
Gadis cantik itu tersenyum lembut dan berkata,
"Bukankah ayah mu bernama Li Fei Yang dan ibu mu bernama Lie Xue Lian ?"
"Sedangkan dia adalah putra adik ayah mu Li Dan dengan Pai Lan Yi.. bukan begitu..?"
tanya gadis itu sambil tersenyum lembut menatap kearah Zi Zi dan Sun Er yang baru sadarkan diri, sedang berusaha bangkit duduk, sambil menatap kearah Gadis cantik dan biksu tua yang berdiri dibelakangnya.
Sepasang mata Xi Zi langsung terbelalak lebar dan berkata,
"Bagaimana kakak cantik bisa tahu sebanyak itu ? kakak cantik ini siapa ?"
Gadis cantik tersebut tersenyum lembut dan berkata,
"Nama ku Wu Fei Hsia, aku dari pulau ikan.."
"Dulu dulu sekali, aku dan ayah mu adalah teman baik.."
"Apa kabar dengan ayah ibu mu ? di mana mereka ? kenapa kalian bisa ada di sini..?"
tanya Fei Hsia penasaran.
Zi Zi menoleh ke arah kakaknya, Sun er mengerti.
Dia pun menceritakan secara singkat tentang kondisi mereka berdua.
Fei Hsia menghela nafas kecewa dan sedikit sedih, usai mendengarkan cerita dari Sun er.
"Bagaimana Su Hu Kasapa ?"
"Aku rasa kita akan sulit menemukan nya untuk sementara waktu ini.."
ucap Fei Hsia sambil menoleh kearah biksu tua itu.
"Namo Buddha Ya,..semoga semua mahluk, hidup dalam keadaan tenang dan bahagia.."
"Kalau begitu, sebaliknya kita berkunjung lain kali saja, mungkin Ping Huo Ta Sia sedang punya kesulitan nya sendiri ."
ucap Biksu tua itu sambil tersenyum sabar.
"Bagaimana dengan mereka berdua ini Su Hu..?"
tanya Fei Hsia penuh hormat.
"Anak laki laki ini biarlah dia menjadi murid ku, ikut dengan ku kembali ke kuil halilintar.."
"Sedangkan gadis kecil ini terpaksa merepotkan nona Fei Hsia.."
Fei Hsia mengangguk lalu berkata,
"Coba aku tanyakan ke mereka berdua dulu."
Fei Hsia kembali menoleh kearah Sun er dan Zi Zi secara bergantian, lalu berkata dengan lembut,
"Bagaimana pendapat kalian berdua..?"
Zi Zi menoleh kearah Sun er, menyerahkan keputusan kepada Sun er.
Sun er menghela nafas panjang dan berkata,
"Pada dasarnya kami berdua tidak akan keberatan dan akan menyambut tawaran itu dengan gembira.."
"Tapi Sun er punya satu permintaan sebelum menerima tawaran tadi.."
ucap Sun Er serius.
Fei Hsia sambil tersenyum lembut berkata,
"Katakan saja, Sun er.."
"Apa yang kamu inginkan..?"
"Kakak Fei Hsia, seperti yang kakak lihat, beberapa teman kami mengalami kecelakaan karena kami.."
"Jasad mereka belum di urus dengan layak aku ingin.."
"Baiklah Sun er itu bukan masalah kami akan membantu mu.."
ucap Fei Hsia cepat, memotong ucapan Sun er.
"Lalu ada lagi yang lain..?"
tanya Fei Hsia kembali menatap kedua anak kecil itu dengan sabar.
"Kakak cantik, kakak tampan yang bersama kami sebelumnya, dia terjatuh kedalam jurang sana.."
"Bisakah kakak cantik membantu kami menemukan nya..?"
ucap Zi Zi sambil menatap Fei Hsia penuh harap.
Fei Hsia tersenyum lembut dan mengangguk kan kepalanya.
ucap Zi Zi gembira sambil menggenggam tangan Fei Hsia.
Fei Hsia menatap Zi Zi dengan lembut dan berkata dalam hati,
"Bola mata ini sangat mirip dengan nya, bagaimana aku bisa menolak dan mengecewakan nya.."
"Yang ke ke kamu kemana ? apa yang telah terjadi dengan mu..?"
"Kakak cantik,.. ! kamu kenapa ? kenapa tiba-tiba bersedih dan melamun ? apa ada ucapan Zi Xi yang salah..?"
tanya Zi Zi sambil menarik narik tangan Fei Hsia.
Fei Hsia segera tersadar dari lamunannya, dengan agak gugup dia berkata,
"Kakak tidak apa-apa, kamu gak salah, kakak hanya teringat dengan teman lama kakak saja yang menghilang sama seperti kakak tampan mu.."
"Ayo kit pergi cari kakak tampan mu ."
"Suhu Kasapa maaf merepotkan anda, aku harus mengantarnya untuk pergi mencari orang.."
"Di sini aku titipkan Sun er dan permintaan nya tadi pada suhu, tidak apa apa kan..?"
Suhu Kasapa tersenyum sabar dan berkata,
"Namo Buddha Ya, itu bukan masalah nona Fei Hsia, silahkan saja.."
Fei Hsia memberi hormat kearah biksu tua itu, lalu dia menggandeng tangan Zi Zi mengikutinya melompat keatas punggung Burung Bangau Dewata.
"Kakkkk,..! Kakkkk,..! Kakkkk,..!"
Burung Bangau Dewata setelah mengeluarkan suara pekikan nya.
Dia langsung terbang membawa Fei Hsia dan Zi Zi yang duduk di punggung nya, masuk kedalam jurang yang gelap.
Fei Hsia mengeluarkan sebuah tabung kecil membuka penutupnya, meniup nya.
Api kemerahan pun menyala, tempat itu yang gelap gulita mulai terang benderang semua terlihat jelas.
"Kakkkk,..! Kakkkk,..! Kakkkk,..!"
Sambil mengeluarkan pekiknya, Burung Bangau Dewata terbang menukik kedalam jurang.
Dia meluncur cepat ke bawah jurang sana.
Zi Zi yang merasa ngeri memeluk Fei Hsia erat erat.
Mendapatkan pelukan Zi Zi putrinya Fei Yang, pria yang tidak pernah bisa dia lupakan selamanya.
Tanpa di sadari sepasang mata Fei Hsia langsung berkaca, sebelum air bening itu jatuh menitik.
Fei Hsia buru buru menggunakan jarinya, untuk menghapus air bening di matanya, sambil sedikit menengadah keatas kepalanya.
Sedangkan tangan nya yang lain balas merangkul Zi Zi dengan lembut.
"Tidak bisa mencintai, juga tidak bisa melupakan nya.."
"Biarlah putrinya yang menggantikan nya, menghibur hari hari ku yang sepi dan suram.."
Batin Fei Hsia sambil tersenyum sedih.
Setelah di telusuri dasar jurang ternyata tidak lah terlalu dalam, di dasar jurang pohon pohon raksasa yang berdaun besar besar tumbuh dengan subur.
Sehingga dari atas hanya terlihat hamparan hijau yang memanjang di dasar jurang yang luas.
Fei Hsia mengarahkan burung bangau nya terbang berputar putar di atas rerimbunan pohon.
Dia mencari rerimbunan pohon mana yang terlihat rusak, dia akan terbang turun memeriksanya bersama Zi Zi.
Karena di tempat itu ada kemungkinan merupakan tempat jatuhnya Fei Yang bersama Naga Kadal Terbang nya.
Tapi setelah cukup lama meneliti dari atas, tidak di temukan adanya pohon yang daun dan dahan nya rusak.
Sedangkan Burung Bangau Dewata, tidak bisa mendarat ke bawah, karena jalannya tertutup oleh rerimbunan pohon, yang tumbuh subur di dasar jurang.
Akhirnya Fei Hsia memutuskan menggendong Zi Zi terbang kedasar jurang, melewati pohon besar di bawah sana.
Fei Hsia sudah bukan Fei Hsia yang dulu lagi, setelah mendapatkan petunjuk dari Paman leluhurnya Lu Fan Dewa Sadis.
Kemampuan Fei Hsia bahkan jauh melampaui kakek dan neneknya.
Semua ilmu warisan Wu Song di sempurna kan lewat petunjuk langsung dari Lu Fan.
Di tambah dengan Fei Hsia yang di landa kesepian, selain berlatih dan terus berlatih menyempurnakan ilmu warisan leluhurnya.
Dia sudah tidak tahu apa yang harus di lakukan nya, untuk menghibur jiwanya yang hampa.
Dalam kondisi seperti pertapa ini, tentu saja Fei Hsia yang sangat berbakat berhasil mencapai batas puncak kemampuan nya