
Terdengar suara pekik rajawali yang bergema di sekitar tebing, tempat Fei Yang melompat dan berteriak tadi.
Tak lama kemudian dari dalam jurang melayang keluar seekor rajawali emas raksasa.
Di mana di atas punggungnya terlihat ada seseorang yang sedang duduk bersila disana.
Sambil terus mengeluarkan pekik nyaring, burung rajawali emas itu, terus terbang menjauh dan meninggalkan puncak Khanchenjunga.
Setelah agak menjauh dari puncak Khanchenjunga, yang tertutup awan tebal.
Tiba-tiba terdengar raungan dahsyat penuh kemarahan dari atas puncak gunung tersebut.
Fei Yang tersenyum saat mendengar raungan penuh amarah itu, di dalam hati Fei Yang sadar, pasti mahluk itu telah siuman dari pingsannya.
Ketika menemukan bunga teratai Iblis nya, yang telah dijaganya selama ini, telah di bawa pergi oleh musuhnya, tentu saja mahluk itu sangat marah dan kesal.
Untuk melampiaskan kekesalan dan kekecewaan nya, mahluk itu melepaskan nya lewat suara raungannya, yang menggetarkan seluruh area puncak di sekitar gunung Khanchenjunga.
Sesuai arahan dari Fei Yang, Kim Tiaw terus terbang kearah selatan,
saat melewati wilayah kerajaan Xi Xia, Fei Yang berbisik pada temannya,
"Tiaw Siung,.. carilah tempat sepi, aku ingin mendarat melihat lihat tempat tanah kelahiran ku.."
Rajawali emas mengangguk patuh, lalu dia melayang kearah sebuah hutan, Rajawali emas melayang turun ditengah hutan.
Fei Yang pun melompat turun dari punggung Rajawali Emas, Fei Yang membelai leher sahabatnya dan berkata,
"Untuk sementara waktu kita berpisah di sini,.. nanti bila tugas ku , di kerajaan Xi Xia selesai."
"Kita baru kembali ke puncak gunung Xu San di selatan sana..'
Rajawali emas mengangguk, lalu dia mengepakkan sayapnya kembali terbang keudara, meninggalkan tempat tersebut.
Setelah melepas kepergian Kim Tiaw, Fei Yang pun melanjutkan perjalanan santainya melewati hutan yang sepi.
Fei Yang berjalan santai menikmati suasana hutan yang sepi hening dan sejuk.
Fei Yang tidak terburu-buru, perjalanan ini jadi mengingatkan dirinya kepada pamannya Li Yuan Tan, yang sangat baik itu.
Fei Yang jadi teringat dengan perjalanan nya dulu menuju kerajaan Song bersama pamannya Li Yuan Tan.
Di luar hutan inilah pamannya Li Yuan Tan dan semua pengawal elite tewas tak bersisa, di bunuh oleh Li Yung saudara sepupunya dan komplotannya.
Teringat sampai di sini ada rasa sedih kecewa juga marah yang di rasakan di dalam dada Fei Yang.
Fei Yang terus berjalan sambil termenung, tiba-tiba telinga nya yang tajam mendengar ada suara benturan senjata, di arah hutan sebelah timur.
Fei Yang pun melesat ke arah sana, setibanya di sana, Fei Yang yang bersembunyi di balik pohon.
Bisa melihat dengan jelas situasi di tempat tersebut.
Di tempat itu terlihat kurang lebih ada 100 orang pasukan kerajaan, yang bila dilihat dari seragam yang mereka kenakan, mereka jelas adalah pasukan kerajaan Xi Xia.
Sebagai mantan putra mahkota kerajaan Xi Xia, tentu saja Fei Yang sangat hapal dengan seragam, bahkan pangkat pangkat kemiliteran mereka.
Dari seragam itu, Fei Yang pun langsung mengenalinya.
Prajurit yang berjumlah hampir 100 orang lebih, dipimpin oleh 5 orang perwira dan seorang jendral muda.
Mereka semua mengelilingi sebuah kereta kuda, yang ditempatkan di tengah-tengah mereka.
Sedangkan di hadapan mereka dari 8 penjuru, terlihat orang orang berpakaian preman, sedang menghujani mereka dengan serangan anak panah dari balik hutan.
Sialnya pasukan itu tidak membawa kelengkapan tameng mereka, karena mereka semua adalah pasukan infantri tombak berkait.
Satu persatu dari pasukan itu jatuh berguguran, beberapa perwira yang duduk diatas kuda juga sibuk menghalau panah yang di tujukan ke mereka.
Sedangkan sang jendral berdiri di bagian depan kereta, di mana tempat itu adalah tempat duduk kusir kereta, yang kini sedang bersembunyi di bawah kereta, untuk menghindari serangan anak panah.
Sang jendral yang mengenakan jubah merah di punggungnya, terlihat sangat gagah, dia tanpa henti memberi komando ke bawahannya, sambil terus menangkis hujan anak panah, yang terarah ke dirinya dan kereta yang sedang di lindunginya itu.
Dari dalam kereta terdengar suara teriakan ketakutan wanita, saat ada beberapa anak panah yang nyasar melewati jendela masuk kedalam kereta.
Fei Yang hanya diam mengawasi, dia tidak mau ikut campur sebelum tahu duduk perkaranya.
Meski mereka orang pemerintahan, mereka belum tentu ada di pihak benar, begitu pula sebaliknya.
Sebelum tahu jelas pokok permasalahan, Fei Yang tidak mau ikut campur.
Di sisi lain para perampok yang menyerang dengan anak panah, akhirnya berhasil melumpuhkan 3 orang perwira, yang langsung terjatuh dari atas kuda, dan berhasil melukai serta menewaskan hampir sebagian besar prajurit kerajaan.
Di bawah pimpinan 3 orang kepala rampok, mereka semua mengangkat berbagai jenis senjata keatas kepala.
Lalu sambil berteriak teriak penuh semangat, mereka semua maju mengepung sisa pasukan kerajaan dan kereta kuda yang di lindungi jendral gagah itu.
Sambil melakukan pengepungan mereka mulai melakukan pembantaian terhadap sisa pasukan kerajaan yang kalah jumlah itu.
Terdengar salah satu pimpinan rampok itu berkata,
"Jendral muda Li Dan,..!"
"Sebaiknya menyerah lah, atau kamu dan seluruh pasukan mu akan gugur di sini.."
"Buat apa kamu menyia nyiakan nyawa mu dan pasukan mu?, untuk melindungi seorang pejabat yang sudah terdepak dari istana."
"Sebaiknya serahkan saja Li Cing dan cucunya pada kami, kami akan jamin keselamatan kalian meninggalkan tempat ini.."
"Kentut...!! lebih baik aku mati di sini, dari pada memalukan nama baik ayah ku..!"
ucap jendral muda Li Dan berang.
Ketiga pimpinan perampok itu tertawa terbahak bahak dan berkata dengan sikap mengejek,
"Siapa yang tidak tahu nama harum bapak mu dan putra mahkota lama, yang telah kabur melarikan diri ke kerajaan Song, karena ketakutan dengan serangan kerajaan Liao..ha..ha..ha...!!"
"Apalagi yang perlu di jaga dan di perjuangkan..!"
Fei Yang dari balik pohon sudah mendengar dengan jelas semua nya.
Kini tahulah dia, jendral muda didepan nya ini, adalah Li Dan putra pamannya Li Yuan Tan.
Selain Li Yung, Li Dan ini termasuk salah satu teman mainnya sejak kecil.
Li Dan lebih tua dua tahun darinya, sedangkan Li Yung lebih tua 4 tahun darinya.
Mereka bertiga adalah teman sepermainan sejak kecil.
Berdasarkan hal ini, sudah seharusnya, dia turun tangan.
Apalagi saat ini didalam kereta adalah Li Cing yang merupakan perdana menteri kepercayaan ayahnya.
Selain itu di dalam kereta juga masih ada Li Sian Sian tunangannya sekaligus teman mainnya yang manja dan suka menangis itu.
Kini tidak ada alasan bagi Fei Yang untuk tidak turun tangan menolong mereka.