
"Terimakasih senior,.."
ucap Nan Thian memberi hormat.
Wu Ming Lau Jen mengangguk dan berkata,
"Sekarang kalian boleh pergi, jodoh kita sudah selesai.."
"Pergilah.."
"Satu lagi senior.."
ucap Nan Thian terputus.
Dia merasakan ada angin kuat menghembus dirinya, hingga sulit membuka sepasang matanya.
Begitu pula yang di rasakan oleh Kim Kim.
Saat mereka kembali membuka mata.
Mereka menemukan diri mereka kini ada di sebuah puncak gunung yang sepi.
Di sekeliling mereka hanya ada hamparan salju luas, angin kencang terus berhembus melewati tubuh mereka.
Hingga pakaian luar dan rambut mereka berkibar kibar, hujan salju lebat juga tidak berhenti mengguyur kearah mereka.
Sehingga rambut dan jubah mereka sebentar saja, sudah terlihat penuh dengan bunga salju.
Tebing dan Gua panca warna yang dia lihat dan lalui sebelumnya sudah tidak ada lagi di sana.
Sedangkan ke 36 gua surga kecil dan satu gua besar gua malaikat, lebih lebih tidak terlihat lagi sama sekali.
Selain tertanam di memori, menjadi kenangan, bentuk nyatanya sudah tidak ada sirna tak berbekas.
"Thian Er pergilah ke laut timur, informasi naga hijau juga ada di sana.."
"Jaga diri mu, hati hati dengan asmara dunia fana mu.."
"Sampai jumpa .."
Sebuah suara berkumandang dari alam sekitar mereka, tapi tidak terlihat orangnya.
Tapi Nan Thian dan Kim Kim paham itu adalah suara Wu Ming Lau Jen yang sakti dan misterius.
Nan Thian semakin kagum dengan guru terakhirnya ini, apa yang belum sempat dia tanyakan, gurunya sudah tahu.
Gurunya seolah olah mampu membaca jalan pikirannya, tanpa perlu dia ucapkan.
Nan Thian merubah dirinya menjadi 8 bayangan bersujud tiga kali kesegala arah dengan serentak.
Setelah itu dia pun kembali ke posisi normalnya dan berkata,
"Ayo Kim Kim kita berangkat menuju laut timur.."
Kim Kim tersenyum dan berkata,
"Baiklah petualang cinta, lihat bahkan dewa pun khawatir dengan asmara mu, yang bodoh seperti keledai itu.."
Selesai berkata, dia langsung berubah menjadi seekor Naga Emas melayang di udara.
Dia terbang di hadapan Nan Thian, kemudian melesat pergi dari tempat tersebut, begitu Nan Thian naik keatas punggungnya.
Nan Thian tidak menanggapi ucapan temannya yang mengejeknya, sebagai keledai cinta.
Tapi dia jadi berpikir makna dari peringatan Wu Ming Lau Jen yang hampir tidak pernah meleset.
Sama seperti dia bisa menebak apa yang ingin dia tanyakan, juga saat dia menemui pamannya mengingatkan pamannya dan banyak lagi hal.lainnya.
Seolah olah dia bisa membaca masa depan, yang akan terjadi di seluruh dunia ini.
Penjelasan asal usul Wu Ming Lau Jen ada di ( Kembalinya sang legenda ).
Setelah menempuh perjalanan udara berhari hari, turun hanya buat istirahat dan makan.
Nan Thian dan Kim Kim naga emasnya, sudah mulai memasuki ujung wilayah laut timur.
Tempat itu adalah ujung dari persinggahan daratan terakhir.
Begitu lewat dari sana, sepanjang mata memandang, hanya ada hamparan laut luas, yang menyapa mata mereka.
Kim Kim terus melesat cepat membelah lautan luas, dia tidak terbang tinggi di balik awan.
Sebaliknya dia dengan gembira, beterbangan di atas samudra luas, melakukan manuver sesuka hati.
Sesekali sepasang cakarnya, dia gunakan untuk membelah air laut di bawah nya.
Sesekali Kim Kim dengan nakal, mulai menyelam kedalam lautan, meliuk liuk bergerak hingga kedasar lautan.
Bergerak bebas melayang layang di bawah sana dengan bebas, sebelum kembali naik lagi keatas permukaan air.
Untungnya Nan Thian sekarang bukan Nan Thian yang dulu lagi.
Seluruh tubuhnya kini terlindungi oleh energi 5 elemen.
Membuat air tidak ada yang bisa menembus dirinya, dia seperti duduk di bangku dalam sebuah gelembung udara raksasa.
Tidak ada air yang mampu menembus gelembung udara tersebut.
Nan Thian duduk bersila di dalam sana dengan santai, tanpa terusik oleh air maupun udara yang terbatas di dalam sana.
Kim Kim sangat gembira, melihat Nan Thian bisa menjaga diri, tidak terpengaruh oleh pergerakannya di bawah sana
Kim Kim yang tadinya hanya bermaksud ingin mengerjai Nan Thian.
Tapi kini setelah melihat Nan Thian tidak terpengaruh sama sekali.
Dia malah jadi tertarik untuk melakukan perjalanan di dasar laut sana.
Karena di luar sana, terbang di udara energinya jauh lebih boros.
Memang bergerak di udara lebih cepat.
Nan Thian juga tidak perlu menghabiskan energi membuat perisai perlindungan bagi dirinya.
Tapi saat ini mereka mencari mahluk Gong Gong yang hidup di dasar lautan.
Memang ada baiknya, mereka menempuh perjalanan lewat dasar lautan, peluang untuk bertemu lebih besar ketimbang mereka bergerak di udara.
"Kakak, kamu tidak keberatan kan kita menempuh jalur bawah air begini."
tanya Kim Kim lewat pikirannya yang bisa terhubung dengan Nan Thian.
Nan Thian menggelengkan kepalanya tanda dia tidak berkeberatan.
"Baguslah bila kakak tidak berkeberatan, mahluk yang kakak cari hidup di dasar lautan."
"Akan lebih punya peluang bagi kita menemukannya, bila kita bergerak di bawah sini."
ucap Kim Kim lewat batinnya.
Nan Thian mengangguk paham, masih tetap memilih diam tidak bersuara.
Kim Kim setelah mendapat ijin dari Nan Thian, dengan gembira dia berenang bebas di dasar lautan.
Meski tidak secepat di udara, tapi pergerakan Kim Kim di bawah air juga tidak bisa di katakan lambat.
Dia meluncur dengan sangat cepat membelah air di dasar lautan.
Di saat dia sedang bergerak cepat membelah lautan, tepat saat dia melintas diatas sebuah palung laut dalam yang sangat luas.
Saking dalamnya Palung tersebut, dari atas hanya terlihat hitam kelam mewarnai mulut palung tersebut.
Tiba-tiba saat Naga Emas sedang melintas di atasnya, dari kegelapan Palung, muncul dua tangan gurita ingin menangkapnya.
Tentu saja, Kim Kim secara reflek bergerak dengan gesit menghindar.
Tapi tangan gurita itu tidak berhenti mengejar, dia terus mengejar kemanapun Kim Kim bergerak menghindar.
Dia seperti belum puas, sebelum berhasil menangkap Kim Kim dan Nan Thian.
Melihat Kim Kim kerepotan, di kejar kejar oleh tangan gurita raksasa itu.
Nan Thian pun berdiri diatas punggung Kim Kim dengan pedang Naga emas di tangan.
Dia mulai melepaskan tebasan Naga es dan Phoenix Api melesat kearah tangan Gurita raksasa itu.
Di mana kedua tangan gurita itu terlihat sedang mendekat.
"Siuuttt..!"
"Siuuttt..!"
Gerakan yang begitu cepat dan tiba tiba, membuat dua potong bagian ujung tangan gurita.
Terpental melayang layang di atas air.
Gurita di dasar sana sangat marah, sambil mengeluarkan raungan menggertarkan seluruh dasar palung.
Tiba-tiba dia menyemburkan tinta hitam beracun, pelumpuh pergerakan, kearah Naga Emas dan Nan Thian.