
muncul di hadapan mereka.
Begitu pintu portal terbuka, Kim Kim segera menerobos masuk kedalam pintu portal tersebut.
Melewati lorong panjang portal dimensi, akhirnya Kim Kim membawa rombongan kecil itu muncul melayang di angkasa.
Sebelum akhirnya terbang melewati hutan belantara, kemudian mendarat di depan pondok rumah Fei Yang.
Nan Thian memegangi lengan Hua Lung dan tabib Hua, lalu mendarat ringan di atas tanah.
Di depan pondok, terlihat Fei Yang dan kedua anak kembarnya sedang menunggu di sana.