
Terlihat sesosok bayangan Buddha turun dari langit barat, lalu meluncur deras kebawah dengan sepasang telapak tangan terbuka menghantam kearah Fei Yang.
"Kesaktian Budha tiada Tara..!!"
teriak biksu ke 8 sambil melepaskan serangan ke Fei Yang.
Fei Yang dan pusarannya pun bergerak menyambut nya, terjadi ledakan dahsyat di dalam pusaran.
Sehingga di luar pusaran terlihat sambaran listrik yang menyambar nyambar.
Tak lama kemudian pusaran pun meledak, tubuh Fei Yang terlempar keluar dari dalam pusaran yang meledak, dengan pakaian compang camping.
Fei Yang masih sanggup berdiri meski dari sudut bibirnya terlihat mengalirkan darah segar.
Fei Yang meningkatkan kekuatan pengendalian tenaga sakti alam semesta nya hingga ketingkat terakhir.
Sehingga luka dalam yang di deritanya seketika kembali pulih, tenaga api dan es kembali melingkar di sekujur tubuhnya.
Fei Yang siap melepaskan jurus terakhir kitab tanpa tanding untuk menghadapi biksu ke 9, Biksu tua terakhir yang memegang sebatang golok Api ditangannya.
Sesosok Buddha Sakyamuni yang terbentuk dari cahaya kemerahan, muncul di belakang nya.
Lalu dia melesat ke arah Fei Yang dengan sepasang telapak tangan terbuka menyerang Fei Yang dari atas kebawah.
"Semua Buddha kembali keasal,...!!"
teriak biksu ke 9 sambil menyerang Fei Yang dengan seluruh kekuatannya.
Fei Yang juga melesat keatas dengan diselimuti oleh api yang naik dari dalam tanah dan es yang turun dari langit.
Cahaya biru dan merah dari langit dan bumi menyatu kedalam tubuh Fei Yang.
Benturan dahsyat terjadi di udara, tubuh Fei Yang terbanting keatas tanah menimbulkan sebuah lubang besar.
Sedangkan biksu tua yang kesembilan terpental ke udara, hingga tubuhnya menembus awan.
Pakaian di sekujur tubuhnya juga compang-camping, tubuhnya sebagian membeku sebagian terbakar.
Tapi saat dia turun lagi ke posisi ke 8 temannya, seluruh tubuhnya sudah normal kembali, hanya tinggal pakaiannya saja yang compang camping.
Kesembilan orang itu menatap kearah Fei Yang dengan penuh kagum.
Meski Fei Yang belum bisa menang dari mereka, tapi Fei Yang masih begitu muda, satu lawan sembilan itu sudah merupakan suatu prestasi yang luar biasa.
Fei Yang sendiri terlihat duduk ditengah tengah sebuah lubang besar, sedang menyerap hawa pedang es dan golok api dari senjata peninggalan Buddha yang masuk kedalam tubuhnya.
Ditambah dengan api bumi dan es langit yang masuk kedalam tubuhnya, akibat pengerahan jurus ke 7 kitab tanpa tanding.
Dalam sekejap saja seluruh luka dalam Fei Yang pulih.
Setelah pertarungan ini Kekuatan Fei Yang, malah meningkat beberapa kali lipat di banding sebelumnya.
Fei Yang akhirnya berhasil menyerap semua kekuatan yang masuk kedalam tubuhnya, setelah berhasil mengendalikan nya.
Fei Yang pun menghentikan.proses latihannya.
Membuka kembali matanya menghembuskan nafas lega.
Lalu dia melompat dengan ringan keluar dari dalam lubang besar dan dalam itu.
"Bagaimana keadaan mu anak muda ?"
tanya salah satu biksu tua itu,. sambil menatap Fei Yang dengan kagum.
"Berkat kemurahan hati dan perhatian guru biksu senior, keadaan Fei Yang kini baik baik saja.."
Kesembilan biksu tua itu mengangguk lega dan senang, salah satu dari mereka kembali berkata,
"Anak muda bila kamu sudah pulih sesuai janji, kami akan langsung mengirim mu ketempat persembunyian Naga hitam dan pohon buah naga hitam berada."
"Kecuali kamu menemukan pintu masuk kealam dimensinya, yang terletak di suatu tempat rahasia yang sulit ditemukan."
"Atau kamu memergoki Naga Hitam keluar masuk dari pintu portal dimensinya, bila tidak jangan harap.kamu bisa menemukan tempat persembunyian nya."
"Tapi lewat bantuan kami, kamu bisa langsung tiba di sana."
"Bila nanti sudah berhasil dan ingin kembali., cukup kamu goyangkan lonceng ini, kami akan buatkan portal dimensi untuk mu agar bisa kembali."
ucap biksu tua itu memberikan penjelasan, sambil menyerahkan sebuah lonceng emas kecil kedalam tangan Fei Yang.
Fei Yang buru buru menjura kearah 9 biksu itu sambil mengucapkan terimakasih.
Tak lama kemudian ke 9 biksu tua itu menggabungkan kekuatan mereka, untuk membentuk sebuah pintu portal dimensi buat Fei Yang.
Tanpa pikir panjang, Fei Yang pun langsung melangkah masuk kedalam pintu portal dimensi ciptaan kesembilan biksu tua itu.
Begitu melewati pintu portal dimensi tersebut, Fei Yang pun tiba di suatu tempat yang terlihat sangat indah dan menakjubkan.
Sangat jauh berbeda dengan tempat dia tadi melawan kesembilan biksu itu.
Tapi tempat seperti tadi justru sangat cocok buat pertarungan mereka, yang bisa merusak alam lingkungan dan bisa menimbulkan bencana bagi orang banyak.
Karena bisa mengganggu kestabilan alam dan mendatangkan bencana alam besar yang tidak ada putusnya.
Fei Yang berdiri di tempat baru itu menatap dengan kagum pemandangan alam di tempat itu.
Pemandangan alam ditempat itu mengingatkan Fei Yang pada tempat kediaman nya 7 tahun yang lalu bersama Xue Lian.
"Apa kabar dengan Xue Lian ?"
tanya Fei Yang dalam hati.
Fei Yang sendiri tidak tahu kenapa, tiba-tiba dia merasa sangat rindu dengan gadis itu.
Akhir-akhir ini setiap dia memejamkan matanya, wajah gadis itu selalu suka muncul di hadapannya.
Tatapan mata gadis itu yang terlihat sedih dan kecewa, selalu membuat Fei Yang merasa bersalah, tidak tega, dan sangat kasihan dengan nya.
Kini begitu melihat pemandangan tempat ini, Fei Yang pun langsung berdiri termenung di sana.
Hingga tanah tempat Fei Yang berpijak terasa bergetar, seperti ada gempa.
Fei Yang baru tersadar dan seperti baru ditarik kembali dari lamunannya.
Fei Yang buru buru mengedarkan pandangannya, melihat di balik air terjun kecil berair jernih, terlihat ada sebuah cekungan mirip gua.
Fei Yang langsung melesat masuk kebalik air terjun, bersembunyi di dalam sana melakukan pengamatan.
Fei Yang selalu mendengar tentang kekuatan mahluk legenda ini dari berbagai cerita orang.
Jadi Fei Yang tidak mau bertindak gegabah dan sembrono sebelum menyelidiki dan mengamatinya lebih jauh.
Lebih baik sabar daripada nanti menyesal sudah terlambat.
Meskipun dia kini memiliki kekuatan yang jarang bertemu tanding, Fei Yang tetap tidak mau gegabah.
Dari balik tirai air terjun Fei Yang bisa mengamati dengan bebas, tanpa khawatir terlihat oleh mahluk itu.
Fei Yang menyadari wangi tubuh manusia nya, pasti akan tercium oleh Naga itu bila dia tidak berhati-hati.
Jadi Fei Yang segera melepas dan menyimpan pakaian compang camping nya kedalam cincinnya.
Lalu Fei Yang mengoleskan lumpur dan tanah di dalam gua kesukujur tubuhnya yang t*lanjang bulat.
Baru saja Fei Yang selesai mengolesnya, Fei Yang langsung di kejutkan dengan kemunculan tiba-tiba, seekor Naga Hitam raksasa yang berukuran sangat besar.
Bahkan lebih besar ukurannya dari Naga kadal raksasa yang pernah dia jumpai di Xu San.