
"Perdana menteri Li,..!"
"Siap pangeran,.."
ucap Li Cing melangkah maju kesamping Fei Yang.
"Perdana menteri, mereka ku serahkan pada mu, suruh mereka semua harus laporkan seluruh asetnya, seluruh aset mereka adalah milik negara.."
"Sita semuanya,.. masukkan sebagai pemasukan kerajaan, nanti aturkan untuk pengurangan pajak rakyat Xi Xia, setelah bencana perang berlalu.."
"Bila di antara mereka berani main main dan tidak jujur laporkan pada ku.."
ucap Fei Yang tenang.
"Siap pangeran, hamba akan jalankan sebaik mungkin.."
ucap perdana menteri Li memberi hormat kepada Fei Yang.
Fei Yang pun membalas penghormatan kepada Perdana menteri Li.
Fei Yang menoleh kearah para tahanan yang berlutut dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran.
"Bila kalian ingin selamat jangan berani macam macam dengan ku, atau kalian akan menyusul mereka."
ucap Fei Yang sambil mengibaskan tangannya kearah mayat mayat yang bergelimpangan di atas tanah.
Seberkas cahaya putih menyambar kearah mayat itu.
Seketika mayat mayat itu hancur menjadi abu tak bersisa lagi.
"Lapor yang mulia pangeran, jendral Watobi dan Toba Chen telah tiba.."
ucap prajurit yang tadi di tugaskan oleh Fei Yang sambil berlutut.
Dia adalah prajurit yang ditugaskan untuk pergi menjemput jendral Toba Chen dan Watobi di penjara kota.
"Bagus, kamu berdirilah dan kembali ke barisan mu.."
ucap Fei Yang sambil membantu membangunkan prajurit tersebut.
Setelah itu Fei Yang sambil tersenyum lebar, melangkah menghampiri kedua jendral, yang sedang berlutut memberi hormat kepada nya.
"Jendral berdua bangunlah tak perlu peradatan, maafkan Fei Yang yang terlambat bertindak.."
"Sehingga Jendral berdua banyak menderita susah di penjara.."
ucap Fei Yang merasa tidak enak hati.
Fei Yang menepuk pundak kedua Jendral itu menggunakan energinya memeriksa kondisi kesehatan kedua jendral itu.
Fei Yang tersenyum puas saat merasa kedua jendral itu dalam keadaan baik baik saja.
"Pangeran jangan khawatir, semua ini bagian dari rencana Nenek Ratu Halimah.."
"Kami berdua selain makan cukup tidur puas tidak ada hal yang di buat susah.."
"Nenek ratu diam diam selalu mengirim orang untuk memeriksa keadaan dan mengirimkan makanan bergizi untuk kami.."
ucap kedua jendral itu penuh haru.
Fei Yang menganggukkan kepalanya, dia juga terharu dengan semua tindakan diam diam yang sudah di rencanakan dengan baik oleh neneknya.
Dia yang pernah mencurigai neneknya bersikap pilih kasih, kini merasa sangat menyesal dan bersalah.
Tanpa sadar air bening menetes dari mata nya.
Ratu Sabrina yang berdiri di sebelah suaminya sudah tidak bisa menahan diri untuk menangis sedih dalam pelukan suaminya.
Dia benar benar merasa menyesal telah bersikap tidak sopan kepada Ibu mertuanya.
Tapi ibu mertua nya selama ini selalu memilih diam menelan semuanya seorang diri demi hari ini.
Dia tidak pernah sekalipun membantah ataupun menegur sikapnya.
Raja Li Yuan Ming sendiri juga berlinang airmata sambil melirik kearah kereta yang berisi jasad ibunya.
"Jendral berdua, aku membutuhkan kalian, untuk membantu mengurus pemakaman dan acara perkabungan, yang layak untuk nenek ku, nenek ratu Halimah.."
"Apa yang terjadi ?"
tanya kedua jendral itu terkejut.
Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Ini salah ku, karena aku nenek jadi korban.."
"Cerita nya panjang, bila ada waktu nanti aku akan bercerita."
"Situasi saat ini mendesak, sebaiknya kalian cepat bantu aku mengurus pemakaman nenek. "
Kedua jendral itu dengan wajah tertunduk sedih menganggukkan kepalanya, mereka kemudian bergegas pergi menghampiri kereta Nenek ratu.
Setelah membagi tugas, Fei Yang menghampiri kedua orang tua nya dan berkata,
"Ayah ibu kalian berdua kembali lah ke istana, di sini segala sesuatu nya, serahkan saja kepada ku.."
Raja dan Ratu menatap putra dengan bangga,
"Baiklah nak,.. kami kembali dulu..kamu berhati hati lah.."
"Bila memerlukan bantuan ibu, suruh saja bawahan mu menghubungi ibu.."
"Ayah mu baru sembuh, ibu akan menemaninya lebih dulu.."
ucap Ratu Sabrina sambil menepuk lembut lengan putranya.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Ibu tenang saja, invasi Liao bukan masalah..'
Setelah memberikan senyum menenangkan,. Fei Yang pun melayang menuju puncak benteng kota melakukan inspeksi.
Dari puncak menara sepasang mata Fei Yang yang tajam melihat dari kejauhan sana debu mengepul membumbung tinggi ke udara.
Pendengaran nya yang tajam juga mendengar derap langkah pasukan berkuda.
Fei Yang memperkirakan pasukan yang datang tidak kurang dari 500.000.
Di antara pasukan itu Fei Yang mengenali dua orang adalah Agoda dan ayahnya raja Sabutai.
Sedangkan orang yang satu lagi yang berada di sisi kanan raja Agoda adalah seorang pria yang mengenakan topeng besi.
Fei Yang memperkirakan orang ini kemungkinan besar adalah Li Yuan Hao pamannya.
Melihat musuh datang dengan kekuatan penuh dan kecepatan tinggi, kelihatannya musuh sudah yakin akan bisa merebut Yin Chuan dengan mudah, selanjutnya mereka ingin langsung menarget Lan Zhou.
Fei Yang tersenyum dingin, lalu dia pun melayang turun menghampiri Guo Si dan Li Jue.
"Musuh hampir tiba, kalian berdua bersiaplah memimpin pertahanan."
"Tanpa instruksi ku, tidak boleh ada pasukan yang keluar dari benteng."
"Kalian mengerti..!?"
"Kami mengerti pangeran,.."
"Siap di laksanakan, Kami akan jaga benteng dengan taruhan nyawa kami.."
"Bagus.."
"Aku pergi dulu.."
ucap Fei Yang langsung melayang ke udara, hingga menghilang di balik awan.
Kedua jendral itu hanya bisa menatap kagum dan menggelengkan kepala mereka.
Akan sulit di percaya, bila tidak menyaksikan sendiri kemampuan yang di miliki oleh pangeran junjungan mereka ini.
Fei Yang langsung terbang mendekati pasukan yang sedang bergerak cepat itu.
Mereka sedang melewati lautan Padang gurun, Fei Yang mulai mengerahkan kekuatan badai alam semesta.
Sehingga angin berputar putar membawa lautan pasir terbang keangkasa datang mengepung pasukan Liao dari segala penjuru.
"Badai topan,..!!"
teriak pasukan Liao panik.
Mereka semua pucat tidak tahu harus berbuat apa, menghadapi gejala alam yang tidak mungkin di lawan oleh mereka.
"Dia ada di sini.."
ucap pria bertopeng besi dengan suaranya yang sedingin es.
Badai pasir yang di ciptakan Fei Yang mulai menyapu sebagian pasukan Liao.
Pasukan Liao dan kuda kuda mereka yang naas, mulai ada yang tersedot naik mengapung di udara.
Mereka hanya bisa berteriak penuh ketakutan.
Si topeng besi melakukan gerakan mudra dan merapalkan sesuatu, lalu dia mendorongkan kedua telapak tangannya menghadap keatas.
Muncul sebuah diagram kuno yang di hiasi sembilan batu warna warni, dengan bagian tengah ada sebuah huruf kuno yang artinya adalah raja.
Diagram itu naik keangkasa berputaran semakin lama semakin lebar, sinar yang di keluarkan oleh diagram itu berhasil meredam badai topan yang sedang berlangsung.