PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KAKEK BAIK HATI.


Nan Thian saat bangun tidur sangat kaget, melihat kain kantung uangnya.


Kini tergeletak dalam keadaan kosong di sampingnya, Nan Thian tersenyum lesu.


Dia tahu ada kemungkinan, yang mencuri uangnya adalah pengemis pengemis di dalam kuil itu.


Tapi dengan kondisinya saat ini, bila masuk menanyakan ke mereka akan percuma.


Mereka tidak akan mengakuinya, salah salah dia akan di keroyok dan di aniaya oleh mereka.


Bisa bisa bukan hanya uang gak kembali, tapi dia akan ikut mati konyol di aniaya kumpulan pengemis itu.


Setelah pelajaran di restoran Tempo hari, Nan Thian mulai belajar yang namanya tahu diri.


Jangan mencari masalah buat diri sendiri, bila tak punya kemampuan.


Nan Thian duduk lesu sambil memegang kantong kain kecil di tangannya.


Kantong ini adalah pemberian Xue Xue sewaktu mereka masih bersama dulu.


Nan Thian yang tidak tega membuangnya, setelah menatap nya beberapa saat.


Dia akhirnya menyimpan nya kembali, Lalu dia bergerak meninggalkan tempat tersebut setelah hujan salju sudah terlihat mulai mereda.


Meninggalkan kota tersebut, Nan Thian melanjutkan perjalanan nya tanpa arah dan tujuan jelas.


Nan Thian terus melangkah kemanapun kedua kakinya membawanya melangkah.


Tanpa di sadari Nan Thian tiba di sebuah Padang rumput yang sangat luas.


Seperti hamparan karpet hijau, bila di lihat dari ketinggian.


Nan Thian yang merasa udara sangat sejuk dan nyaman di tempat itu.


Dia lalu membaringkan tubuhnya tiduran diatas rumput lembut, sambil menatap langit biru.


Nan Thian tersenyum seorang diri menatap awan putih yang berarak arak tertiup angin.


"Alangkah akan bahagianya, bila bisa seperti kalian.."


"Berarak bebas di angkasa tanpa perlu ada beban pikiran."


"Hufff..!"


Nan Thian menghela nafas melepaskan kepenatan hatinya.


"Kriuukkk,..! Krukkkk..!"


Perut Nan tiba tiba berbunyi keras, tanda minta isi.


Dia segera bangun berdiri, lalu kembali melanjutkan langkahnya .


Mencoba mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk mengisi perutnya yang lapar.


Setelah perutnya berbunyi, Nan Thian baru sadar perutnya belum lah diisi sejak kemaren.


Nan Thian mempercepat langkahnya dengan harapan akan segera menemukan kota atau desa terdekat.


Sehingga dia bisa mencari makan di sana.


Di Padang rumput seperti itu, Nan Thian pasti akan kesulitan menemukan binatang buruan, yang bisa dia tangkap untuk di makan.


tapi sambil melangkah Nan Thian tetap memasang mata dan telinga nya.


Mengamati kalau kalau ada kelinci di sekitar sana, yang bisa dia tangkap untuk di makan.


Tapi sampai matahari naik tinggi, di mana Nan Thian mulai merasa haus, tapi yang dia cari belum juga terlihat


Baik itu kelinci maupun desa atau kota terdekat keduanya tetap tidak terlihat sama sekali .


Dengan lesu Nan Thian terus melanjutkan langkahnya, hingga akhirnya dia mencium wangi masakan.


Nan Thian buru buru mengikuti wangi masakan itu, wangi masakan itu membawanya ke sebuah rumah pondok yang sepi.


Rumah pondok itu berdiri di tengah tengah Padang rumput yang luas.


Melihat cerobong asap bagian belakang rumah itu terus mengepulkan asap.


Bau masakan juga berasal dari sana, Nan Thian mempercepat langkahnya menuju rumah sederhana itu.


"Permisi,..! apakah ada orang di dalam sana..!?"


panggil Nan Thian dari halaman depan rumah tersebut.


Melihat belum ada respon, Nan Thian kembali mengulanginya dengan suara lebih keras.


"Permisi,..! apakah ada orang di dalam sana..!?"


Setelah menunggu beberapa waktu, pintu rumah sederhana itu terbuka dari dalam.


"Anak muda kamu siapa ? ada keperluan apa..?"


Nan Thian memberi hormat dengan sopan dan berkata,


"Maaf kakek nama ku Nan Thian, perut ku lapar sudah sedari kemarin belum makan.."


"Bolehkah kakek berbaik hati,.."


ucap Nan Thian sambil tersenyum canggung.


Kakek itu tersenyum ramah dan berkata,


"Kamu tunggulah sebentar.."


Kakek itu kembali masuk kedalam pondoknya.


Tak lama kemudian dia keluar lagi membawa ceret air dan sebuah mangkuk besar berisi nasi dan beberapa macam sayuran, yang ditumpuk di atas, lengkap dengan sepasang sumpit.


Semua masakan itu masih mengepulkan uap panas, pertanda semua itu baru selesai di masak.


"Terimakasih banyak kek.."


ucap Nan Thian sambil menelan ludahnya sendiri.


Dia terlihat sangat gembira, dan buru buru menerima mangkuk yang masih panas itu dengan hati hati.


Kakek itu tersenyum ramah dan berkata,


"Cuma nasi kasar dan sayur sederhana, kamu silahkan saja.."


Setelah menyerahkan makanan tersebut, kakek itu pun kembali lagi kedalam rumahnya.


Nan Thian makan dengan sangat lahap karena perutnya benar benar lapar.


Dalam sekejap saja isi mangkuk itu sudah pindah kedalam perutnya.


Selesai makan, Nan Thian langsung minum dari ceret itu dengan sepuas puasnya, untuk menghilangkan dahaganya.


Setelah selesai Nan Thian membawa mangkuk dan ceret menuju kedepan pintu pondok dan berkata,


"Kakek,..! aku sudah selesai, terimakasih atas makanan dan minumannya..!"


"Ya,..ya,..anak muda taruh saja di depan pintu sana .!"


jawab kakek itu dari dalam rumah.


Nan Thian meletakkan nya di sana, lalu dia mengedarkan pandangannya.


Melihat halaman kakek itu cukup banyak rumput liar, Nan Thian pun membantu kakek baik hati itu merapikan halaman depan nya.


Lalu berlanjut ke halaman belakangnya, melihat tempat air bersih kakek itu di halaman belakang pada kosong.


Nan Thian pun membantu menimba air dari sumur, mengisinya kesemua tong air yang kosong sampai penuh semua.


Dia juga membantu kakek itu mencuci mangkuk dan piring serta peralatan memasak hingga bersih.


Setelah semuanya beres, Nan Thian melanjutkan memeriksa apa ada hal lain yang bisa dia lakukan buat kakek baik hati itu.


Melihat kayu bakar kakek itu hampir habis, Nan Thian pun membawa sebuah Kampak yang ada di dekat sana.


Lalu dia berjalan menuju sebuah hutan, yang terletak di belakang rumah kakek itu.


Di sana Nan Thian mengumpulkan kayu kering dengan kampaknya.


Setelah merasa cukup banyak Nan Thian baru membawanya kembali untuk di simpan di gudang penyimpanan kayu kering milik kakek itu.


Selama Nan Thian bekerja, kakek itu mengamati nya dari dalam rumah bersama cucu perempuan nya.


Mereka berdua sama sama tersenyum puas, melihat yang di lakukan oleh Nan Thian.


Mereka tidak menegur atau melakukan apapun, mereka hanya memperhatikan saja, apa yang Nan Thian sedang kerjakan.


"Kakek sungguh sayang orang sebaik itu, harus mengalami kecacatan di Dan Tian dan seluruh pembuluh darah nya."


"Apa kakek punya akal untuk membantu penyembuhannya..?"


tanya gadis itu sambil menoleh menatap kearah kakeknya.


Kakek itu menghela nafas panjang dan berkata,


"Sayangnya itu juga di luar kemampuan kakek, meski hati ini ingin.."


"Hal itu di luar kemampuan kakek.."


ucap kakek itu sambil menatap Nan Thian dengan tatapan mata iba.