PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENCOBA MENYUSUP


Setelah mementalkan para pasukan pemanah di depan Pang Tek.


Fei Yang mengibaskan tangannya keudara, anak panah yang tadi nya tertahan di udara.


Kini semuanya melesat sedikit memutari tubuh Pang Tek, kemudian semua anak panah itu, menancap ke arah ****** Pang Tek.


Pang Tek langsung berteriak,


"Aduhhhh,...!"


Tubuhnya jatuh tengkurap di atas lantai, dengan seluruh ****** penuh tertancap anak panah.


Pang Tek merintih rintih kesakitan, diatas lantai, keringat sebesar jagung memenuhi wajahnya.


Di tempat lain Sian Sian, yang bersandar lemah di atas meja, dia masih sempat tertawa sambil menutup mulutnya.


Melihat aksi Fei Yang menghajar si penghianat Pang Tek.


Fei Yang sendiri sambil tersenyum lebar berkata,


"Ceritakan peta kekuatan yang di bawa oleh Li Yuan Hao kemari..cepat..!!"


ucap Fei Yang setengah membentak dan tangannya dengan jahil menyentil ujung anak panah yang menancap di ****** Pang Tek


"Aduhhhh,...aduhhhhh,..Ta Sia ampunilah aku,.. ku mohon.."


teriak Pang Tek kesakitan dan buru buru minta ampun.


"Cepat katakan sebelum saya nanti mencabutnya satu persatu..!"


Bentak Fei Yang menggertak Pang Tek.


Pang Tek dengan wajah ketakutan, segera berkata,


"Menurut laporan mata mata kita, Raja Li Yuan Hao dan Li Yung datang dari 3 arah."


"Sayap kanan di pimpin oleh jendral Watobi.. yang memimpin 15 ribu pasukan.."


"Sayap kanan di pimpin oleh Toba Chen sebanyak 15 ribu pasukan.."


"Bagian tengah di pimpin oleh Li Yuan Hao dan Li Yung, dengan masing masing membawahi 10.000 pasukan.."


"Bagaimana dengan peta kekuatan kita,..?"


tanya Fei Yang kembali.


"Seluruh kekuatan kita termasuk pasukan pengaman kota hanya ada 15,000 orang mungkin kurang."


jawab Pang Tek sambil meringis.


Fei Yang mengulurkan tangannya kedepan wajah Pang Tek dan berkata,


"Mana ?"


"Apa,..!?"


bentak Pang Tek kesal.


Fei Yang sambil tersenyum dingin menekan salah satu anak panah kebawah dan berkata,


"Tentu saja obat penawar dan token pasukan mu, pura pura bodoh..!"


"Aduh,..aduh,.. ampun,.. ampun,..jangan owhhh,...!!"


teriak Pang Tek kesakitan.


"Mana,...?"


ucap Fei Yang mengulang.


"Ini,..ini,..ku mohon jangan siksa aku lagi.."


ucap Pang Tek memelas, sambil menyerahkan sebuah token harimau hitam ke Fei Yang dan sebuah botol porselen kecil.


Fei Yang menerimanya, lalu dia membawa botol porselen kecil itu, menghampiri Pang Hui.


Setelah botol itu dibuka tutupnya didepan hidung Pang Hui.


Hingga Pang Hui berbangkis beberapa kali, Pang Hui pun pulih.


"Terimakasih Sauw Sia..(Pendekar muda)"


ucap Pang Hui sambil memberi hormat.


Fei Yang hanya membalasnya dengan tersenyum dan berkata,


"Tidak perlu, ini token militernya, ku kembalikan pada mu."


"Pilihlah Jenderal berbakat, untuk membuat pertahanan, asal bisa bertahan 3 hari saja itu sudah cukup..."


Setelah memberi pesan dan mengembalikan token militer.


Fei Yang pun buru-buru menghampiri Nenek dan kedua orang tua nya, untuk memberikan pertolongan.


Lalu di lanjutkan dengan membantu Li Cing dan Sian Sian.


Sian Sian sangat malu dan gugup, saat Fei Yang berada di hadapan nya.


Melihat reaksi Sian Sian, Fei Yang sambil tersenyum berkata,


"Kamu kenapa gak seperti biasanya, mules ? mau boker atau mau kentut ?"


"Jangan di tahan nanti jadi penyakit.."


Sian Sian langsung bereaksi, dia langsung mengangkat wajahnya dengan mata melotot, dia ingin melayangkan tangannya menampar Fei Yang.


Tapi Fei Yang keburu bergerak mundur menjauh dan berkata, sambil tertawa.


"Tuh bagus, sudah bertenaga, dan agak normal sekarang.."


Tanpa menghiraukan Sian Sian yang sedang membanting kaki kesal dengan nya.


Fei Yang sudah bergerak membantu mengobati salah satu pejabat, yang datang menghadiri pesta.


Setelah pejabat itu pulih, Fei Yang memberikan botol porselen kecil di tangannya ke pejabat tersebut, dan berkata,


"Paman,.. tolong bantu aku untuk menolong yang lainnya.."


Pejabat itu menerima botol tersebut dari Fei Yang mengangguk cepat dan berkata,


"Terimakasih banyak Sauw Sia (pendekar muda)."


Fei Yang tersenyum dan mengangguk kecil.


Fei Yang kembali menghampiri ayah ibunya, dan berkata,


"Situasi berkembang jadi begini.."


"Aku harus segera pergi mencegah pergerakan pasukan Paman Li Yuan Hao mendekat kemari, untuk menghindari jatuh korban.."


"Yang er,.. berhati hatilah.."


ucap kedua orang tua Fei Yang.


Fei Yang mengangguk, lalu dia beralih ke neneknya.


"Nek Fei Yang harus ke garis depan, untuk mencegah paman Li kemari dengan pasukannya.."


"Pergilah nak,.. nenek percaya kamu bisa.."


ucap Nenek Fei Yang sambil menepuk pundak Fei Yang dengan lembut.


Fei Yang menganggukkan kepalanya, lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Saat melewati Sian Sian, Fei Yang sengaja berkata,


"Udah jangan marah terus, lihat itu bibirnya udah mirip ....Bebek.."


Tapi kali ini Sian Sian tidak menanggapi ledekan Fei Yang,. dia malah melangkah maju menatap Fei Yang dengan serius dan berkata,


"Berhati hatilah, janji lah pada ku pulang dengan selamat.."


Fei Yang sedikit terkejut mendengar ucapan Sian Sian yang penuh perhatian.


Tapi hal ini malah membuat Fei Yang merasa tidak nyaman dan sedikit bergidik mendengarnya.


Fei Yang menutupi rasa gugupnya dengan mengulurkan tangannya menyentuh dahi Sian Sian dan dahinya sendiri secara bergantian.


Lalu sambil pura-pura linglung, dia berjalan sambil menggelengkan kepalanya meninggalkan tempat tersebut.


Saat keluar dari ruang perjamuan, Fei Yang langsung melompat ke punggung Kim Tiaw, yang dengan setia menunggunya di halaman.


"Tiaw Siung tolong antarkan aku ke arah barat,"


Kim Tiaw mengangguk kecil, lalu dia pun mengepakkan sepasang sayap nya, lalu terbang keangkasa


bergerak cepat kearah barat.


Setelah terbang beberapa waktu, Kim Tiaw dan Fei Yang akhirnya menemukan rombongan pasukan berkuda, yang sedang bergerak cepat, menimbulkan gulungan debu yang berterbangan di udara.


Fei Yang hanya mengawasi pergerakan mereka dari ketinggian, setelah mengawasi beberapa waktu.


Akhirnya Fei Yang menemukan perbekalan pasukan berkuda itu, yang sengaja di sembunyikan di bagian tengah tengah dari pasukan berkuda yang sedang bergerak.


Fei Yang diam diam kagum dengan kecerdikan Pamannya Li Yuan Hao dalam mengatur barisan.


Karena tidak bisa turun tangan, tanpa melukai pasukan yang di bawa oleh pamannya.


Akhirnya Fei Yang memutuskan hanya memantau dari ketinggian, sambil menunggu pasukan berkuda tersebut membuat kemah, untuk beristirahat dia baru bisa menjalankan aksinya.


Akhirnya matahari mulai tenggelam, pasukan Li Yuan Hao terpaksa membuat kemah untuk beristirahat.


Fei Yang sendiri sudah meninggalkan Kim Tiaw, kini dia sudah menyamar dan berbaur dengan pasukan penjaga perbekalan.


Awalnya secara acak Fei Yang melumpuhkan seorang pasukan yang sedang pergi buang air kecil.


Setelah berganti seragam, menggantikan posisi pasukan tersebut.