PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
DI TINDAS PARA PENGEMIS


Nan Thian yang masih menutupi wajah dan kepalanya dengan tangan, dia hanya mengangguk kecil sambil menahan rasa nyeri, yang mendera seluruh tubuhnya.


Di dalam hati Nan Thian hanya bisa mengutuk nasibnya yang sial.


Sudah dalam keadaan menyedihkan dan memalukan seperti ini.


Malah di temukan oleh Xue Xue dan Ping Chi, yang bukan hanya repot menolongnya, tapi juga harus melihat keadaannya yang seperti ini.


Sedikit sisa harga diri pun kini sudah habis di rampas tak bersisa lagi, di permainkan oleh langit yang tidak tahu ada masalah apa dengan nya, terus menerus ingin mempermainkan dirinya.


Nan Thian dengan sekuat tenaga berusaha bangkit duduk, menoleh kearah Xue Xue dan berkata,


"Maaf aku yang tidak tahu diri, jadi merepotkan kalian ."


"Jaga diri mu,..aku permisi dulu.."


ucap Nan Thian dengan suara kurang jelas, karena bibir terluka bengkak dan robek.


Lalu dia dengan susah payah bangkit berdiri, meninggalkan tempat itu dengan langkah terseok-seok.


Xue Xue hanya bisa menatap sedih kearah Nan Thian dengan airmata bercucuran.


Tidak tahu harus melakukan hal apa, hati kecil menjerit agar dia pergi menghampiri Nan Thian.


Memeluknya membantunya mengobati luka luka Sexiong nya.


Tapi pikiran sadarnya melarangnya melakukan hal itu.


Karena bila dia melakukan hal itu, itu sangat tidak pantas dan jelas bisa merusak rumah tangganya yang baru berjalan satu hari itu.


Bagaimana pun dirinya kini sudah menjadi milik Hung Ping Chi, dia tidak bebas seperti dulu lagi.


Xue Xue hanya bisa melepas kepergian Nan Thian, dengan tatapan mata sedih dan penuh sesal.


Hingga bayangan punggung Nan Thian menghilang dari hadapan nya.


Dia baru menoleh kearah Hung Ping Chi, yang sedang menghadapi kepungan tentara mongol.


Dengan tatapan penuh kebencian, Xue Xue melampiaskan rasa kecewa menyesal sedih dan marahnya.


Kearah beberapa tentara Mongol yang sedang menyerang Hung Ping Chi.


"Singgg..!"


"Crash..!"


"Crebbb..!"


"Crakkkk,..!"


"Sreeet..!"


"Sreeet..!"


"Arghhhh..!"


Berbeda dengan Hung Ping Chi, Xue Xue yang latihan ilmu pedangnya lebih sempurna lebih kuat dan lebih cepat.


Tidak sampai satu jurus, para pengeroyok itu sudah merintih rintih di atas lantai.


Ada yang kehilangan lengan, ada yang kehilangan kaki, ada juga yang langsung kehilangan nyawa.


Sama seperti nasib Monggu, dan rekan rekannya tadi, mereka tewas dengan luka robek di leher.


Kini tinggal si pemimpin pasukan Mongol, dia terlihat pucat ketakutan dengan tubuh gemetaran dia terus melangkah mundur mundur kebelakang..


"Maafkan aku Ni Sia,.. hamba punya mata tidak bisa melihat.


"Sehingga tidak sengaja menyinggung Ni Sia, aku berjanji.."


"Singgg..!"


"Crakkkk,..!"


Crakkkk,..!"


Crakkkk,..!"


Crakkkk,..!"


Belum selesai ucapan nya, tangannya telah terbang lepas dari tubuhnya.


"Arggghhh...!"


Pemimpin pasukan itu belum sempat menyelesaikan ucapannya, dia sudah berteriak histeris kesakitan.


Menyusul kaki nya juga ikut terbang, dalam sedetik saja kedua kaki dan tangan pimpinan pasukan Mongol itu.


Sudah terlepas dari tubuhnya, jatuh tergeletak di atas lantai.


Kini tinggal si pimpinan itu yang merintih rintih kesakitan, sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.


Lalu dia menoleh kearah suaminya dan berkata dengan lembut,


"Terimakasih suamiku,..ayo kita pulang.."


Hung Ping Chi tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangguk, lalu mengikuti Xue Xue meninggalkan tempat tersebut.


Hung Ping Chi hanya berpikir dalam hati, istrinya yang terlihat lembut dan baik hati ini.


Ternyata bila sedang marah cukup mengerikan, dia juga semakin sadar perbedaan ilmu antara mereka berdua masih jauh.


Ada dua hal yang harus selalu harus dia ingat, pertama bila tidak ingin mempermalukan diri sendiri.


Dia tidak boleh menyinggung dan membuat istrinya marah.


Kedua dia harus secepatnya meningkatkan kemampuan nya, lebih rajin dan lebih giat berlatih.


Bila tidak ingin kelak mendapat malu dan menjadi omongan orang.


Setelah mereka semua pergi adalah pemilik penginapan yang paling sial.


Dia dan karyawan nya harus membereskan sisa kekacauan yang di tinggalkan oleh pelanggan-pelanggan yang tidak di harapkan itu.


Mana pengunjungnya tidak ada satupun yang bersedia mengganti rugi kerugian yang timbul ini.


Bahkan Nan Thian calon pelanggan nya pun tidak jadi menginap dan sudah pergi meninggalkan penginapan mereka.


Kakek malang dan cucu perempuannya yang teler, sudah pergi dari sana.


Begitu ada kesempatan, si kakek, buru buru membawa cucu nya, yang sedang teler pergi dari sana.


Nan Thian sendiri dengan langkah terseok-seok mencoba secepat mungkin, meninggalkan penginapan tersebut.


Agar keadaan nya yang menyedihkan dan memalukan tidak terus di lihat oleh Xue Xue dan Hung Ping Chi.


Dia tidak mau di kasihani, dia tidak perlu belas kasihan mereka.


Sambil melangkah Nan Thian menatap kearah langit dan berkata,


"Ya Tuhan mengapa kamu tidak biarkan saja aku mati di tangan mereka, agar semuanya segera berakhir.."


"Mengapa harus dia yang kamu datangkan.."


"Kamu sungguh kejam, mempermainkan hidup ku.."


ucap Nan Thian sambil terus bergerak dengan langkah terpincang-pincang.


Keluar dari kota tersebut, langkahnya membawa Nan Thian tiba di depan halaman kuil bobrok milik dewa tanah.


Nan Thian memutuskan malam ini, dia akan menginap di sana, sambil menunggu hujan yang kelihatannya akan turun sebentar lagi.


Benar saja dugaan Nan Thian belum juga dia melangkah masuk kedalam ruangan kuil.


Hujan salju pun kembali turun di luar sana.


Saat masuk kedalam ruangan, Nan Thian melihat di dalam sudah ada beberapa orang pengemis sedang berlindung di dalam.


Ada yang tidur malang melintang, ada juga yang sedang duduk menghadap kearah api unggun.


Baru saja Nan Thian ingin minta ijin, agar dirinya diijinkan beristirahat di dalam sana.


Tapi salah satu pengemis yang duduk menghadap api unggun sudah berkata,


"Anak muda, tempat ini sudah ada penghuninya, harap cari tempat lain saja.."


Suatu permintaan yang sangat tidak masuk akal dan egois, satu tempat itu masih luas, dua tempat itu juga adalah fasilitas umum bukan milik mereka pribadi.


Ada hak apa bagi mereka, untuk melarangnya ikut masuk berteduh di dalam sana.


Setelah pengalaman tadi, Nan Thian sudah tidak ingin cari penyakit.


Sambil mengangguk dan tersenyum pahit, Nan Thian memilih menarik mundur kakinya yang hampir menginjak masuk kedalam kuil itu.


Nan Thian memilih duduk meringkuk di luar kuil, sambil memeluk lututnya sendiri menahan udara dingin yang menusuk tulang.


Saat angin berhembus kencang melewati dirinya.


Akhirnya Nan Thian yang merasa terlalu lelah tertidur meringkuk di depan sana.


Beberapa orang pengemis yang baru tiba hendak masuk kedalam kuil, melihat ada orang tak di kenal tidur di sana.


Mereka segera mendekati Nan Thian mengerayangi tubuhnya.


Begitu mereka menemukan bungkusan kain berisi uang perjalanan Nan Thian.


Mereka mengambil isinya, sedangkan bungkusnya mereka buang kesamping Nan Thian.


Lalu sambil tersenyum gembira mereka melangkah masuk kedalam kuil, bergabung dengan rekan pengemis di dalam sana.