
Sementara itu pasukan Li Dan dan istrinya, yang menguasai pertempuran terus menekan dan melibas pasukan Liao, yang kini jumlahnya hanya tersisa setengahnya saja.
Dari 5 jendral pasukan Liao, kini hanya tersisa dua yang selamat.
Mereka sudah tidak punya jalan untuk mundur.
Karena seluruh jalan mundur mereka, telah di tutup oleh pasukan Li Dan dan Lan Yi.
Di saat pasukan itu semakin kalut, dan kehilangan semangat tempurnya.
Li Yuan Hao yang berhasil memukul mundur Fei Yang, mengalihkan perhatian nya, untuk membantu pasukan Liao dari tekanan Li Dan dan Hong Yi.
Dari udara Li Yuan Hao melepaskan sebuah serangan golok bercahaya hijau, untuk menghalau pergerakan Li Dan dan istrinya, sekaligus menghalau seluruh pasukan Xi Xia yang sedang mengejar pasukan Liao.
"Boommm,..!"
terdengar ledakan dahsyat, saat cahaya golok hijau menghantam kearah pergerakan Li Dan dan pasukannya.
Li Dan dan istrinya berhasil menghindar dengan bersalto, dan membuang diri menjauhi tempat asal ledakan.
Tapi nasib kurang beruntung menimpa pasukan Xi Xia, yang sedang melakukan pengejaran.
Pasukan Xi Xia banyak yang bergelimpangan merintih rintih kesakitan, dengan potongan tubuh bertebaran di mana-mana."
Ada yang terluka parah, ada juga yang langsung tewas di tempat, jumlahnya mencapai ribuan orang.
"Raja pimpinan pasukan kita, untuk bertahan di benteng Yin Chuan, yang sudah di kuasai putra ku..!"
"Lihat bendera itu, itu adalah bendera putra ku..Yin Chuan bisa menjadi pertahanan kita..!"
teriak Li Yuan Hao, yang sudah terlebih dahulu, melihat bendera lambang kebesaran kekuasaan putranya.
Tanpa berpikir dua kali Raja Sabutai dan pangeran Agoda, beserta dua jendral nya yang tersisa.
Mereka segera memimpin pasukan bergerak cepat menghampiri benteng pertahanan Yin Chuan.
Saat tiba di depan pintu gerbang kota Yin Chuan, dari jembatan penyeberangan, raja Sabutai pangeran Agoda, kedua jendral nya dan sebagian besar pasukan Liao.
Mereka berteriak keatas tembok benteng, meminta agar pintu gerbang kota di buka buat mereka masuk.
"Hei cepat buka gerbangnya,,..!!"
"Ini aku Raja Sabutai,.."
"Ayah panglima kalian Li Yung lah, yang menyuruh kami kemari,..!"
"Cepat buka pintunya,..cepat,..!!"
teriak Raja Sabutai tidak sabar, sambil terus melihat keatas benteng kota.
Tapi sebagai jawabannya bukan pintunya yang terbuka, tapi malah kepala Li Yung, yang di lempar kehadapan Raja Sabutai.
Sebelum raja Sabutai hilang kagetnya, beberapa batang panah yang di lepaskan dari atas benteng kota, sudah menancap di dadanya, hingga raja Sabutai langsung terjatuh dari atas kudanya, dan tewas di tempat.
Di saat bersamaan jembatan tempat mereka berdiri juga di putus.
Sehingga sebagian besar dari mereka terjatuh kedalam parit, didepan benteng kota.
Panah api berhamburan kedalam parit, dalam sekejab saja
Parit yang sudah di siram minyak dan bubuk hitam peledak.
Langsung meledak, api pun menyebar berkobar kobar membakar semua, yang terjatuh kedalam sana..
"Blarrr,..! Blarrr,..! Blarrr,..! Blarrr,..!"
"Blarrr,..! Blarrr,..! Blarrr,..! Blarrr,..!"
"Blarrr,..! Blarrr,..! Blarrr,..! Blarrr,..!"
"Arghhhh,..!!"
jerit kesakitan dan ketakutan, mewarnai orang orang yang terjebak di dalam parit depan kota Yin Chuan.
Pasukan Liao berteriak berlari kesana-kemari, didalam parit dengan tubuh di jilat jilat api,
Bau sangit daging terbakar memenuhi seluruh tempat tersebut.
Pangeran Agoda yang berhasil selamat keluar dari dalam parit, atas pengorbanan diri kedua jendral nya.
Dia hanya bisa duduk termenung di sana, di pinggir parit, seperti orang bodoh.
Dia hanya bisa melihat kematian bawahan nya, yang tewas mengenaskan di lalap api, dengan tatapan mata kosong.
Sebagian pasukan Liao, yang tanpa pemimpin sudah menjatuhkan senjata mereka.
Mereka memilih berlutut, menyerah kepada Pasukan Xi Xia, di bawah pimpinan Li Dan dan Lan Yi.
Li Dan langsung memerintahkan anak buahnya, untuk meringkus dan menahan semua pasukan Liao, yang telah menyerah, termasuk Agoda.
Mereka semua di ringkus jadi satu, menunggu keputusan Fei Yang, yang pertempurannya melawan Li Yuan Hao, sudah hampir mencapai titik puncak.
Di arena pertempuran Fei Yang melawan Li Yuan Hao, terlihat Li Yuan Hao melesat menerjang kearah atas, sambil mengayunkan golok panjang bercahaya hijau, yang di keliling oleh 9 batu iblis Asura.
Golok hijau yang sarat kekuatan iblis Asura di tebaskan untuk menyerang Fei Yang.
Setelah cahaya golok bergerak menerjang kearah Fei Yang, cahaya perisai diagram dengan di hiasi 9 batu permata dan huruf raja di tengah.
Juga ikut bergerak menyusul, untuk kembali menekan dan mengacaukan sirkulasi energi dan sirkulasi aliran darah Fei Yang.
Fei Yang yang melayang di udara dan di kelilingi oleh 6 cahaya, segera membentuk sebuah diagram yang menggeluarkan enam cahaya terang untuk menyambut serangan Golok hijau Li Yuan Hao.
"Tranggg,..!"
Serangan golok Li Yuan Hao berhasil di tahan oleh perisai ciptaan Fei Yang.
Di saat bersamaan Fei Yang juga membentuk enam pedang, dengan memiliki 6 cahaya warna berbeda beda.
Menerjang kearah perisai yang di ciptakan oleh Li Yuan Hao.
"Tranggg,.. Tranggg Tranggg,.. Tranggg,..!"
", Blarrr,..!!"
Perisai meledak hancur berkeping-keping, tidak mampu menahan serangan Fei Yang.
6 cahaya pedang menembus tubuh Li Yuan Hao,..topeng Li Yuan Hao meledak hancur berkeping-keping.
Muncullah seraut wajah, yang di hiasi bekas luka cakar memanjang di sana.
Tapi masih tetap bisa di kenali itulah paman Fei Yang, Li Yuan Hao.
Dari mulut Li Yuan Hao terlihat menyemburkan darah segar, dari tubuhnya juga muncul 6 titik yang meledak menyemburkan darah segar.
Tubuhnya melayang jatuh ke bawah tergeletak tak bergerak, dengan Golok hijau tergeletak di sampingnya.
Sedangkan 9 batu permata iblis Asura, sudah hancur, bersamaan dengan pecahnya perisai pelindung yang terbentuk oleh 9 batu itu.
Fei Yang melayang turun di sebelah, Li Yuan Hao dan berkata,
"Paman mengapa kamu tidak pernah berusaha untuk berubah..?"
"Hidup begitu singkat, kenapa paman harus memilih jalan ini ?"
ucap Fei Yang dengan wajah sedih.
Melihat keadaan pamannya yang tidak berdaya, dia jadi terbayang semua hubungan baik mereka di masa lalu.
Di mana pamannya sering menggendongnya, dia pun sering menginap makan minum tidur di rumah pamannya.
Teringat semua kenangan itu,. Fei Yang tidak bisa menahan airmatanya yang bergulir di pipinya.
Li Yuan Hao tidak berkata apa-apa, dia hanya tersenyum sedih dan menatap Fei Yang dengan tatapan mata penuh penyesalan dan kasih sayang.
Fei Yang tidak tahan melihat tatapan mata pamannya, akhirnya dia berjongkok menciumi kedua pipi pamannya dengan lembut, untuk terakhir kalinya.
Setelah itu dia baru bangkit berdiri, memunggungi pamannya dan berkata,
"Kakak Dan,,..! sekarang lah saatnya,.. antarkan paman kita pergi..!"