PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
YU NU FENG


"Terimakasih banyak paman atas informasinya, aku pamit permisi dulu.."


ucap Nan Thian sambil memberi hormat.


Penjaga gerbang itu juga memberi hormat, dan menatap bayangan punggung Nan Thian, yang sedang berjalan kembali kearah kereta nya.


Sesaat kemudian kereta Nan Thian mengambil jalan memutar, menyusuri sungai Wei.


Tak butuh lama mereka sudah menemukan paviliun mewah berlantai 4 yang di bangun dengan megah di pinggir sungai Wei.


Paviliun itu terdiri dari beberapa komplek yang besar dan mewah, bagian tertinggi adalah bangunan 4 lantai yang berada di tengah depan lokasi.


Sisanya adalah bangunan dua lantai yang luas semuanya menghadap kearah sungai dan pegunungan Hua San yang terdiri dari 7 puncak.


Di sisi timur ada 3 puncak, di sisi selatan juga ada 3 puncak hanya di sisi barat yang terdiri dari satu puncak.


Nan Thian menghentikan kereta kuda nya, di depan restoran milik penginapan tersebut.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun..!"


ucap Nan Thian mengingatkan semua nya.


Lalu dia dan Sun Er yang pertama kali turun dari kereta, seperti biasa Nan Thian membantu Zi Zi Siau Yen dan Siu Lian turun dari kereta satu persatu.


Saat hendak memasuki restoran, Nan Thian berkata kepada pelayan muda yang menyambutnya,


"Adik apakah di tempat mu ini ada tempat penitipan kereta ?"


"Ada tuan muda, tuan muda tenang saja, serahkan saja pada ku.."


"Aku yang akan mengurusnya, Tuan muda dan kedua nyonya muda, serta anak anak, nikmati saja fasilitas dan pelayanan yang di sediakan oleh pihak Hong Hua Lou..( Paviliun bunga merah )."


Mendengar ucapan dari pelayanan itu, Nan Thian langsung tersenyum pahit.


Sedangkan Siau Yen dan Siu Lian, mereka berdua langsung tertunduk malu dengan wajah merah padam.


Ada rasa malu tapi juga senang, hati mereka serasa berbunga bunga, di buai ucapan pelayan itu.


"Kakak pelayan salah, kakak tampan ku ini belum menikah, pasangan pun belum ada.."


"Kedua kakak cantik ini adalah teman ku..bukan istri kakak tampan ku.."


ucap Zi Zi yang di dalam gendongan Nan Thian dengan wajah polos.


"Ehh ohh maaf tuan dan nona, aku.."


ucap pelayan itu tidak enak hati dan sedikit canggung.


Tapi Nan Thian langsung memotongnya dan berkata,


"Itu bukan masalah besar, lupakan saja yang penting urus kuda kuda ku dengan baik.."


Selesai berkata Nan Thian langsung melangkah masuk kedalam restoran.


Dari luar terlihat sepi, tapi begitu masuk kedalam ternyata suasana di dalam begitu ramai dan meriah.


Ditengah tengah ruangan ternyata ada sebuah panggung yang di sediakan untuk penari dan pengiring musik menyajikan atraksi tarian buat para pengunjung restoran.


Restoran juga di penuhi oleh pengunjung yang sebagian besar adalah orang orang dunia persilatan.


Dari yang terlihat, mereka sebagian besar adalah orang orang dari aliran putih.


Mereka hanya fokus makan dan minum, hanya sesekali melirik dan menonton tarian di atas panggung.


Mereka lebih banyak mengobrol, bertukar informasi di antara sesama mereka.


Nan Thian menoleh kearah pelayan di sebelah nya dan berkata,


"Paman, apakah ada ruangan lain yang lebih santai dan lebih tenang..?"


"Ada..ada..tuan silahkan lewat sini tuan muda.."


"mari.."


ucap pelayan setengah tua itu dengan penuh hormat mengantar Nan Thian menuju undakan anak tangga kayu.


Terakhir di lantai keempat, mereka di ajak menaiki anak tangga yang agak sedikit tegak keatas.


Dari sini mereka di antar menuju sebuah ruangan yang privasi yang hanya di sediakan untuk satu keluarga tamu.


Di mana di sana hanya ada sebuah meja besar, berbentuk bulat, yang muat untuk 20 orang tamu, duduk mengelilingi satu meja tersebut.


"Di sini tuan, di sini paling tenang, juga bisa menyaksikan pemandangan Gunung Hua San dengan ke tujuh puncaknya yang menembus awan, juga pemandangan Sungai Wei di barat dan Sungai kuning di Utara ."


"Udara di sini pun jauh lebih segar dan sejuk tuan.."


ucap pelayan itu melakukan promosi, sambil membuka jendela ruangan tersebut satu persatu lebar lebar.


Agar udara segar sirkulasi nya, bisa bebas keluar masuk ruangan tersebut.


Kini seluruh ruangan menjadi jauh lebih sejuk, Zi Zi dengan penuh semangat berlarian dari satu jendela ke jendela lain untuk melihat pemandangan di luar sana.


Sun Er mengikutinya sambil menjaga gadis kecil itu.


Nan Thian mengangguk dan tersenyum puas.


Suau Yen dan Siu Lian juga ikut berdiri di pinggir salah satu jendela, menikmati pemandangan dari udara sejuk yang berhembus kearah wajah dan sebagian, bagian atas tubuh mereka.


Nan Thian mulai memesan menu makanan yang di tawarkan oleh pelayan setengah tua itu.


Setelah selesai Nan Thian menoleh kearah rekannya dan berkata,


"Yen er Lian Er, Paman dan bibi kecil, apa kalian ingin pesan masakan tambahan kesukaan kalian..?"


keempat orang itu tanpa menoleh langsung menggelengkan kepalanya dan berkata,


"kakak atur saja kami ikut saja.."


Nan Thian menoleh kearah pelayan itu dan berkata,


"Paman tolong tambahkan sepiring buah, dan penganan manis, yang paling enak di tempat ini.."


"Baik tuan muda, ada yang lainnya tuan..?"


ucap pelayan setengah tua itu penuh hormat.


"Ohh ya paman,.. apa paman tahu di mana perguruan Hua San Pai berada ?"


tanya Nan Thian, karena dari yang dia tahu lokasi penyelenggaraan acara Pi Wu ( pertandingan silat ) tersebut, akan di selenggarakan di Hua San Pai.


"Ohh Hua San Pai, Hua San Pai terletak di puncak gunung sebelah barat sana, namanya, Puncak Lian Hua San ( puncak bunga teratai ).


Nan Thian mengangguk paham, mengikuti arah petunjuk jari tangan pelayan itu.


Dia memang melihat ada sebuah puncak gunung tunggal di sebelah barat sana.


"Paman kecil,..!"


panggil Nan Thian sambil melambaikan tangannya memanggil Sun er untuk mendekat.


Sun er mengangguk, lalu dia berlari kecil menghampiri Nan Thian dan berkata,


"Ya kak.."


"Sun er di mana letak puncak tempat kediaman kakek paman guru Fei Yang dan Nenek Bibi guru Xue Lian berada.?"


tanya Nan Thian.


"Menurut paman Fei Yang, kita tinggalnya di puncak Yu Ni Feng (Puncak Putri Kumala ).."


ucap Sun er sesuai dengan yang pernah dia dengar dari Fei Yang.


Nan Tarang menoleh kearah pelayan setengah tua itu dan berkata,


"Bagaimana paman, apa paman tahu di mana puncak Yu Ni Feng itu..?"


Pelayan setengah tua itu terlihat kaget dan sedikit gugup, tapi dia tetap menjawabnya.


"Tuan muda, Yu Nu Feng itu hanya bisa di lihat, tapi tidak mungkin di jangkau oleh manusia yang tidak punya sayap..'