PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENGUSIR PASUKAN JIN


Sebuah kereta kuda, yang di lindungi seorang jendral kerajaan Song dan pasukan bawahan nya, yang jumlahnya tidak sampai 50 orang.


Mereka terlihat mengelilingi sebuah kereta kuda mewah, dalam posisi siaga melindungi kereta kuda tersebut.


Tidak jauh dari hadapan mereka terlihat sebaris pasukan, yang mengenakan seragam berbeda corak.


Bila di lihat dari jumlah pasukan pengepung itu, mungkin jumlah mereka tidak kurang dari 5000 orang.


Pimpinan mereka adalah seorang pria yang berkumis melintang di atas bibi.


Dia mengenakan pakaian bulu dan topi bulu, memelihara dua kuncir di kiri kanan kepalanya, yang terlihat menjuntai kebawah hingga sebatas bahu.


Pria ini bernama Wanyen Hong Lie, dia adalah putra ketiga raja Wanyen Khan penguasa kerajaan Jin.


Pria itu memajukan kudanya kedepan dan berkata,


"Guo Xiaotian kulihat kamu adalah seorang jendral gagah.."


"Menyerahlah, asalkan kamu bersedia mengabdi pada kekaisaran Jin raya."


"Aku berjanji akan jamin keselamatan mu dan ketiga wanita dalam kereta itu..'


"Puiihhh,..!"


Jendral Song yang bernama Guo Xiaotian itu meludah keatas tanah.


Sambil menunjuk kearah Wanyen Hong Lie dia berkata,


"Aku Guo Xiaotian bukan pengecut hina seperti mu, aku lebih baik mati dari pada menyerah."


"Kalau kamu seorang pria, turunlah dari kuda mu, mari kita bertarung secara jantan satu lawan satu.."


"Jangan berani hanya mengandalkan jumlah banyak..!"


bentak Guo Xiaotian sambil melompat dari atas kudanya.


Tangan kirinya menenteng sebuah perisai, tangan kanannya memegang sebatang golok.


Sikapnya gagah sekali tidak terlihat ada rasa takut sedikitpun di matanya.


Wanyen Hong Lie tertawa mengejek dan berkata,


"Melayani mu menggunakan otot itu namanya dungu.."


"Baiklah bila itu pilihan mu, aku terpaksa mengantar kalian semua berangkat ke akhirat hari ini juga.."


"Habisi mereka semuanya, sisa kan yang di kereta itu untuk ku.."


ucap Wanyen Hong Lie memberi tanda kepada pasukannya, lalu dirinya sendiri bergerak mundur.


Dalam sekejap mata terjadilah pertempuran berat sebelah.


Satu persatu pasukan kerajaan Song, tumbang di bawah hujanan tombak pasukan Jin, yang jumlahnya jauh lebih banyak.


Saat Guo Xiao Tian sedang berjuang seorang diri menghadapi kepungan pasukan Jin.


Dari arah udara, seekor rajawali emas yang membawa sepasang pria dan wanita terbang mendekati lokasi.


"Xue Lian pria itu aku mengenalnya, aku akan turun membantunya, kamu mau ikut atau tinggal..?"


tanya pria yang duduk di punggung rajawali itu.


"Kakak Yang mau kesana tentu aku ikut.."


ucap Xue Lian sambil tersenyum manis.


Fei Yang mengangguk lalu dia melayang turun bersama Xue Lian dari punggung Kim Tiaw.


"Hentikan,..! Mundurlah,..!"


teriak Fei Yang dari udara menggunakan suara Zhen Jing Cien Li..


Tanah di bawah sana bagaikan terkena gempa, para pasukan pengepung Guo Xiaotian seperti di sapu badai, terpental kesegala arah.


Fei Yang dan Xue Lian menyusul mendarat ringan di depan Guo Xiaotian.


"Kakak Guo apa kabar, ? lama tak jumpa.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum.


"Kamu,..ehh kamu Fei Yang, kenapa rambut mu..?"


tanya Guo Xiao Tian kaget.


Ucapan Guo Xiaotian yang kaget cukup keras, hingga terdengar jelas sampai kedalam kereta kuda.


Salah satu biksuni yang paling muda diantara ketiga biksuni yang duduk di dalam kereta.


Begitu mendengar ucapan Guo Xiaotian, wajahnya langsung pucat, airmatanya langsung bercucuran tak terkendali.


Tanpa menghiraukan larangan dan panggilan kedua biksuni tua yang lainnya.


Menatap kearah Fei Yang dengan tubuh gemetaran menahan Isak.


Mulutnya yang kecil imut terlihat bergetar, bergunaan kecil,


"Kakak Yang,..kakak Yang,.. benarkah itu kamu,.."


"Aku,..aku,.. tidak sedang bermimpi bukan.."


Fei Yang sendiri tidak memperhatikan kehadiran biksuni muda, yang sedang menatapnya dengan linangan air mata, mengalir bagaikan anak sungai.


Fei Yang setelah bertegur sapa dengan Guo Xiaotian, dia langsung menoleh kearah Wanyen Hong Lie dan berkata,


"Bila ingin selamat, bawalah pasukan mu, tinggalkan tempat ini.."


Wanyen Hong Lie, terlihat serba salah, mundur hanya karena kedatangan seorang pemuda rambut putih.


Dia pasti akan menjadi bahan tertawaan saudaranya, pamor nya di depan ayah nya akan jatuh.


Tapi tidak mundur, itu sangat beresiko, baru suara bentakan nya saja.


Pasukan nya sudah terlempar kocar kacir, apalagi bila dia bergerak menyerang.


"Mungkin tadi cuma kebetulan, bila mundur begitu saja, itu akan sangat memalukan."


gumam Wanyen Hong Lie mengambil keputusan dalam hati..


"Pasukan dengar perintah, .!"


"Maju,..! Serang,..! tangkap mereka semua hidup ataupun mati..!"


teriak Wanyen Hong Lie, sambil mencabut pedangnya dan diacungkan keatas.


Mendengar perintah dari Wanyen Hong Lie, pasukan Jin, tidak punya pilihan selain bergerak maju.


Mengangkat tombak mereka teracung kedepan, sambil berteriak keras, untuk menutupi rasa takut di hati mereka.


"Hyahhhh,..!!"


terdengar suara teriakan membahana dari pasukan Jin.


Melihat hal ini Fei Yang tersenyum dingin dan berkata,


"Dasar tidak tahu diri..."


"Enyahlah dari sini..!"


Begitu Fei Yang menggerakkan tangannya, air sungai kuning di belakang sana naik keatas udara.


Lalu berubah menjadi jutaan mata golok, melesat menerjang kearah barisan pasukan Jin, yang sedang bergerak maju.


Ribuan pasukan Jin jatuh tunggang langgang di hantam oleh air sungai kuning yang membentuk mata golok.


Bahkan tameng di tangan mereka, juga tidak mampu menahan hantaman air berbentuk golok tersebut.


Di saat bersamaan Fei Yang menyentil kan ujung jarinya, kearah pedang Wanyen Hong Lie, yang sedang teracung keatas.


Pedang ditangan Wanyen Hong


Lie,.langsung patah menjadi 3 potong.


Salah satu potongan pedang nyasar, mengenai mata Wanyen Hong Lie.


"Arghhhh,..!"


teriak Wanyen kesakitan sambil, menggunakan telapak tangannya menutupi sebelah matanya yang terluka.


Darah terlihat bercucuran membasahi wajah dan telapak tangan, Wanyen Hong Lie yang sedang menjerit kesakitan.


Sambil menahan rasa sakit, Wanyen Hong Lie segera memacu kudanya meninggalkan tempat itu..


Sambil melarikan kudanya, Wanyen Hong Lie memberi kode ke bawahannya, agar segera bergerak mundur menjauh.


Salah satu pengawal pribadi Wanyen Hong Lie, langsung mengeluarkan sebuah tanduk dan meniupnya.


Mendengar suara tiupan itu, seluruh pasukan Jin yang kocar kacir, segera bergerak mundur meninggalkan tempat itu, menyusul Wanyen Hong Lie.


Fei Yang yang tidak bermaksud terlibat dalam peperangan antar kerajaan, yang tidak ada hubungan dengan dirinya.


Dia sengaja hanya melukai tanpa membunuh, dengan menggunakan kekuatan pengendalian air sungai kuning sebagai senjata.


Sehingga pasukan Jin meski terluka tapi tidak ada yang sampai kehilangan nyawa.


Wanyen Hong Lie yang terluka cukup parah, itupun terjadi tanpa sengaja.


Setelah melihat pasukan Jin telah pergi meninggalkan tempat tersebut.


Fei Yang baru kembali menoleh kearah belakang, sekali ini tanpa sengaja sepasang matanya bertemu pandang dengan biksuni cantik, yang berdiri mematung di sana.