
Nan Thian melepaskan 3 tebasan pedang Naga Emas.
Tiga berkas sinar yang di selimuti api dan mengeluarkan raungan dahsyat, menerjang kearah Kongsun Liang Kongsun Kang dan Se Ma Ciu.
"Rooaaarrrrrrr...!"
Di mana ketiga orang itu sedang memutar pedang di tangan mereka, membentuk gulungan sinar, untuk menghadang bunga api yang berpijar kearah mereka.
Mereka tidak sadar ada bahaya susulan, yang jauh lebih dahsyat menerjang kearah mereka.
Saat mereka mendengar suara raungan menggetarkan, mereka baru menyadari datangnya bahaya tersebut.
Tapi kesadaran mereka sudah terlambat, karena Tiga naga emas yang diselimuti api.
Dengan moncong terpentang lebar, sambil mengeluarkan raungan dahsyat.
Sudah terlalu dekat, tidak ada waktu menghindar lagi.
Mereka hanya bisa, mengerahkan seluruh kekuatan mereka, melintangkan sepasang pedang mereka di depan dada.
Untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Trangggg...!"
Pedang ketiga orang itu rontok patah tidak kuat menahan terjangan energi Naga Emas itu.
Tubuh mereka bertiga terpental ke udara.
Sebelum mereka sempat melakukan sesuatu,
"Blassss...!"
Naga emas yang di selimuti api dengan moncong terbuka lebar.
Telah menembus tubuh mereka bertiga.
Setelah Naga Emas menembus tubuh mereka bertiga, Naga Emas meliuk berputaran satu kali di udara.
Lalu meliuk dan kembali menembus bagian punggung ketiga buaya sungai kuning itu.
Sementara Naga Emas sudah kembali menyatu dengan tubuh Nan Thian.
Tapi ketiga orang yang sedang terpental melayang di udara.
Tiba-tiba dari seluruh tubuh mereka muncul cahaya emas menyembul keluar.
Sebelum akhir terjadi ledakan.
"Blaaaarrr..!"
Tubuh mereka bertiga meledak di udara hancur berkeping-keping, hanya tersisa potongan pakaian dan serpihan daging, yang bertebaran di udara.
Sebagian jatuh di atas kapal, sebagian lagi terbawa angin jatuh kedalam sungai.
Di tempat lain di arena pertempuran Siau Hei melawan Lei Kun dan Siangkoan Li juga telah mencapai titik akhir.
Lei Kun yang lehernya terkena gigitan Siau Hei, sudah tak terselamatkan lagi.
Tulang lehernya remuk, tanpa sempat mengeluarkan suara, Lei Kun telah terkulai lemas, kehilangan nyawa.
Sedangkan Siangkoan Li yang terkena tendangan kaki belakang Siau Hei dan kibasan ekor di wajahnya.
Siangkoan Li terlempar keluar dari kapal, jatuh kedalam sungai kuning.
"Plakkkk,..!"
"Dessss,..!"
"Byuuur...!"
Siangkoan Li langsung menghilang setelah tercebur kedalam sungai.
Tumbang nya kelima buaya sungai kuning, membuat sisa perompak tengkorak putih.
Memilih mundur teratur, kembali.kekapal mereka masing masing.
Lalu mereka buru buru membuka kepungan dan mengembangkan layar.
Mereka langsung melarikan diri menjauhi kapal, yang di tumpangi oleh Nan Thian dan para penumpang lainnya.
Para penumpang kapal penyeberangan dan para awak kapal mengacungkan senjata mereka keatas, berteriak teriak dari pinggiran kapal dengan penuh semangat.
Mereka menyoraki perompak tengkorak putih yang kabur ketakutan, setelah 4 dari 5 pimpinan mereka tewas di pertempuran tersebut.
Kapten kapal dan beberapa penumpang lainnya memberi hormat kearah Nan Thian dan berkata,
"Terimakasih banyak pendekar muda , kalau boleh kami tahu.."
"Kami sedang berhadapan dengan..?"
tanya kapten kapal sambil memberi hormat ke Nan Thian.
Nan Thian membalas penghormatan mereka dan berkata,
"Nama ku Yue Nan Thian, aku bukan siapa siapa, hanya seorang mantan murid dari Qing Hai Pai saja.."
Terdengar suara sahut menyahut, mengagumi kehebatan Qing Hai Pai, mereka juga memuji muji nama Pai Wang ketua Qing Hai Pai.
Nan Thian tidak menanggapi sikap mereka, dia memberi hormat sekali lagi.
Kemudian mengajak Siau Hei, yang kembali berubah menjadi anjing hitam kecil, mengikuti nya, mengundurkan diri dari sana, kembali kedalam kamar mereka.
Terlihat Sun er Zi Zi Siau Yen dan Siu Lian keluar dari dalam kamar dan bertanya ke Nan Thian.
"Kakak Nan apa kakak baik baik baik saja..?"
"Apa perompak itu sudah berhasil di usir..?"
tanya Siau Yen dan Siu Lian bergantian.
Nan Thian sambil membelai kepala Sun er dan Zi Zi dengan lembut, menjawab tanpa menoleh.
"Aku baik baik saja, semua perompak sudah berhasil di usir.."
"Kini sudah aman, kapal juga sudah kembali melanjutkan perjalanan.."
Zi Zi memegang tangan Nan Thian dan berkata dengan tidak puas,
"Kakak' tampan, tadinya aku mau ikut menonton dari bilik kapal."
"Tapi menyebalkan nya gak ada yang mengijinkannya.."
ucap Zi Zi dengan bibir cemberut menggemaskan.
Nan Thian yang melihat hal itu, tidak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar.
Sebuah senyum yang terlihat sangat natural, membuat wajahnya yang pada dasarnya sudah tampan.
Terlihat semakin tampan, Siau Yen dan Siu Lian sampai tak berkedip melihat kearah wajah Nan Thian.
Nan Thian sendiri tidak menyadarinya, dia memilih berjongkok.
Lalu menggendong Zi Zi dan berkata,
"Bibi masih kecil, di luar sana tidak aman, makanya kakak Sun Kakak Yen dan kakak Lian, tidak memberi ijin.."
"Bila bibi kecil penasaran, bibi kecil harus cepat besar, dan rajin berlatih saat pulang nanti.."
"Bila sudah besar nanti dan sudah mewarisi ilmu paman kakek guru , dan ilmu bibi nenek guru.."
"Bibi kecil juga boleh berpetualang sebebasnya.. tidak akan ada yang melarang larang lagi.."
ucap Nan Thian dengan sabar memberi pengertian.
"Baiklah kakak tampan, tapi kakak tampan harus janji, bila Zi Zi sudah besar dan bisa melindungi diri sendiri.."
"Kakak tampan harus temani Zi Zi berpetualang ya,."
Nan Thian tersenyum dan mengangguk, baik itu bukan masalah.."
"Keponakan murid berjanji ,.."
Zi Zi sambil tersenyum gembira, mengacungkan jari kelingkingnya kedepan hidung Nan Thian.
Nan Thian mengerti apa mau gadis kecil itu, dia mengaitkan jari kelingkingnya yang besar ke jari kelingking Zi Zi yang kecil.
"Begini boleh..!"
tanya Nan Thian.
"Eng,.. boleh sekali.."
ucap gadis kecil itu sambil tertawa ceria.
"Ini untuk mu,.."
ucap Nan Thian memberikan sebatang Ping Tang Hu Lu ke Zi Zi di dalam gendongannya.
Zi Zi menerimanya dengan senang dan berkata,
"Terimakasih kakak tampan.."
"Kakak tampan, Zi Zi bosan di kamar mau main main kedepan sana, bersama kakak Sun dan Siau Hei boleh..?"
tanya gadis itu sambil menatap Nan Thian dengan sepasang mata nya yang polos.
Nan Thian tersenyum, lalu menurunkan Zi Zi membelai kepala nya dan berkata,
"Pergilah, tapi jangan bermain di pinggiran by kapal, nanti bisa terjatuh kedalam sungai ."
Zi Zi mengangguk cepat dengan ekspresi wajah gembira.
"Paman kecil, kamu jaga Zi Zi ya ?"
ucap Nan Thian sambil memberikan sebatang Ping Tang Hu Lu juga ke Li Sun.
"Terimakasih kak, aku pasti akan menjaganya. "
ucap Li Sun cepat.
"Bagus kalian pergilah main sana.."
ucap Nan Thian sambil tersenyum.
Setelah melepas kedua anak kecil dan Siau Hei pergi bermain.
Nan Thian menyodorkan kearah Siu Lian dan Siau Yen masing masing sebatang Ping Tang Hu Lu.
"Hanya tinggal ini, bila tidak di makan nanti rusak sayang.."
ucap Nan Thian .