
Begitu duduk di atas kepala Naga Kadal Terbang, Nan Thian pun berkata,
"Puncak sebelah barat, Lian Hua Feng, tolong mendarat di desa sekitar lereng Lian Hua Feng."
Naga Kadal Terbang mengangguk mengerti, lalu dia segera mengepak ngepakkan sayapnya.
Perlahan-lahan membawa mereka berempat terbang meninggalkan puncak Yu Ni Feng.
Mengambil arah sebelah barat seperti permintaan Nan Thian.
"Ini yang pertama ya.."
ucap Naga Kadal Terbang, dengan suara di dalam pikiran Nan Thian.
Nan Thian mengangguk pelan dan menepuk lembut kepala Naga Kadal Terbang itu.
Naga Kadal Terbang langsung mempercepat gerakan sayapnya, sehingga mereka meluncur cepat, membelah angin menuju pegunungan Hua San sebelah barat.
Angin pegunungan yang sejuk menerpa wajah dan rambut Nan Thian Zi Zi dan Sun Er, hingga terlihat berkibar kibar.
Tidak butuh waktu lama rombongan kecil itu, kini sudah berjalan memasuki mulut desa di lereng gunung Lian Hua Feng.
Naga Kadal Terbang menurunkan mereka sedikit jauh dari pemukiman penduduk, agar kedatangan mereka tidak menakuti penduduk desa.
"Paman boleh saya tanya sedikit, apa di desa ini, ada pasangan yang biasanya di panggil Paman Fu dan bibi Lai..?"
tanya Nan Thian kepada seorang kakek yang berpakaian kulit binatang.
Dari penampilannya, dapat di tebak dia adalah seorang pemburu, yang hendak pergi berburu.
Karena di tangannya terlihat memegang tombak cagak tiga, sedangkan di punggungnya tergantung sebuah busur, lengkap anak panah di dalam sebuah kantung kulit, yang tergantung di pinggang nya.
Kakek itu mengerutkan keningnya, lalu dia menoleh kearah belakang dan berkata,
"Afoi,..! apa kamu pernah mendengarnya..!?"
Orang yang di panggil Afoi adalah pemuda yang berusia 30 tahunan, tubuhnya terlihat gagah kekar dan berotot.
Pemuda bernama Afoi itu menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Belum pernah paman Lie.."
Kakek itu kembali menoleh kearah Nan Thian dan berkata,
"Maaf anak muda, kami tidak pernah mendengarnya.."
"Tapi bila kamu ingin lebih jelas, temui lah kepala desa kami, Liu Bei.."
"Mungkin dia tahu dengan orang yang anak muda cari."
Nan Thian memberi hormat dan berkata,
"Terimakasih paman atas informasinya, maaf telah mengganggu waktu paman.."
"Tidak apa-apa, silahkan anak muda.."
ucap pemburu itu balas memberi hormat, diikuti oleh Afoi.
Lalu mereka berlalu dari hadapan Nan Thian dan rombongannya.
Nan Thian melanjutkan langkahnya memasuki desa sambil menggandeng tangan Zi Zi.
Sedangkan Sun er terlihat sedang menggendong Siau Hei, si anjing hitam yang tidak pernah bisa besar.
Mereka berempat memasuki desa dengan langkah santai.
"Bibi boleh saya tanya sedikit..?"
tanya Nan Thian ramah saat berpapasan dengan seorang wanita setengah tua yang membawa sebuah keranjang kosong di tangannya.
"Ya anak muda, ada yang bisa saya bantu..?"
tanya wanita paruh baya itu sambil tersenyum ramah.
"Bibi aku ingin tanya, apa bibi kenal atau pernah dengar tentang bibi Lai atau paman Fu.?"
Wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya, seperti ingin mengingat ingat, sesaat kemudian dia berkata,
"Tidak ada tuh, aku tak pernah mendengarnya.."
Nan Thian mengangguk lalu berkata,
"Terimakasih bibi, bibi' apa bibi bisa tunjukkan tempat tinggal paman Liu Bei, kepala desa tempat ini..?"
"Ohh tetua Bei,.dia tinggal di sana , di ujung jalan sebelah sana, ada rumah warna kuning itulah rumahnya.."
ucap wanita paruh baya itu sambil menunjuk dengan ujung jari telunjuknya.
Nan Thian mengikuti arah telunjuk wanita paruh baya itu sambil mengangguk mengerti.
Nan Thian lalu memberi hormat dan mengucapkan terimakasih, kemudian dia dan rombongannya berlalu dari sana.
Langsung menuju rumah yang di tunjukkan oleh wanita paruh baya itu.
"Permisi,.! apa ada yang di rumah..!?"
tanya Nan Thian berteriak dari depan rumah.
Dia menatap Nan Thian dengan heran dan berkata,
"Anak muda kamu siapa ?"
"Ada keperluan apa ya..?"
Nan Thian buru buru memberi hormat dan berkata,
"Kakek nama ku Nan Thian, aku hanya orang yang numpang lewat.."
"Sekalian ingin mencari paman dan bibi ku yang katanya tinggal di sini.."
"Kalau boleh tahu siapa nama paman dan bibi mu itu.."
tanya kakek itu heran.
"Bibi Lai dan Paman Fu,..apa paman pernah mendengarnya..?"
Kakek tua itu mengingat ingat kemudian berkata,
"Tidak, kalau di desa ini saya bisa pastikan tidak ada orang bernama seperti itu.."
Nan Thian menatap kakek itu dan kembali bertanya,
"Apa di.lereng gunung ini, hanya ada satu desa ini ? atau masih ada desa lainnya..?"
Kakek itu menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Benar sekali, di lereng gunung ini, selain Hua San Pai sudah tidak ada desa lainnya.."
"Tapi sebentar, mungkin maksudmu adalah pasangan paruh baya, yang tinggal sebelah timur dari desa ini.."
"Di sana memang ada pasangan paruh baya yang tinggal di sana, hanya saja sudah cukup lama saya tidak melihat mereka berbelanja kemari."
"Apa paman tahu, nama mereka..?"
tanya Nan Thian sedikit bersemangat.
Kakek itu menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Sayangnya tidak anak muda.."
"Tapi kamu boleh coba lihat kesana, siapa tahu mereka adalah paman dan bibi mu.."
Nan Thian mengangguk lalu memberi hormat dan mengucapkan terimakasih.
Setelah itu dia segera berlalu dari sana, sambil menggandeng tangan Zi Zi.
Sun er mengikutinya dari belakang, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kearah timur.
Sesuai petunjuk yang di dapatkan dari kakek itu.
Setelah keluar dari desa itu menempuh perjalanan beberapa kilo perjalanan.
Akhirnya mereka menemukan sebuah pondok sederhana, yang memilki halaman cukup luas.
"Permisi,..! Permisi..! ada orang kah dirumah..!?"
teriak Nan Thian dari depan rumah.
Beberapa waktu berlalu tidak juga ada sahutan maupun pergerakan dari dalam rumah tersebut.
Nan Thian memutari halaman samping rumah, pergi kebagian belakang rumah tersebut.
Tiba di halaman belakang rumah Nan Thian kembali memanggil dengan suara keras,
"Permisi,..! Permisi..! ada orang kah dirumah..!?"
Melihat tidak juga ada respon dari pemilik rumah,
Dengan ringan Nan Thian melompat masuk kedalam halaman belakang rumah, yang penuh dengan tanaman sayur sayuran dan pohon buah.
"Permisi,..! Permisi..! ada orang kah dirumah..!?"
Nan Thian kembali melakukan panggilan ulang, sambil berjalan menghampiri pintu belakang rumah tersebut.
"Tokkk,..!"
"Krieeet..!"
Baru saja Nan Thian mengetuknya, pintu terbuka dengan sendiri.
Di dalam keadaan terlihat sangat gelap dan bau busuk langsung menyeruak keluar begitu pintu terbuka.
Melihat Zi Zi dan Sun Er menutupi mulut mereka seperti ingin muntah.
Nan Thian pun berkata,
"Paman dan bibi tunggu agak jauh saja di bangku, ayunan di bawah pohon sana.."
"Siau Hei kamu temani mereka,.."
"Aku akan masuk kedalam sana memeriksanya.."
.