
Kim Tiaw berputar-putar di puncak gunung Hoa menunggu instruksi Fei Yang untuk mendarat.
Di Gunung Hua ada beberapa perguruan lain, Fei Yang harus memastikan yang mana istana Mo Ciao.
Agar tidak terjadi salah pendaratan, yang bisa menimbulkan salah paham tak perlu.
Hoa San Pai adalah komplek perguruan terbesar dan terluas, muridnya juga sangat banyak.
Tapi bangunan mereka tidak terletak di puncak tertinggi, hanya di kelilingi oleh tebing yang tingginya menyamai puncak Gunung Hoa.
Fei Yang setelah mengamati beberapa waktu, akhirnya dia menemukan sebuah istana.
Istana tersebut terletak di posisi paling puncak gunung Hoa, di mana bagian paling belakang istana tersebut langsung berbatasan dengan sebuah tebing tinggi besar yang ada tulisan Hoa San.
Melihat tebing tinggi itu, Fei Yang jadi teringat dimana dia dulu saat berhadapan dengan Vipasana lhama terluka parah.
Ada orang sakti yang menolong dan membawanya kemari, dia dirawat di sebuah gua yang tepat berada di halaman belakang istana Mo Ciao.
Saat itu istana ini belum ada, di dalam hati Fei Yang bertanya tanya apakah orang yang dulu menolong nya ada hubungannya dengan pemilik istana ini.?
Melihat Istana Mo Ciao dalam keadaan sepi sepi saja, seperti tidak ada tanda tanda pergerakan.
Fei Yang pun melayang ringan turun di depan halaman istana tersebut.
Dari atas terlihat sepi tidak ada pergerakan.
Tapi begitu Fei Yang mendarat, dari dalam istana melayang keluar 10 orang gadis muda cantik berpakaian hitam.
Wajah mereka terlihat dingin dan tidak bersahabat.
"Siapa kamu,..?!"
"Mo Ciao sedang tidak menerima tamu pergilah..!"
tegur salah satu gadis muda itu.
"Hoa San Lao Lao mana ? lekas beritahu dia, bahaya besar menanti."
"Aku ada beberapa hal penting ingin bicara dengan nya.."
ucap Fei Yang serius.
"Tak perlu, Dewi suci sedang tidak ingin menerima tamu, pergilah jangan ribut di sini.."
ucap gadis itu kembali, dengan nada dingin.
Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Ya sudah terserah kalian, aku hanya ingatkan saja.."
"Seluruh orang dunia persilatan sebentar lagi ada kemungkinan akan menyerang tempat ini."
"Bila ingin selamat, segera tinggalkan tempat ini.."
ucap Fei Yang memberi peringatan.
"Terimakasih atas perhatiannya, tapi yang perlu khawatir bukan kami melainkan mereka.."
ucap gadis itu dingin.
Fei Yang menjejakkan kakinya pelan, tubuhnya melayang keatas, di sambut oleh Kim Tiaw yang langsung membawanya terbang meninggalkan tempat itu.
Setelah Fei Yang pergi dari balik istana berjalan keluar Nenek Hoa San.
"Apakah dia sudah pergi..?"
tanya Hoa San Lao Lao sambil menatap kesepuluh murid, yang sekaligus merangkap sebagai pelayan setia nya.
"Sudah guru,.. dia bersama burung besarnya sudah pergi.."
ucap kesepuluh gadis muda itu sambil berlutut di hadapan Hoa San Lao Lao penuh hormat.
"Baiklah kalian pergilah bersiap siap, untuk menyambut tamu tak di undang yang akan datang kemari.."
ucap Hoa San Lao Lao sambil mengulapkan tangan nya.
Setelah kesepuluh muridnya pergi, tinggal dirinya seorang diri.
Hoa San Lao Lao menghela nafas panjang dan berkata,
"Aku tidak mengindahkan ramalan ibu ku.."
"Kini yang harus tiba akhirnya tiba juga,.."
"Pergilah jauh jauh,.. kamu jangan sampai ikut terlibat, itu adalah yang terbaik untuk mu.."
"Mungkin setelah ini kita tidak akan pernah bertemu kembali, aku juga tidak akan menganggu dan menjadi beban mu lagi.."
"Sampai jumpa Li Fei Yang, jaga dirimu baik-baik.."
"Semoga kamu selalu sehat dan berbahagia selalu.."
Setelah menghela nafas panjang, Hoa San Lao Lao pun kembali masuk.kedalam istananya.
Hua San Lao Lao masuk kedalam gua di bawah tebing, dia duduk bersila di atas sebuah ranjang batu sambil memejamkan sepasang matanya.
Tubuhnya perlahan-lahan mengambang diatas udara, pancaran energi 7 warna menyelimuti seluruh tubuhnya.
Fei Yang sendiri tidak benar-benar pergi, dia memilih duduk di puncak tebing Gunung Hua.
Tanpa menghiraukan hujan salju yang mengguyur dirinya, Fei Yang bermeditasi di sana sambil memejamkan matanya.
Fei Yang mencoba menenangkan Perasaannya yang kacau dan merasa sangat tidak tenang seolah olah bakal ada hal yang akan terjadi.
Seminggu kemudian sebuah rombongan besar yang terdiri dari Cing Lung Pang, Thian Sia Hwee, Kai Pang, dan 5 partai besar aliran putih Shaolin, Wu Dang, Khong Thong, Kun Lun, Er Mei.
Hampir semua partai dan aliran besar dunia persilatan, hadir dalam rombongan tersebut.
Partai yang tidak turut serta adalah partai Xu San dan Thian San Pai.
Bahkan Hoa San Pai yang menjadi tetangga dekat istana Mo Ciao, mereka juga mengirimkan utusan ikut bergabung.
Perlahan lahan rombongan tersebut mulai bersama sama melakukan pendakian menuju puncak gunung Hoa.
Pihak Hoa San Pai sebagai tuan rumah bertindak sebagai penunjuk jalan, buat rombongan besar itu.
Kedatangan rombongan besar itu bertujuan, ingin menuntut keadilan kepada Hoa San Lao Lao.
Atas terbunuhnya sejumlah orang di dunia persilatan, yang datang dari berbagai partai dan aliran.
Menuntut keadilan hanya lah kedok, siapapun di antara mereka semuanya.
Sebenarnya mereka semua juga tahu, yang mereka inginkan dan tuju sebenarnya adalah Pedang Mestika Panca Warna.
Kabar yang beredar dari kitab senjata buatan Pai Su Seng, di dalam di jelaskan bahwa Pedang Mestika Panca Warna menempati posisi urutan pertama di dalam kitab senjata.
Secara kebetulan Pedang ini juga dikatakan berada di tangan Hoa San Lao Lao.
Selain itu masih ada satu kabar yang tidak kalah heboh yang beredar, bahwa orang yang memiliki pedang ini, akan menjadi penguasa dunia.
Karena pedang itu terbentuk dari batu pancawarna milik Dewi Nu Wa.
"Untuk bisa sampai di puncak gunung yang menjadi markas Mo Ciao,.. kita harus melewati hutan pohon Pinus ini.."
"Mulai dari hutan ini, adalah termasuk wilayah terlarang aliran Mo Ciao."
"Aku harap rekan rekan sekalian berhati hati.."
ucap Ketua Hoa San Pai, Su Ma Tao Se memberikan peringatan dengan serius.
Semua rombongan itu, berkumpul dan berhenti di depan hutan Pinus tersebut.
"Maaf saudara saudara semua nya, bukannya aku meremehkan kemampuan teman teman seperjuangan.."
"Tapi demi keselamatan semua nya, aku mengusulkan,.."
"Setiap partai dan aliran sebaiknya hanya mengirimkan 3 orang wakil terbaiknya saja."
"Ini untuk memudahkan pengontrolan dan kerjasama, demi keselamatan bersama.."
ucap Shi Ma Cing Hu mengemukakan pendapat nya.
Semua pihak mulai berembuk dengan anggota dan kelompok mereka masing-masing.
"Kami setuju dengan usul dari saudara Shi Ma Cing Hu dari Cing Lung Pang.."
ucap Xiong Ba menyetujui usulan tersebut.
"Kami dari Shaolin juga setuju, ucap biksu senior Wu Yuen Hwesio."