PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KERIBUTAN DI DEPAN KUIL HALILINTAR


Fei Yang saat melihat Kimala menangis begitu sedih, dia terpaksa membalikkan badannya.


Sambil memejamkan matanya, Fei Yang berkata dalam hati,


"Maafkan aku Kim Kim, aku tidak bermaksud menyakiti perasaan mu,"


"Tapi aku benar-benar belum bisa memikirkan hal itu, tugas ku masih teramat banyak.."


Saat Fei Yang mendengar ada suara langkah kaki lainnya, yang lebih berat datang menyusul.


Fei Yang membuka kembali matanya, dan perlahan-lahan dia membalikkan badannya, untuk melihat siapa yang datang.


Melihat yang datang adalah Dorjee, Fei Yang pun sedikit lega hatinya.


Dia yakin Dorjee, pasti bisa membantunya mengurangi kesedihan Kim Kim.


Apalagi setelah melihat Kim Kim menangis dalam pelukan Dorjee, Fei Yang pun memutuskan pergi dari tempat tersebut secara diam-diam.


Tidak butuh waktu lama, Fei Yang sudah kembali kedalam kamar nya sendiri.


Fei Yang langsung menghampiri tempat pembaringan nya, dia berbaring meluruskan pinggang nya.


Fei Yang berbaring sambil termenung menatap langit-langit, tidak tahu kenapa saat melihat Kim Kim menangis begitu sedih.


Fei Yang tiba-tiba jadi teringat dengan Xue Lian, sahabatnya di Hutan Bambu Misterius.


Fei Yang mengeluarkan patung hadiah Xue Lian, dia berbaring sambil terus menatap patung di tangannya.


"Ni Xue Lian,.. bagaimana kabar mu saat ini ?"


"Maafkan aku Xue Lian, setelah semua tugas ku selesai,.aku berjanji pasti akan kembali ke hutan misterius menemui mu.."


Fei Yang menaruh patung itu di dadanya sejenak, kemudian dia pun menyimpannya kembali kedalam cincinnya.


Setelah itu Fei Yang bangkit untuk duduk dan bermeditasi sesuai petunjuk kitab tanpa tanding.


Tehnik pengendalian tenaga alam semesta.


Tubuh Fei Yang perlahan-lahan melayang di atas kasur.


Perlahan lahan Pat Kwa biru merah muncul di sekitar tubuhnya yang sedang asyik berlatih.


Fei Yang terus berlatih semalam suntuk tanpa henti, hingga matahari masuk menyinari kamarnya.


Fei Yang baru menghentikan latihannya, dan kembali membuka matanya.


Dengan sebuah hembusan nafas panjang yang menimbulkan sambaran uap merah dan biru keluar dari sepasang lubang hidungnya.


Fei Yang pun mengakhiri latihannya, Fei Yang merasa tubuhnya sangat segar, setelah semalam suntuk berlatih.


Fei Yang turun dari tempat tidur nya, lalu bergegas pergi membersihkan diri, dan mengganti pakaian baru.


Setelah rapi dia pun melangkah keluar dari dalam kamar nya, Fei Yang turun kelantai bawah, untuk membereskan pembayaran hitungan sewa kamar dan semua biaya lainnya.


Setelah itu dia baru memilih tempat duduk yang masih kosong, memesan semangkuk mie kepada seorang pelayan restoran.


Sambil menunggu pesanan nya, Fei Yang mengedarkan pandangannya, Fei Yang sedikit terkejut saat melihat di sana hadir Xuan Ming, Xuan Hei, dan tiga orang tetua bendera, tetua Huang Chi, tetua Lan Chi, dan Ching Chi.


Selain mereka berlima masih ada 3 orang lhama jubah merah yang duduk di hadapan mereka.


Rombongan itu sambil makan, sambil ngobrol.


Dari obrolan mereka, Fei Yang pun tahu, tujuan kedatangan petinggi petinggi Hei Mo San, adalah datang sebagai tamu undangan, untuk membantu kelompok lhama jubah merah, menahlukkan Lhama kuil halilintar saingan mereka.


Sedangkan tiga lhama jubah merah yang ada di hadapan petinggi Hei Mo San adalah,


Lhama Dote adalah seorang pria bermata besar berhidung besar mancung, dengan kulit hitam.


Lhama Jigme adalah seorang pria berwajah merah dengan sepasang mata lebar, dengan kulit juga berwarna merah penuh bulu.


Lhama Kipu adalah seorang pria berwajah putih pucat dengan tubuh kurus kerempeng, seperti orang penyakitan, tapi sepasang matanya bersinar tajam seperti mata elang, dengan hidung bengkok seperti paruh elang


Ketiga orang ini di kuil Nirwana menduduki jabatan penegak hukum, yang hanya setingkat di bawah wakil ketua kuil Nirwana.


Di bandingkan dengan ke 5 lhama yang telah di habisi Fei Yang sebelumnya.


Mereka ini jabatan nya masih dua tingkat di atas kelima orang itu.


Di bawah mereka masih ada 4 orang lhama yang bertanggung jawab sebagai kepala kuil Utara Selatan timur dan barat.


Keempat orang itu tidak terlihat, Karena mereka sedang ditugaskan untuk mengumpulkan kekuatan untuk di bawa menuju kuil halilintar.


Fei Yang selain terkejut, dia juga gembira, dia bisa sekaligus bertemu dengan beberapa petinggi Hei Mo San yang menjadi musuh Xu San Pai.


Bila bisa menghabisi mereka ber 5 di sini, itu akan semakin meringankan tugasnya, untuk membalaskan dendam saudara saudara seperguruannya, yang telah di bantai secara keji oleh mereka.


Sehingga kelak dia hanya perlu menghadapi Li Mu Bai, Xu Da dan terakhir Ming Wang.


Fei Yang yang sudah tidak di kenali oleh para petinggi Hei Mo San, sehingga dia bisa dengan bebas mendengarkan apa yang mereka perbincangkan di sana.


Begitu kelompok itu mulai bergerak, Fei Yang pun buru-buru menghabiskan sisa mienya.


Kemudian ikut bergerak menyusul di belakang mereka secara diam diam.


Saat rombongan itu tiba di depan kuil halilintar, di sana sudah terlihat penuh dengan lhama jubah merah, yang terlihat bersiaga dengan senjata di tangan, siap menyerang Lhama Lhama kuil halilintar yang berjubah kuning


Sedangkan lhama kuil halilintar yang berjubah kuning, juga telah berbaris rapi, bersiaga siaga, siap menyambut serangan dari lhama jubah merah, sebagai bentuk pertahanan diri.


Ketegangan diantar kedua belah pihak mulai terlihat.


Bila di lihat dari jumlah, jelas lhama jubah kuning kalah jauh.


Tapi lhama jubah kuning itu, terlihat tidak gentar sama sekali.


Kedua belah pihak masih menunggu instruksi dari pimpinan mereka masing-masing.


Dari tengah kerumunan rombongan lhama jubah kuning, berjalan keluar seorang lhama berumur 60an, yang selalu tersenyum lembut dan sikapnya sangat bersahaja.


Dengan tenang dia berdiri menghadap ribuan lhama jubah merah, yang mengepung dia dan kuil nya dengan wajah beringas.


"Teman teman lhama jubah merah, dengarkan lah sedikit kata kata ku.


"Sebagai sesama lhama yang sama sama menjadi murid sang Buddha, bukannya seharusnya kita berdamai dan bersatu..?"


"Bukannya saling menyerang seperti ini, bagi kalian maupun kami, hal ini tidak akan ada yang di untungkan bila perang ini pecah."


"Jadi ku mohon segera tinggalkan lah tempat ini, jangan sampai ada pertumpahan darah disini.."


ucap lhama berusia 60 puluh tahunan, yang biasanya di panggil Kok Beng lhama itu.


Kok Beng lhama menempati posisi salah satu dari tiga Lhama penegak hukum di kuil halilintar, jabatannya sudah cukup tinggi.


Ketua kuil barat jubah merah melangkah keluar dari dalam rombongan lhama jubah merah, diikuti oleh ketiga saudaranya dari kuil timur selatan dan Utara.


"Hai Kok Beng lhama, bagaimana bila kita mulai saja sebagai pembuka..? tidak usah banyak nasehat dan bacot..!"


ucap ketua kuil barat lhama jubah merah.