
"Tiaw Siung kamu tunggu aku sebentar di sini,.aku mau pergi menemui beberapa teman ku sebentar."
"Bila kamu bosan, kamu boleh berkeliling keliling sesuka mu."
ucap Fei Yang sambil membelai lembut leher Kim Tiaw.
Kim Tiaw mengangguk patuh,.lalu dia memilih mendekam di bawah sebuah pohon rindang meringkuk di bawahnya.
Fei Yang segera berkelebat meninggalkan tempat itu menuju halaman belakang,.yang membawanya menuju deretan batu gunung yang berjajar rapi.
Fei Yang terus bergerak melewati jejeran batu gunung, hingga tiba di depan sebuah tebing batu.
Dengan menggerakkan beberapa tombol rahasia.
Tebing batu gunung di hadapannya pun terbuka, sehingga sebuah celah sempit pun terlihat.
Fei Yang menyusuri celah sempit itu hingga tiba didepan hamparan rumput pendek luas, dan sebuah pondok sederhana yang terletak tidak jauh dari air terjun.
Kehadiran Fei Yang membuat seorang gadis cantik dan seorang pemuda tanggung menghentikan latihan mereka.
Gadis itu harus sedikit memicingkan matanya, baru raut wajah Fei Yang bisa terlihat sedikit lebih jelas.
Berbeda dengan gadis itu, pemuda tanggung itu begitu melihat Fei Yang, dia langsung berteriak gembira, berlarian menghampiri Fei Yang
"Kakak Yang akhirnya kamu pulang juga..!"
teriak Hua Lung gembira sambil memeluk Fei Yang.
Fei Yang tertawa senang dan berkata,
"Tidak melihat mu beberapa waktu, kamu sudah tambah besar dan tinggi.."
"Ohh ya di mana kakek mu, ? cepat beritahu kakek mu, kakak sudah dapatkan semua bahan obat yang dia butuhkan.."
tanya Fei Yang cepat.
"Kakek sedang keluar cari daun obat, mungkin sebentar lagi akan kembali."
ucap Hua Lung cepat.
"Paman guru,.. kamu sudah kembali.."
terdengar sebuah suara lembut dari samping.
Fei Yang segera menoleh kearah asal suara, sambil tersenyum lebar Fei Yang berkata,
"Kakak Hong Yi apa kabar,? gimana keadaan mata mu ?'
Hong Yi tersenyum malu dan membuang mukanya kesamping, saat bertemu pandang dengan Fei Yang.
Meski dia sudah pernah di beritahu oleh Fei Yang tentang perasaan Fei Yang terhadap dirinya.
Tapi saat kembali bertemu, dia tetap tidak bisa menutupi rasa gugup dan malunya, juga tidak bisa menangani perasaannya di dalam hatinya, yang jungkir balik kacau balau.
Apalagi saat beradu pandang dan melihat senyum Fei Yang, yang setelah sekian lama tidak bertemu, malah terlihat semakin dewasa matang dan semakin tampan.
Dia menjadi semakin grogi malu, tidak tahu mau bilang apa.
Padahal ada banyak hal yang ingin di bicarakan dan di obrolkan dengan Fei Yang, tapi saat bertemu semuanya malah buyar.
Termasuk kata kata yang sudah di rencanakan dan di latih nya selama ini, semua buyar.
Kini yang bisa dia lakukan selain melihat kearah lain dan berkata lirih,
"Aku sangat baik,.."
Tidak ada kata kata lain lagi, yang bisa dia ucapkan.
Untungnya kecanggungan ini segera berakhir, dengan kedatangan Tabib Hua.
",Hah Fei Yang kamu akhirnya kembali juga.. gimana petualangan mu..?"
Fei Yang tanpa berkata-kata mengibaskan tangannya kearah depan, maka keluar lah dari dalam cincinnya.
Tubuh seekor kodok emas besar, empedu yang di bekukan, buah naga hitam, dan teratai iblis yang juga di bekukan.
Semua bahan obat langka itu kini teronggok di depan kakek Hua.
Kakek Hua dengan tatapan mata tak percaya, dia segera berjongkok melakukan pemeriksaan.
Beberapa waktu setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, tabib Hua menoleh kearah Fei Yang menatap nya dengan tatapan tak percaya dan berkata,
"Ba,..Bagaimana , kamu bisa memperoleh semua ini..?"
Fei Yang sambil tersenyum berkata,
"Nasib baik saja, berkat doa dari kakak Hong Yi yang cantik.."
Ucapan Fei Yang yang asal, malah membuat wajah Hong Yi semakin tertunduk dan merah.
Melihat hal ini Tabib Hua pun menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kamu jangan lagi menggodanya, nanti dia semakin sulit tidur malam ini.."
"Ya sudah, kamu bantu aku ambil daging kodok ini, tepat di bagian leher dan dadanya.."
"Nanti susul aku ke belakang pondok..."
Fei Yang setelah mendengar ucapan Tabib Hua, dia segera sadar, dia telah kembali salah ucap, dan kembali bermain api dengan Hong Yi.
Oleh karna itu, tanpa membantah, Fei Yang buru buru meminjam belati Hua Lung, lalu berjongkok menguliti kodok emas dan mengambil dagingnya, di bagian yang sesuai dengan perintah tabib Hua.
Setelah itu tanpa berani menoleh kearah Ye Hong Yi, dengan kepala tertunduk, Fei Yang buru buru masuk kedalam pondok membawa potongan daging kodok emas.
Ye Hong Yi menyusul di belakang bersama Hua Lung, dengan senyum yang tak pernah meninggalkan wajahnya yang cantik.
Tabib Hua menghabiskan waktu selama 3 hari, untuk mengolah bahan bahan obat itu, menjadi pil dan salep mata.
Sedangkan Fei Yang memanfaatkan waktu itu, untuk melatih Hong Yi memainkan jurus pedang Naga es dan Phoenix Api seperti yang pernah dia ajarkan ke Lan Yi dan Li Dan.
Bakat Hong Yi tidak di bawah Lan Yi, sehingga dalam waktu singkat dia pun sudah berhasil menguasai 3 jurus itu.
Setelah obat selesai di buat, Hong Yi pun mulai menjalani perawatan selama 7 hari dengan mata di tutup.
Setelah tujuh hari berlalu, penutup mata dibuka, seperti waktu yang lalu, Hong Yi di minta membuka matanya pelan pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.
Setelah terbiasa baru membuka matanya seluruhnya secara normal.
Sekali ini sangat lancar dan memuaskan hasilnya, kini penglihatan Hong Yi, bahkan jauh lebih tajam dan jelas ketimbang sebelum matanya terluka.
Hong Yi saking gembira dan senangnya, dia langsung melompat kedalam pelukan Fei Yang dengan cucuran air mata.
Fei Yang terpaksa membiarkannya, hingga perasaan Hong Yi sudah tenang, Fei Yang baru berkata,
"Kak Hong Yi,.. kini mata kakak sudah pulih, sudah saatnya kita berpisah."
"Fei Yang besok pagi rencananya akan memulai pertualangan Fei Yang, untuk mencari musuh musuh perguruan kita.."
"Kak Hong Yi sendiri punya rencana apa kedepannya ,?"
Hong Yi menatap Fei Yang dengan tatapan sedih dan berkata,
"Paman guru, kini Hong Yi cuma sendirian di dunia ini."
"Satu satunya saudara seperguruan Hong Yi yang tersisa, ya hanya paman guru seorang.."
"Bila paman guru,.merasa Hong Yi adalah beban bagi petualangan paman guru.."
"Makanya Hong Yi, hanya punya pilihan berangkat seorang diri menuju Hei Mo San, untuk membalaskan dendam saudara saudara seperguruan kita yang mati secara penasaran.."
Mendengar ucapan Hong Yi, Fei Yang jadi tidak tega dan khawatir dengan keselamatan Hong Yi.
Seorang gadis menempuh perjalanan mencari musuh yang jelas bukan lawannya ini sangat berbahaya.