
Nan Thian menoleh kearah Kim Kim, Kim Kim langsung meresponnya dengan membuang muka.
"Mau kepuncak ? terbang sendiri.."
"Mau menunggangi ku, ? kamu boleh, bajingan kecil ini tidak ada pintu.."
ucap Kim Kim ketus.
Nan Thian tersenyum sabar, dia tahu saat ini berdebat hanya akan memancing emosi sahabatnya saja.
Lebih baik biarkan, nanti bila emosinya sudah reda.
Baru ajak dia bicara, pikir Nan Thian.
Nan Thian menoleh kearah Sun er dan berkata,
"Ayo paman , jangan ambil hati dengan nya, kita lewat Cang Lung Lin saja.."
Sun Er tersenyum mengerti, sambil mengangguk pelan, lalu dia mengikuti Nan Thian berlari cepat memasuki Cang Lung Lin untuk naik ke puncak Yu Ni Feng.
Sambil berlari cepat Nan Thian bertanya,
"Paman kenapa bisa bentrok dengan nya..?"
Sun Er sambil tersenyum berkata,
"Aku juga kurang mengerti kenapa Naga Emas itu menyerang ku.?"
"Aku hanya tahu begitu aku tiba di luar hutan Cang Lung Lin, Naga Emas langsung menyerang ku.."
"Dia terus menyebut ku bajingan kecil tidak tahu balas Budi, penghalang dan perebut kebahagiaan orang.."
"Aku juga kurang mengerti dengan maksud ucapannya.."
ucap Li Sun bingung.
Nan Thian tersenyum, dan mengangguk paham, dia tentu sangat jelas, apa yang di maksud oleh Kim Kim.
Kim Kim yang bermata jeli, dan memilki penciuman tajam, dia langsung mengenali Li Sun.
Dia tahu Li Sun, tapi Li Sun tentu tidak mengenalnya, karena dulu Kim Kim jarang menunjukkan diri.
Dia selalu bersembunyi di dalam Dan Tian nya, setelah makan buah persik kahyangan dan Sumber mata air kahyangan.
Kim Kim baru bisa dengan bebas hidup terpisah dari tubuh inang nya.
Tapi tentu saja Nan Thian tidak mau banyak bercerita, dia tidak mau mengungkit hal itu dengan Li Sun.
Nan Thian berpikir, akan lebih baik Li Sun tahu sendiri dari Fei Yang atau Zi Zi langsung.
Hal itu akan lebih baik, agar tidak menimbulkan kecanggungan dan salah paham.
Lagipula dia sendiri juga bukan termasuk orang yang pandai berbicara dan bercerita.
Nan Thian langsung mengalihkan pembicaraan, ke perjalanan nya selama ini.
Dia menceritakan secara singkat, tentang dirinya, tentang Fei Yang, tentang Xue Lian, tentang si kembar Fei Yung, Fei Lung, juga Zi Zi.
Tapi hubungan nya dengan Zi Zi sengaja tidak dia ceritakan.
Sambil berlari cepat dan mengobrol saling bercerita pengalaman masing masing.
Akhirnya mereka berdua tiba juga di puncak Yu Ni Feng, saat mereka berdua tiba di sana.
Kim Kim sudah tiba duluan di sana, dia terlihat duduk di kursi santai setengah berbaring, dengan kedua kaki di silangkan keatas kursi.
Disana Kim Kim duduk sambil menikmati biji bunga teratai, yang di keringkan jadi mirip kuaci manis.
Nan Thian hanya tersenyum tidak menegurnya, dia langsung mengajak Sun Er terjun kedalam jurang sebelah barat.
Mereka langsung menuju pintu portal alam dimensi, di mana Fei Yang dan keluarganya tinggal.
Kedatangan Nan Thian yang mendadak di luar jam berkunjung nya.
Membuat Zi Zi yang sedang berlatih bersama kedua adiknya, tidak lagi sempat menghindar.
Dia terpaksa menghentikan latihannya, saat melihat Nan Thian datang bersama seorang pemuda lainnya.
Diam diam Zi Zi merasa hatinya seperti sedang di sayat sayat melihat kondisi pria yang sangat dia cintai ini.
Meski Nan Thian terlihat tersenyum santai, tapi dia tahu persis itu hanya pura pura.
Zi Zi tidak berkata-kata, dia hanya terus menatap kearah Nan Thian dengan tatapan mata prihatin.
Nan Thian sebenarnya juga merasakan hal yang sama, dia juga merasa hatinya sangat sakit melihat keadaan Zi Zi, yang jelas jelas tidak sedang baik baik saja.
Tapi Nan Thian menekan dan menyimpan perasaan tersebut dalam dalam, jangan sampai terlihat.
Nan Thian sambil berpura-pura tersenyum setenang mungkin menghampiri Zi Zi dan kedua adiknya, lalu dia berkata.
"Bibi aku datang membawa paman kecil berkunjung kemari.."
"Kalian sudah lama berpisah, tentu akan ada banyak yang ingin di bicarakan.."
"Aku permisi dulu, mau pergi memberitahu Kakek paman guru, tentang kedatangan paman kecil.."
ucap Nan Thian lembut, mencoba bersikap sesantai mungkin.
Sebagai pengalihan Nan Thian langsung menggendong Fei Yung dan Fei Lung.
"Ayo kalian ikut saja dengan kakak .."
ucap Nan Thian yang memang sudah sangat akrab dengan kedua kembar itu.
Kedua kembar itu dengan gembira langsung melompat kedalam gendongan Nan Thian.
Keduanya bercerita dengan penuh semangat tentang hasil latihan mereka ke Nan Thian.
Zi Zi sendiri tidak berkata apa-apa, dia hanya mengigit bibir bawahnya erat erat, mengangguk kecil sebagai jawaban atas ucapan Nan Thian.
Setelah Nan Thian pergi, dengan senyum yang agak sedikit di paksakan.
Zi Zi menatap kearah kakaknya yang kini berubah menjadi tunangannya.
"Lama tidak bertemu bagaimana keadaan kakak..?"
tanya Zi Zi sambil menghampiri Li Sun.
Li Sun sendiri sedari tadi terus menatap kearah Zi Zi dengan tatapan mata penuh kagum.
Zi Zi memang memilki kecantikan yang sangat luar biasa, pria manapun yang melihatnya tidak mungkin bisa menahan diri untuk mengaguminya.
Termasuk Li Sun, yang meski sudah belasan tahun hidup di kuil halilintar, yang hanya di isi biksu semua.
Dia Idak pernah bergaul dengan gadis atau wanita manapun, tapi tetap saja, dia tidak bisa terhindar dari kekaguman tersebut.
Li Sun meski tinggal di kuil, tapi oleh gurunya dia tidak di gundul, juga tidak di paksa, untuk meninggalkan keduniawian.
Dia masih orang awam biasa, hal ini karena ke 9 gurunya, sudah bisa membaca, takdir murid mereka ini, tidaklah berjodoh dengan jalan Budha.
Jadi mereka tahu dengan jelas, meski dipaksakan sekalipun akan percuma.
Malah bila di paksakan, kelak bisa saja dia melanggar pantangan seorang biksu, yang sudah melepaskan keduniawian.
Ini akan berakibat fatal, bisa membuatnya dilema dan terlihat lebih buruk.
Jadi mereka memutuskan, hanya menurunkan ilmu silat dan pengertian jalan Budha, tapi tidak memaksanya untuk ikut.
Mereka menyerahkan keputusan itu sepenuhnya ke Li Sun sendiri.
"Kakak..! kakak..! halo..!"
panggil Zi Zi sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah Li Sun.
Zi Zi menahan senyum, melihat respon kakaknya, yang sedikit mirip, dengan respon kakak tampan nya, saat pertama kali bertemu dengan dirinya dulu.
Li Sun segera tersadar dan berkata,
"Ehh ohhh adik Zi Zi maaf,..aku malah melamun..kamu tadi bilang apa..?"
Sambil menahan senyum, Zi Zi mengulang kembali pertanyaan nya.
"Aku tadi tanya, bagaimana keadaan kakak selama ini,? setelah terakhir kita berpisah di puncak Lian Hua Feng.."