PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENGUNJUNGI KEDIAMAN PERDANA MENTERI LI


Fei Yang meski juga penasaran, dia tidak berkata apapun.


Dia ingin mencari waktu berbicara dengan neneknya.


Fei Yang tidak bodoh, dia tahu ayahnya sangat berbakti pada neneknya, apapun kata kata neneknya, ayahnya tidak mungkin berani menolaknya.


Semua ini pasti adalah atas kehendak neneknya.


Ada kemungkinan mendapat dukungan dari perdana menteri Li.


Bila tidak pejabat lain pasti tidak akan setuju, terutama pejabat pejabat militer, mereka pasti lebih pro ke Li Dan yang status nya hampir mirip di buang ke perbatasan, apapun itu alasannya.


Tapi saat ini belum ada bukti apapun yang menyatakan Li Yung bukan orang yang tepat untuk jabatan itu.


Selama belum ada bukti kesalahannya, tidak ada yang bisa dia lakukan.


Karena Fei Yang tidak berkomentar juga tidak menunjukkan keberatannya.


Nenek juga bersikap pura pura tuli, lebih fokus makan dan berbicara hal lain ke Fei Yang.


Raja Li Yuan Ming juga memilih diam dan bersikap netral begitu pula perdana menteri Li.


Akhirnya pancingan sindiran yang di lontarkan oleh ratu Sabrina berlalu begitu saja.


Suasana pesta berjalan normal, hingga akhirnya nenek mengundurkan diri, begitu pula dengan perdana menteri Li dan Sian Sian juga mengundurkan diri.


Tersisa Fei Yang dan kedua orang tua nya, Fei Yang baru menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya kepada kedua orang tua nya.


Mendengar penjelasan Fei Yang, tentu saja kedua orang tua nya saling pandang dengan kaget.


"Fei Yang apakah kamu sudah pertimbangkan matang matang keputusan mu ini ?"


"Ayah mohon kamu pertimbangkan lagi dengan baik baik."


"Pembatalan pertunangan mu dengan Sian Sian bukan dapat di buat main main.."


"Pertama hal ini pasti akan sangat menyinggung perdana menteri Li.."


"Kedua pasti akan sangat melukai perasaan Sian Sian, kita semua tahu gadis itu sangat mencintai mu.'


"Dia juga selama ini, selalu dengan setia menunggu kepulangan mu .."


ucap Raja Li Yuan Ming mengingatkan Fei Yang.


Fei Yang menghela nafas panjang, dia menatap ayahnya dan berkata,


"Ayah sebelum datang aku sudah pikirkan semuanya dengan matang.."


"Terhadap Sian Sian aku tidak punya perasaan sama sekali.."


"Hubungan kami hanya sebatas hubungan teman baik, dan aku selama ini selalu anggap dia sebagai adik ku saja, tidak lebih dari itu.."


"Tapi semua ini di mulai dari ku, aku akan pergi sendiri menemuinya dan berbicara dengan nya secara langsung.."


"Aku juga akan menemui dan berbicara baik baik dengan paman Li, agar tidak sampai menyakiti perasaannya.."


"Aku juga akan pergi temui nenek dan berbicara dengan nenek.."


"Bila semua ini beres, aku baru akan memberitahu ayah dan ibu untuk mengumumkannya secara resmi.."


"Setelah itu ayah dan ibu harus berangkat ke kerajaan Song,membantu ku meminang putri Wei Wen dari ayahnya kaisar Song Zhao Kuang Yi.."


"Mengenai pihak Zhao Kuang Yi, ayah tak perlu khawatir, aku sudah lebih dahulu berbicara dengan beliau.."


"Beliau tidak berkeberatan, hanya saja, dia ingin mengundang kalian kesana, untuk membicarakan segala sesuatu nya.."


Raja dan ratu saling pandang, mereka berdua menghela nafas panjang dan berkata,


"Baiklah nak, ayah ibu tidak akan memaksa mu, asal kamu merasa itu adalah yang terbaik."


"Kami akan mendukung mu.."


ucap Raja Li Yuan Ming bijak sambil menepuk bahu putra nya.


Ratu Sabrina juga mengangguk, menyetujui ucapan suaminya.


Fei Yang memegang kedua tangan orang tua nya dengan penuh haru dan berkata,


Kedua orang tua Fei Yang sambil tersenyum balas menggenggam tangan putra mereka, dan ratu Sabrina pun berkata,


"Fei Yang apapun keputusan dan keinginan mu, asal itu baik kami pasti akan mendukung mu.."


"Tapi kamu harus ingat status mu, kamu adalah putra mahkota, penerus kerajaan Xi Xia."


"Setelah menikah kamu harus membawa istri mu kembali kemari, kamu harus menggantikan ayah mu.."


Fei Yang tersenyum pahit dan berkata,


"Ibu aku berjanji pada mu, aku dan istri ku pasti akan kembali ke Xi Xia, tidak akan terus menerus tinggal di kerajaan Song.."


"Tapi untuk menggantikan posisi ayah, kelihatannya harus menunggu ku membalas dendam guru ku, kepada dua pentolan Hei Mo San, Xu Da dan Ming Wang.."


"Bila itu beres, aku pasti akan memenuhi takdir ku, meski sebenarnya aku tidak menyukainya.."


ucap Fei Yang sejujurnya.


Ratu Sabrina mengangguk dan berkata,


"Kalau begitu setelah menikah biarlah istri mu di sini, kamu segera pergi temukan mereka tuntaskan semuanya.."


"Agar kamu bisa sesegera mungkin mengambil tanggungjawab mu.."


ucap ratu Sabrina serius.


Fei Yang mengangguk setuju dengan usul ibunya.


"Ayah ibu, bila tidak ada hal lain, aku sekarang juga mau pergi menemui Sian Sian.."


ucap Fei Yang cepat.


"Pergilah nak, hati hati di jalan,.."


"Bicarakan dengan baik baik, jangan menyakiti perasaannya, ibu selalu merasa kasihan dan sedikit bersalah padanya.."


ucap ratu Sabrina mengingatkan putranya.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Terimakasih Bu, Fei Yang akan selalu mengingatnya."


Fei Yang kemudian mengundurkan diri dari hadapan kedua orang tua nya.


Raja dan ratu saling berangkulan mesra, mereka terus menatap bayangan punggung putra tunggal mereka, hingga menghilang dari hadapan mereka berdua.


Sambil menghela nafas panjang, kedua orang tua Fei Yang juga bergerak meninggalkan taman.


Fei Yang yang datang kediaman perdana menteri Li, untuk mengajak Sian Sian untuk jalan jalan mengelilingi benteng kota.


Di sambut dengan sangat gembira oleh Perdana menteri Li.


Sian Sian sendiri juga sangat gembira, dia bahkan menghabiskan waktu cukup lama untuk berdandan agar bisa tampil lebih cantik di hadapan tunangan nya.


Sebenarnya tanpa berdandan sekalipun, dia pada dasarnya, seperti gadis umumnya di daerah Xi Xia, yang memiliki darah campuran orang Turfan dan Han, mereka memilik kecantikan khas yang sulit di cari tandingannya.


Tapi sebagai seorang gadis, dia tetap selalu merasa ada yang kurang, bila dia tidak berdandan.


Dia akan selalu merasa kurang percaya diri tampil di depan pasangan nya.


Fei Yang dengan sabar menunggunya, sambil ngobrol santai dengan perdana menteri Li, membahas tentang perkembangan kerajaan Xi Xia saat ini.


Dari mulut perdana menteri Li Fei Yang mengetahui pada garis besarnya, keadaan kerajaan nya, semua baik baik saja.


Di Liao Dong sendiri tidak banyak pergerakan, setelah kerugian pertempuran terakhir kemarin.


Moril pasukan mereka sedang jatuh, mereka masih trauma berat dan belum bisa melupakan pertempuran terakhir mereka yang mengalami kekalahan telak.


"Kakak Yang ayo kita jalan,.."


terdengar suara lembut Sian Sian, yang datang dari arah belakang Fei Yang.


Fei Yang menoleh kebelakang untuk melihat si pemilik suara itu berasal.